Jika seorang penjual mengatakan sebuah buku jualannya bagus, wajar saja karena dia sedang menjual. Mana mau dia menyebut jelek. Dia hanya ingin bukunya laku.
Tapi saya mengatakan buku ini bagus dengan sebenarnya. "Rembulan Ungu". Saya membacanya, kemudian tenggelam ke dalam aliran cerita, pulang ke masa silam, ke masa-masa Kerajaan Mataram. Bersama Panjalu, melesat kencang menerobos hutan-hutan, naik rakit menyeberangi Sungai Opak, dan merasakan tegangnya pertarungan antara pendekar dan golongan hitam.
Saya terpesona dengan orang tua bernama Panembahan Kajoran. Saat Suragedug, pendekar bangkotan dari dunia hitam hendak membinasakan Panjalu dan temannya, Panembahan Kajoran datang. Hanya dengan menembangkan kidung "Rumeksa Ing Wengi" dari balik semak belukar, sihir Suragedug balik melukai dirinya.
Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh ayu luputa ing lara
Luputa bilahi kabeh
Jin setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Miwah pagawe ala
Gunane wong luput
Geni atemahan tirta
Maling adoh tan wani perak ing wami
Tuju duduk pan sirna
Ada nyanyian di tengah malam
Keteguhan menghilangkan penyakit
terhindar dari kematian
Jin dan setan tak ada yang mau
teluh tak berani mendekat
Juga pekerjaan kotor
Guna-guna akan meleset
Api berubah jadi air
Pencuri menjauh tak berani mendekat
Santet jahat akan sirna...
Telah lama saya mendengar buku ini dari seorang teman. Seperti saya, dia pencinta buku juga. Mulanya dari bazar dia membeli berbagai buku karya penulis lokal dan terjemahan, tapi buku yang benar-benar menariknya hanyalah buku-buku karya penulis lokal--buku-buku tentang kisah dari nusantara; Buku-buku yang menguraikan sejarah dalam bentuk cerita; Novel-novel yang diangkat dari sejarah.
Antara lain dia menceritakan buku bagus berjudul "Harisbaya, Bersuami Dua Raja". Dia menceritakan buku itu panjang lebar, kalau tak salah bahkan sampai tamat, termasuk peperangannnya. Itu pertanda buku yang dibacanya betul-betul membekas. Dia juga menceritakan buku lainnya, yaitu novel "Gadis Paris van Java".
Antara lain dia menceritakan buku bagus berjudul "Harisbaya, Bersuami Dua Raja". Dia menceritakan buku itu panjang lebar, kalau tak salah bahkan sampai tamat, termasuk peperangannnya. Itu pertanda buku yang dibacanya betul-betul membekas. Dia juga menceritakan buku lainnya, yaitu novel "Gadis Paris van Java".
Namun satu buku yang belum diceritakannya adalah buku "Rembulan Ungu". Mulanya saya temukan buku ini di perpustakaan, sempat pegang, tapi belum baca. Sampai kemudian kerja ke kota, kembali menemukan buku ini di bazar, saya beli, dan beberapa lama di lemari terbiarkan. Sampai akhirnya suatu ketika saya pulang, membawa buku itu buat mengisi waktu selama perjalanan. Buka dan membaca, dan ternyata menarik. Dari halaman ke halaman, terus tenggelam dan semakin tenggelam. Masuk ke dalam cerita bertulangn bersama para tokohnya. Penasaran bagaimana nasib cinta Panjalu selanjutnya, akankah Oyi, putri cantik berkebangsaan China menjadi miliknya, atau malah diperistri putra mahkota Amangkurat, atau bahkan menjadi selir Amangkurat, sang raja lalim yang suka seenaknya menyalurkan syahwat?
Anda yang penasaran, bisa segera memesan buku itu dan membacanya.

No comments:
Post a Comment