Wednesday, February 3, 2016

BUKU JOMBLO TAPI HAFAL PANCASILA

Tidak tanggung-tanggung, setelah melihat bukunya murah, saya langsung beli banyak. Sampai-sampai, tumpukan buku bazar itu berlubang di tengah.

Sudah lama saya mau buku ini. Tertarik setelah membaca blog dan berbagai testimoni, juga setelah setiap kali ke Gramedia saya buka dan baca sekilas-sekilas. Lucu-lucu mengenaskan, tidak membosankan, kreatif. Ndeso, katro, tapi berkualitas.

Ide tulisan didapat dari segala hal.

Kepada seorang teman kerja minta dibelikan, dia malah sebal.

"Apa sih Dan!" dengusnya.

"Emang gue orang tuamu?" mungkin begitu kalau dia teruskan.

Untung saja teman lain beli, jadi saya bisa pinjam. Dibaca di jalan, di kendaraan, di warung sudut pasar saat jajan. Buku ini tak kalah nikmat dari bakwan.

JOMBLO TAPI HAFAL PANCASILA, judulnya.

Beberapa kali datang ke toko melihat buku ini, tapi ya karena banyak buku lain obralan, saya lebih suka buku murah, yang harganya obralan. Depok surganya buku mudah deh kayaknya. Harga buku dibanting bukan sebab tidak bagus. Buku itu asli, bukan bajakan, masih bersegel, tapi karena... entahlah, saya tidak tahu.

Semula saya kira, JOMBLO TAPI HAFAL PANCASILA akan tetap di rak buku mahal. Rupanya tidak. Mungkin karena, jarang orang tahu bagusnya, jadi yang beli jarang.

Padahal, Agus Mulyadi sudah dipromosikan di TV. Beberapa kali diundang berbagai acara. INI TALKSHOW dan BUKAN 4 MATA, setahu saya.

Kenapa saya tertarik kepada buku ini?

Judulnya.

Haha.

JOMBLO TAPI HAFAL PANCASILA.

So what? Gitu loh!

JOMBLO tapi HAFAL PANCASILA. Trus apa hubungannya coba...


Tapi itulah kreativitas. Agus Mulyadi emang bisa. Dia tahu nilai humor dari hal-hal sederhana. Susunan kata judul itu menunjukkan karakter tulisannya. Humor tapi berisi.


Dia membawa warna lokal. Banyak menyelipkan kata Bahasa Jawa. Tapi tetap, pembaca yang mengerti Bahasa Indonesia mudah menangkap. Dia bercanda, tapi intelek.

Kelebihan lain, bahasa tulisanya itu lancar. Mungkin dipengaruhi kebiasaannya menulis blog ditambah keranjingannya baca buku. Sekarang tulisannya banyak bersebaran di media online terkenal.


Dia menulis keseharian, dengan gaya humor, tapi mendalam.

Kadang mengawali tulisannya dengan bahasa sangat ilmiah, dengan gaya kaum intelektual, tapi ke sananya, yang dia bicarakan hal sederhana. Lalu pembaca berhaha-hehe sendiri karena geli.

"Si penulis mampu keluar dari mainstream tulisan humor model anak muda metropolis yang menurut saya hanya mampu membuat tawa tapi gagal memberi makna. Lucu tapi tidak norak, spontal tapi tidka dangkal, cari tapi tidak asal." (Puthut EA, Penulis)

"Guyonan ringan, gurih, dan cerdas tersaji dalam buku ini. Gaya penulisan khas ala Gus Mul membuat tiap cerita selalu menarik untuk dibaca." kata Didi Syafirfi, wartawan merdeka.com."

Memang benar.


Dia bercerita apa saja, dan selalu menarik. Memang beda ya tulisan seorang yang rajin menulis dengan yang jarang. Alirannya lebih deras dan entah kenapa dibacanya enak. Beberapa kali saya baca tulisan karya blogger, tidak tahu kenapa tulisannya rata-rata renyah dikunyah.

Kesehariannya di rumah, pengalaman lucu dengan bapaknya saat kesetrum baju menjadi cerita haru tetapi lucu.

Singkatnya cerita, baju Si Bapak digelar pada gantungan kawat, trus dicantelkan pada lampu yang dipasang di dinding dengan posisi tegak lurus. Ya jelas, kawat itu induktor, baju basah berair juga induktor. Kena kulit Si Bapak teriak.

==========

"Ono opo to Pak?" tanya saya kepada Bapak.

"Ini Gus, Bapak kesetrum, kaget tenan!" jawab Bapak singkat.

===========

Sudah ah, itu cuplikannya saja. Saya gak bisa naha. Tiap kali baca itu mau ketawa, entah kenapa.

Agus juga bercerita tentang temannya. Punya geng, namanya Geng Koplo, seperti preman, mereka bertato kecuali Agus. Uniknya, saat ngobrol cita-cita, unik dan lucu. Kebo misalnya, punya cita-cita ingin menjadi sales bumbu dapur. Kenapa? Ternyata punya alasan luar biasa, yang filosofis dan sangat menyentuh.

Kucing-kucingnya di rumah, mainan-mainan jaman dulu, buku RPUL, bubur sayur, dan yang paling sering dia sebut-sebut, adalah nasibnya yang masih menjomblo.

Gak apa-apa Jomblo, yang penting hafal pancasila.

Masih banyak dari buku ini yang ingin saya bicarakan, tapi kali ini, saya cukupkan dulu sekian! Mau baca dulu!


No comments:

Post a Comment

Mau Betulin Hape