Langsung menohok ke jantung permasalah, tidak lari dulu sana-sini membuat perut mual, apalagi pake bersajak-sajak pemicu sakit kepala, begitulah buku yang ingin saya ceritakan. Tidak seperti tulisan saya yang kalau bercerita, lebay, sana-sini dibahas di awal, tengahnya amburadul dengan ujung tak jelas.
Buku ini tidak!
Buku ini tahu selera sebagian besar pembaca!
Sebagian besar pembaca tidak mau diajak pembukaan berlama-lama. Sebagian besar pembaca adalah manusia-manusia yang tidak sabaran, yang jika mereka nonton ke bioskop, mereka tak suka dengan narasi film berlama-lama, yang kalau mereka mengikuti acara, tidak suka dengan sambutan terlalu panjang.
Sebagain besar pembaca adalah orang-orang yang lebih suka to the point.
Dan buku ini mengeti bagaimana bersikap.
"Kini, setelah dua puluh tahun lebih tidak bertemu dan enam belas tahun pernikahanku dengan Bang Firman, Darma datang lagi menghiasi hari-hariku. Cinta monyet masa remaja kembali tumbuh. Pertemuan demi pertemuan kami jalani bersama, tentu saja tanpa sepengetahuan Bang Firman dan anak-anak."
Separagraf awal yang langsung menyeret pembaca ke dalam inti cerita. Itu bagian awal dari kisah "Cinta dan Penyesalan"
Sambil menunggu nasi goreng matang, buku ini saya buka dan baca. Sekeliling ramai tak menjadi halangan. Jenuh menunggu nasi goreng matang, tahu-tahu Si Mas Tukang Nasgor sudah menyodorkan keresek buat saya bawa pulang.
Sebenarnya satu bagian paling seru dalam kisah rumah tangga adalah tentang perceraian. Maaf, saya tidak bermaksud menyebut baiknya perceraian. Karena menceritakan serunya masalah perceraian bukan berarti menceritakan perceraian itunya saja. Bukan berarti menceritakan perpisahan suami istri. Menceritakan serunya perceraian berarti juga menceritakan rumah tangga yang dibayang-bayangi perceraian. Rumah tangga di ambang kehancuran, ketika suami istri samas-sama berusaha berjuang menyelamatkan rumah tangganya yang sedang berguncang karena berbagai hal.
Kisah seorang istri yang suaminya entah kenapa begitu asyik dengan gadget. Semula kecurigaan berusaha dia padamkan, namun tak tahan, suatu malam, setelah pura-pura tidur, dia ikuti suaminya yang naik tangga ke lantai atas. Ngobrol dengan seseorang lewat telfon, entah dengan siapa... ah kalau cerita ini saya teruskan, nanti Anda malah tidak tertarik membaca bukunya.
Jangan Bercerai Bunda, terbitan PT. Asma Nadia sudah sangat khas dengan bahasanya yang memikat karena selalu mengedapankan pengeditan ketat. Pengeditan yang sengaja dilakukan, buat memenui dahaga pembaca akan bacaan indah mencekam, namun mengandung kebenaran dan manfaat.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Ketika orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam tulisan, saya berlomba menjadi yang terburuk. Ketika orang berlomba berusaha memperli...
-
Kita tidak bisa menyebut sebuah nama ketika pikiran lupa Ilmu datang ke dalam pikiran kita oleh Allah, dan Dia bisa menghilangkannya kapan...
No comments:
Post a Comment