Tadinya saya tidak mau tahu apa itu Mukidi. Lewat di beranda, biarkan saja lewat. Tapi setelah seorang teman facebook menanyakannya, saya jadi ikut penasaran.
Jadi saya googling di yahoo.
Mukidi ternyata cuma seorang tokoh rekaan dalam cerita humor. Mewakili kalangan katro, terbelakang dan ketinggalan jaman. Dibuat oleh Soetantyo, pria kelahiran 7 Februari 1954, dan sekarang viral di berbagai social media. Whatsap, BBM, dan facebook.
Mukidi bertetangga dengan Jaya dan mereka tak pernah akur
Jaya membeli televisi, Mukidi panas membeli televisi
Jaya beli motor, Mukidi ikut beli motor kreditan
Menjelang agustusan, Jaya ngecet rumahnya dengan warna merah putih
Mukidi tak mau kalah, dia pun ngedet rumahnya dengan warna merah putih
Jaya memasang spanduk besar, "INDONESIA TETAP JAYA."
Mukidi panas, dia pun bikin spanduk lebih besar lagi, "INDONESIA TETAP MUKIDI"
Yang barusa saya tulis tidak persis dengan cerita Mukidi aslinya, tapi intinya tetap ke situ, humor konyol yang ditimbulkan oleh perasaan iri, dengki.
Monday, August 29, 2016
Sunday, August 28, 2016
TIPS SUKSES MENULIS DARI PENULIS TIDAK SUKSES
Orang tidak sukses berbagi tips sukses itu perbuatan menggelikan. Saya bukan seorang yang sukses di dunia tulis menulis, maka sebuah tindakan menggelikan saat saya berbagi tips sukses menulis.
Ini saya tulis sekedar persediaan saja, bila ada orang bertanya bagaimana trik saya menulis, maka jawaban ini akan langsung saya berikan.
Bagaimana saya menulis?
Inilah yang saya lakukan.
Saya hanya berusaha menikmati hidup saya, apa pun yang terjadi kemudian menuliskannya.
Sejak dulu, saya menganut prinsip menulis seenaknya, dengan alasan, apa yang enak saya tuliskan, akan enak pula dibaca orang.
Jika orang bertanya pada saya bagaimana cara terbaik menulis, saya hanya mempunyai jawaban,
"Menulislah dengan seenaknya, lalu nanti baca ulang, bagian-bagian yang tidak enak, perbaiki sampai bisa dibaca dengan enak."
Saya tidak suka yang susah-susah, saya kurang senang yang rumit-rumit. Semua ingin mudah, tidak perlu banyak pikiran, tidak perlu banyak rumus, tidak perlu banyak pikiran. Sebab ternyata, para penulis besar yang kini karyanya dinikmati banyak orang, mereka tidak terlalu punya banyak teori dalam menulis. Dengan so tahu saya mengatakan, mereka itu pasti menulis dengan seenaknya. Dan karena mereka menulis dengan seenaknya, maka saat sampai ke tangan saya, enak pula saya membacanya.
Jika ingin tulisan anda bagus, meresap, dan masuk ke hati orang, dan enak dibaca, nikmati saja hidup Anda, kemudian tuliskanlah. Tetap bahagialah apa pun yang terjadi, jangan lupa menuliskan dan mengambil hikmahnya.
Friday, August 26, 2016
PEMBELI PUN GAK BOLEH BOHONG
Bukan cuma penjual yang berpotensi bohong. Pembeli pun bisa. Saya misalnya tadi pagi, membeli buah, jeruk saya masukkan ke dalam keresek banyak-banyak, dan berikan pada si ibu tua buat menimbangnya. Dia bilang satu kilo setengah. Saya mau satu kilo saja. Ibu tua berkata, dia akan kasih murah, dua puluh lima ribu rupiah untuk satu kilo setengah jeruk ditambah pepaya. Saya tetap mau satu kilo saja dengan alasan uangnya gak cukup.
"Cuma bawa segini," sambil memperlihatkan lembaran hijau, dua puluh ribu.
"Oh ya sudahlah tidak apa-apa. Situ kan sering ke sini, biar nanti beli lagi."
"Jadi boleh Bu dua puluh ribu sama pepaya?"
"Ya boleh."
Perasaan bersalah muncul, dan ingin jujur, sebenarnya uang yang saya bawa lebih dua puluh ribu. Ada sepuluh ribuan lagi sudah lusuh, "Tapi Bu ini sebenarnya ada uang lagi."
"Sudah gak papa!"
"Kalu semangka berapa?"
"Lima belas."
"Ada yang sepuluh ribu tidak Bu?"
"Paling bisa tiga belas."
Saya habiskan saja uang buat beli semangka. Menebus perasaan bersalah.
Pulang dari pasar rempong, bawa pepaya besar, jeruk sekilo setengah, semangka, semuanya dibawa dalam kantong keresek transparan, lewat keramaian, lewat samping hotel, lewat parkiran.
Hadeuh, ibu-ibu pulang belanja!
"Cuma bawa segini," sambil memperlihatkan lembaran hijau, dua puluh ribu.
"Oh ya sudahlah tidak apa-apa. Situ kan sering ke sini, biar nanti beli lagi."
"Jadi boleh Bu dua puluh ribu sama pepaya?"
"Ya boleh."
Perasaan bersalah muncul, dan ingin jujur, sebenarnya uang yang saya bawa lebih dua puluh ribu. Ada sepuluh ribuan lagi sudah lusuh, "Tapi Bu ini sebenarnya ada uang lagi."
"Sudah gak papa!"
"Kalu semangka berapa?"
"Lima belas."
"Ada yang sepuluh ribu tidak Bu?"
"Paling bisa tiga belas."
Saya habiskan saja uang buat beli semangka. Menebus perasaan bersalah.
Pulang dari pasar rempong, bawa pepaya besar, jeruk sekilo setengah, semangka, semuanya dibawa dalam kantong keresek transparan, lewat keramaian, lewat samping hotel, lewat parkiran.
Hadeuh, ibu-ibu pulang belanja!
Sunday, August 21, 2016
TINGGALKAN BANGKU KULIAH
Kuliah diadakan para elit supaya masyarakat tunduk. Mereka suapkan materi kuliah sekemauan mereka agar kita telan bulat-bulat. Supaya nantinya kita mengikuti apa kemauan mereka. Sudah begitu, kita pun harus bayar.
Mereka gembor-gemborkan pentingnya kuliah. Sebab, kalau orang dibiarkan belajar tanpa sekolah, mereka bisa menjadi orang jenius. Einstein keluar dari kampus, karena pelajaran kampus itu tidak cocok buatnya. Dia mau fokus. Maka dia memilih keluar. Belajar sendiri, melakukan penelitian sendiri, maka dia menjadi orang jenius.
Kalau semakin banyak orang jenius, para elit bisa terancam, Orang bawah bisa menyaingi mereka. Kita bisa lebih kaya dari mereka. Pengaruh kita bisa lebih besar dari mereka, Mereka mau orang-orang seperti kita jangan sampai pintar, karenanya mereka paksa otak kita memakan pemikiran basi rancangan mereka, supaya nantinya pasrah menjadi budak-budak mereka.
Sejarah memperlihatkan kepada kita banyak orang jenius dibunuh. Galileo, Copernicus, Socrates. Merekan berpikir, kemudian mendapatkan penemuan baru, diumumkan kepada masyarakat, dan ternyata bertentangan. Merekapun dibunuh. Malah yang saya gak nyangka, Antoine Lavoisier, yang waktu sekolah namanya sering saya temukan di buku kima, sekarang baru tahu ternyata dia meninggal dihukum pancung. Dibaringkan dalam keadaan terikat, kemudian pisau guillotine jatuh memenggal kepalanya hingga lepas.
Sadis sekali pemeritahan. Ya karena mereka tidak suka dengan orang-orang jenius. Padahal semasa hidup, kecerdasannya dia abdikan buat membantu penertiban admistrasi negara. Dia juga mewariskan banyak pemikiran dan penemuan di bidang sains. Tapi saat orang minta mempertimbangkan jasa-jasanya itu, si hakim menjawab, "REPUBLIK TIDAK BUTUH ORANG-ORANG JENIUS."
Memang bener. Pemerintah hanya butuh orang-orang yang siap tunduk, manut, menjadi budak-budak uang. Yang bekerja demi uang, demi geji, demi pensiunan, bukan demi mengekspresikan dan memaksimalkan bakat dan kemampuan diri yang dianugerahkan Allah.
Mereka gembor-gemborkan pentingnya kuliah. Sebab, kalau orang dibiarkan belajar tanpa sekolah, mereka bisa menjadi orang jenius. Einstein keluar dari kampus, karena pelajaran kampus itu tidak cocok buatnya. Dia mau fokus. Maka dia memilih keluar. Belajar sendiri, melakukan penelitian sendiri, maka dia menjadi orang jenius.
Kalau semakin banyak orang jenius, para elit bisa terancam, Orang bawah bisa menyaingi mereka. Kita bisa lebih kaya dari mereka. Pengaruh kita bisa lebih besar dari mereka, Mereka mau orang-orang seperti kita jangan sampai pintar, karenanya mereka paksa otak kita memakan pemikiran basi rancangan mereka, supaya nantinya pasrah menjadi budak-budak mereka.
Sejarah memperlihatkan kepada kita banyak orang jenius dibunuh. Galileo, Copernicus, Socrates. Merekan berpikir, kemudian mendapatkan penemuan baru, diumumkan kepada masyarakat, dan ternyata bertentangan. Merekapun dibunuh. Malah yang saya gak nyangka, Antoine Lavoisier, yang waktu sekolah namanya sering saya temukan di buku kima, sekarang baru tahu ternyata dia meninggal dihukum pancung. Dibaringkan dalam keadaan terikat, kemudian pisau guillotine jatuh memenggal kepalanya hingga lepas.
Sadis sekali pemeritahan. Ya karena mereka tidak suka dengan orang-orang jenius. Padahal semasa hidup, kecerdasannya dia abdikan buat membantu penertiban admistrasi negara. Dia juga mewariskan banyak pemikiran dan penemuan di bidang sains. Tapi saat orang minta mempertimbangkan jasa-jasanya itu, si hakim menjawab, "REPUBLIK TIDAK BUTUH ORANG-ORANG JENIUS."
Memang bener. Pemerintah hanya butuh orang-orang yang siap tunduk, manut, menjadi budak-budak uang. Yang bekerja demi uang, demi geji, demi pensiunan, bukan demi mengekspresikan dan memaksimalkan bakat dan kemampuan diri yang dianugerahkan Allah.
Friday, August 19, 2016
ADA APA DENGAN BAWANG MERAH?
Ada apa sepagi ini menelfon, Istriku. Kamu bilang semuanya salah bawang merah, tapi mengapa dia sampai membuatmu tersedu-sedu. Kamu berdusta, aku tidak percaya. Irisan bawang merah bisa melelehkan air mata, tapi tak pernah kudengar dia sampai bisa membuat seorang istri sesenggukan.
Katakan saja yang sebenarnya, tidak perlu berdusta, tidak perlu kau tutup-tutupi. Bukankah terus terang dan saling terbuka selama ini telah menjadi pengikat kita.
Apa? Kau membaca status facebookku?
Apa? Kau cemburu di sana ada orang memberikan komentar dengan tanda I Love You?
Oh, haha.
Maafkan tawaku, Istriku
Ini sama sekali bukan tawa bahagia di atas kesedihanmu,
Ini tawa terima kasih
Kamu telah membuatku bahagia
Karena dicemburui seperti ini pertanda dicintai
Kamu semakin muram dan diam Sayangku, oh sekarang malah berpaling.
Hai, inilah saatnya aku akting adegan dalam sinetron, meniru seorang suami berkata kepada istrinya
"Dengarkan dulu penjelasanku!"
Istriku, kenapa semakin membisu? Bicaralah.
Baiklah, aku serius...
Mereka memberikan komentar berdasarkan pengalaman mereka. Mereka menyatakan suka bukan berarti karena suka kepada saya. Siapa mereka, siapa saya. Kami tidak saling kenal. Suamimu ini orang kuper yang sehari-harinya diam dalam ruangan, jarang keluar seperti orang lain memperluas pergaulan. Cuma berani berkata di sosial media sedang berkata langsung di depan orang banyak sangat pasti akan gemetaran. Jadi tak mungkinlah mereka suka sama saya.
Mereka suka kepada status saya karena status saya relevan dengan apa yang sekarang mereka rasakan. Antara lain yang suaminya jauh di belahan dunia sana, sedang berlayar mencari nafkah dalam pelayaran kapal pesiar, antara lain yang suaminya jauh di belahan dunia sana, sedang kerja di kilang minyak sebuah negara Arab, antara lain yang suaminya kerja sebagai tukang tembok jauh di sana di Brunei Darussalam... maka membaca statusku tentang sebuah cinta berjarak seperti yang sedang kita rasakan, sangat pasti itu sangat pas dengan kondisi diri dan suaminya sekarang. Cinta mereka dipisahkan jarak, maka saat mereka membaca tulisan saya, mereka rasakan tulisan saya sedang membaca kisah mereka.
Mau kisah tentang cemburu yang lebih seru? Mau kisah cemburu yang lebih berhikmah? Baca buku CATATAN HATI YANG CEMBURU!
Katakan saja yang sebenarnya, tidak perlu berdusta, tidak perlu kau tutup-tutupi. Bukankah terus terang dan saling terbuka selama ini telah menjadi pengikat kita.
Apa? Kau membaca status facebookku?
Apa? Kau cemburu di sana ada orang memberikan komentar dengan tanda I Love You?
Oh, haha.
Maafkan tawaku, Istriku
Ini sama sekali bukan tawa bahagia di atas kesedihanmu,
Ini tawa terima kasih
Kamu telah membuatku bahagia
Karena dicemburui seperti ini pertanda dicintai
Kamu semakin muram dan diam Sayangku, oh sekarang malah berpaling.
Hai, inilah saatnya aku akting adegan dalam sinetron, meniru seorang suami berkata kepada istrinya
"Dengarkan dulu penjelasanku!"
Istriku, kenapa semakin membisu? Bicaralah.
Baiklah, aku serius...
Mereka memberikan komentar berdasarkan pengalaman mereka. Mereka menyatakan suka bukan berarti karena suka kepada saya. Siapa mereka, siapa saya. Kami tidak saling kenal. Suamimu ini orang kuper yang sehari-harinya diam dalam ruangan, jarang keluar seperti orang lain memperluas pergaulan. Cuma berani berkata di sosial media sedang berkata langsung di depan orang banyak sangat pasti akan gemetaran. Jadi tak mungkinlah mereka suka sama saya.
Mereka suka kepada status saya karena status saya relevan dengan apa yang sekarang mereka rasakan. Antara lain yang suaminya jauh di belahan dunia sana, sedang berlayar mencari nafkah dalam pelayaran kapal pesiar, antara lain yang suaminya jauh di belahan dunia sana, sedang kerja di kilang minyak sebuah negara Arab, antara lain yang suaminya kerja sebagai tukang tembok jauh di sana di Brunei Darussalam... maka membaca statusku tentang sebuah cinta berjarak seperti yang sedang kita rasakan, sangat pasti itu sangat pas dengan kondisi diri dan suaminya sekarang. Cinta mereka dipisahkan jarak, maka saat mereka membaca tulisan saya, mereka rasakan tulisan saya sedang membaca kisah mereka.
Mau kisah tentang cemburu yang lebih seru? Mau kisah cemburu yang lebih berhikmah? Baca buku CATATAN HATI YANG CEMBURU!
Thursday, August 18, 2016
BUKU ORANG GILA NULIS
Buku ini kuberi judul...
ORANG GILA NULIS
Tidak perlu berharap terlalu banyak dari bukuku, semisal ingin mendapatkan pencerahan, menjadi lebih sejahtera, atau lebih bergairah menjalani hidup. Tidak perlu, karena buku yang kususun ini asbun. Kamu lihat kubagikan dalam bentuk buku PDF yang bisa dicopy siapa saja, jadi sama sekali tidak ada harganya.
Karena buku ini hanyalah buku yang dihasilkan oleh ORANG GILA NULIS
Terserah kalian mau mengartikan judul itu apa
Apa pun bebas.
Bisa jadi maksudnya buku ini dibuat oleh ORANG GILA yang NULIS
Bisa juga diartikan ORANG yang GILA NULIS.
Namanya juga orang gila, kalau berkata seenaknya, asal ceplos, asal bunyi, dan itulah yang kubagikan dengan karya ini.
Lalu apa gunanya saya bukukan dan sebarkan?
Ya siapa tahu saja ada orangb rajin menelisik jarum di tengah tumpukan jerami, siapa tahu ada orang tekun mencari mutiara di dalam lumpur.
Saya yakin banyak orang lebih suka berpikir positif, yang kepada karya orang lain lebih suka menghargai dan mengambil manfaatnya. Bukan dia tidak tahu mengkritik, tahu betul dia, cuma dia pun sangat tahu cara menempatkannya.
Wednesday, August 17, 2016
FAKTOR PENENTU KEMAJUAN SEBUAH NEGERI
Pagi itu hari libur. Emon dan Icih seperti biasa menghabiskan waktu di depan televisi nonton kartun Doraemon.
"Bosan lihat film kartun terus. Mendingan matikan tivinya ya Cih."
"Iya Kang, setuju."
"Aku lagi mikir, apa membuat sebuah negara jadi maju."
"Kita mau ngobrol Kang?"
"Iya, emangnya kenapa?"
"Tanya jawab kan? Aku pening kalau diajak tukar pikiran."
"Kenapa pusing?"
"Gak ditukar-tukar aja sudah terasa pusing, apalagi kalau pake acara ditukar-tukar."
"Cih, diskusi bisa bikin kita tambah ilmu."
"Hah, nambah ilmu-nambah ilmu buat apa an? Emangnya setelah ilmu nambah bakal jadi apa? Buat tahu doang? Supaya numpuk di kepala?"
"Eh, jangan begitu Icih! Kamu mah tidak berpikir maju jadi orang teh! Dengarkan ya! Kita mah gak tahu nantinya bakal jadi apa, nyari ilmu mah nyari aja, dengan ikhlas, karena diperintahkan dalam agama. Tuh orang lain yang dulunya tekun mencari ilmu, tidak sia-sia, ilmunya berguna."
"Siapa contohnya?"
"Si Tijob, yang mempunya perusahaan apel, waktu kuliah dia belajar huruf-huruf, dia sendiri tidak tahu pengetahuannya itu mau berguna buat apa. Tapi karena ilmu apa pun itu berharga, dia belajar saja dengan sesungguh-sungguhnya. Kan tidak disangka, akhirnya ilmu itu berguna dalam perancangan produk-produk perusahaan apelnya."
"Gak ngarti saya mah, apel kok pake dirancang segala. Apel itu tinggal ditanam, trus dipetik, gak bisa dirancang-rancang, gak bisa dibuat tangan kita."
"Da maksud aku mah bukan apel buah atuh Icih, ini mah hape."
"Sudah ah, aku mau nyuci!"
"Eh Icih dengarkan kalau aku lagi ngomong teh! Saya ini suamimu!"
"Sudah, aku bosan dengernya Kang!"
"Icih!"
"Kang, apa-apaan naik ke atas meja kompor begitu?"
"Diam kamu Icih! Dengarkan suamimu, ternyata faktor yang menentukan maju dan mundurnya suatu bangsa itu bukan karena rasnya. Karena banyak ras tinggal di tinggal dalam wilayah yang sama, tapi dalam satu generasi sejarahnya mereka mencapai kemajuan tapi generasi berikutnya mengalami kemunduran."
"Sudah siam Kang, sabun cuci di mana?"
"Cari sendiri. Apakah kemajuan suatu bangsa disebabkan kekuatan militernya? Tidak juga, sebab ada bangsa yang berhasil menaklukkan dan menjajah bangsa lain, tapi bangsa dan negaranya sendiri tidak ada kemajuan sedang negar yang ditaklukkannya maju pesat."
"Mungkin IPTEK Kang!"
"Nah begitu atuh, tanggapi kalau diajak ngomong teh, jangan diam saja! Malah ngurusin yang lain!"
"Tuh kan Si Akang mah menyebalkan. Saya tanggapi malah nyolot."
"Eeehh diingatkan teh suka melawan kamu mah!"
"Turun Kang, turun!! Nanti tembok bak jebol!"
"Tidak Icih, aku ingin meneruskan ceramahku!! Tadi kata kamu faktor penentunya IPTEK, tidak juga Cih!"
"Buktinya?"
"Ah kamu Icih, istri yang cerdas!"
"Pernah Cih, sebuah negara mengadakan percobaan kepada sekelompok nelayan terbelakang. Mereka diberi alat canggih hasil IPTEk dan diberi keterampilan teknis penggunaannya. Hasilnya mengagumkan, ikan yang mereka dapatkan melimpah, tapi beberapa lama kemudian mereka berhenti bekerja dnegan alaasan perolehan mereka lebih dari cukup untuk hidup beberapa lama, sedangkan sebagian sisanya mereka habiskan untuk berfoya-foya, sehingga kelompok tersebut tidak mengalami kemajuan peradaban. "
"Jadi harus dari mana Kang mulainya?"
"Kamu ingat ayat Al-Qur'an?"
"Aduh, ini deterjen hampir habis Kang!"
"Pake aja seadanya. Kemajuan suatu bangsa dimulai dari mengubah nilai-nilai apa yang menjadi pandangan hidup masyarakatnya. Sesuai ayat Al-Qur'an."
"Tuh kan gak cukup detergennya."
"Begini ayatnya.'Allah tidak akan mengubah suatu kaum sampai kaum itu mengubahb apa yang ada dalam diri mereka.' Di sana ada kata, apa yang ada dalam diri mereka. Seorang ahli tafsir mengatakan, yang ada dalam diri maksudnya, nilai-nilai yang menjadi pandangan hidup, kehendak dan tekad Cih!"
"Tau ah!"
"Eh Si Icih dengarkan atuh! Pakar filsafat Mesir kontemporer, Pak Zaki Najib mengutip hasil penelitian seorang guru besar di Universitas Harvard pada 40 negara berkaitan maju mundur negara itu sepanjang sejarah. Satu faktor utamanya, adalah materi bacaan masyarakatnya. Dua puluh tahun menjelang kemajuan dan kemunduran tersebut, para anak muda dibekali bacaan yang mengantarkan pada kemajuan atau kemundura. Bacaan itu mengubah pandangan hidup mereka, sehingga setelah dua puluh tahun mereka berperan di negerinya dan menjadi penentu kemajuan atau kemunduran."
"Kapan Kang kita punya mesin cuci, saya mah cape ngagesrok terus."
"Gimana Cih ngarti?"
"Enggak. Kalau sudah dibelikan mesin cuci aku baru ngarti."
"Bosan lihat film kartun terus. Mendingan matikan tivinya ya Cih."
"Iya Kang, setuju."
"Aku lagi mikir, apa membuat sebuah negara jadi maju."
"Kita mau ngobrol Kang?"
"Iya, emangnya kenapa?"
"Tanya jawab kan? Aku pening kalau diajak tukar pikiran."
"Kenapa pusing?"
"Gak ditukar-tukar aja sudah terasa pusing, apalagi kalau pake acara ditukar-tukar."
"Cih, diskusi bisa bikin kita tambah ilmu."
"Hah, nambah ilmu-nambah ilmu buat apa an? Emangnya setelah ilmu nambah bakal jadi apa? Buat tahu doang? Supaya numpuk di kepala?"
"Eh, jangan begitu Icih! Kamu mah tidak berpikir maju jadi orang teh! Dengarkan ya! Kita mah gak tahu nantinya bakal jadi apa, nyari ilmu mah nyari aja, dengan ikhlas, karena diperintahkan dalam agama. Tuh orang lain yang dulunya tekun mencari ilmu, tidak sia-sia, ilmunya berguna."
"Siapa contohnya?"
"Si Tijob, yang mempunya perusahaan apel, waktu kuliah dia belajar huruf-huruf, dia sendiri tidak tahu pengetahuannya itu mau berguna buat apa. Tapi karena ilmu apa pun itu berharga, dia belajar saja dengan sesungguh-sungguhnya. Kan tidak disangka, akhirnya ilmu itu berguna dalam perancangan produk-produk perusahaan apelnya."
"Gak ngarti saya mah, apel kok pake dirancang segala. Apel itu tinggal ditanam, trus dipetik, gak bisa dirancang-rancang, gak bisa dibuat tangan kita."
"Da maksud aku mah bukan apel buah atuh Icih, ini mah hape."
"Sudah ah, aku mau nyuci!"
"Eh Icih dengarkan kalau aku lagi ngomong teh! Saya ini suamimu!"
"Sudah, aku bosan dengernya Kang!"
"Icih!"
"Kang, apa-apaan naik ke atas meja kompor begitu?"
"Diam kamu Icih! Dengarkan suamimu, ternyata faktor yang menentukan maju dan mundurnya suatu bangsa itu bukan karena rasnya. Karena banyak ras tinggal di tinggal dalam wilayah yang sama, tapi dalam satu generasi sejarahnya mereka mencapai kemajuan tapi generasi berikutnya mengalami kemunduran."
"Sudah siam Kang, sabun cuci di mana?"
"Cari sendiri. Apakah kemajuan suatu bangsa disebabkan kekuatan militernya? Tidak juga, sebab ada bangsa yang berhasil menaklukkan dan menjajah bangsa lain, tapi bangsa dan negaranya sendiri tidak ada kemajuan sedang negar yang ditaklukkannya maju pesat."
"Mungkin IPTEK Kang!"
"Nah begitu atuh, tanggapi kalau diajak ngomong teh, jangan diam saja! Malah ngurusin yang lain!"
"Tuh kan Si Akang mah menyebalkan. Saya tanggapi malah nyolot."
"Eeehh diingatkan teh suka melawan kamu mah!"
"Turun Kang, turun!! Nanti tembok bak jebol!"
"Tidak Icih, aku ingin meneruskan ceramahku!! Tadi kata kamu faktor penentunya IPTEK, tidak juga Cih!"
"Buktinya?"
"Ah kamu Icih, istri yang cerdas!"
"Pernah Cih, sebuah negara mengadakan percobaan kepada sekelompok nelayan terbelakang. Mereka diberi alat canggih hasil IPTEk dan diberi keterampilan teknis penggunaannya. Hasilnya mengagumkan, ikan yang mereka dapatkan melimpah, tapi beberapa lama kemudian mereka berhenti bekerja dnegan alaasan perolehan mereka lebih dari cukup untuk hidup beberapa lama, sedangkan sebagian sisanya mereka habiskan untuk berfoya-foya, sehingga kelompok tersebut tidak mengalami kemajuan peradaban. "
"Jadi harus dari mana Kang mulainya?"
"Kamu ingat ayat Al-Qur'an?"
"Aduh, ini deterjen hampir habis Kang!"
"Pake aja seadanya. Kemajuan suatu bangsa dimulai dari mengubah nilai-nilai apa yang menjadi pandangan hidup masyarakatnya. Sesuai ayat Al-Qur'an."
"Tuh kan gak cukup detergennya."
"Begini ayatnya.'Allah tidak akan mengubah suatu kaum sampai kaum itu mengubahb apa yang ada dalam diri mereka.' Di sana ada kata, apa yang ada dalam diri mereka. Seorang ahli tafsir mengatakan, yang ada dalam diri maksudnya, nilai-nilai yang menjadi pandangan hidup, kehendak dan tekad Cih!"
"Tau ah!"
"Eh Si Icih dengarkan atuh! Pakar filsafat Mesir kontemporer, Pak Zaki Najib mengutip hasil penelitian seorang guru besar di Universitas Harvard pada 40 negara berkaitan maju mundur negara itu sepanjang sejarah. Satu faktor utamanya, adalah materi bacaan masyarakatnya. Dua puluh tahun menjelang kemajuan dan kemunduran tersebut, para anak muda dibekali bacaan yang mengantarkan pada kemajuan atau kemundura. Bacaan itu mengubah pandangan hidup mereka, sehingga setelah dua puluh tahun mereka berperan di negerinya dan menjadi penentu kemajuan atau kemunduran."
"Kapan Kang kita punya mesin cuci, saya mah cape ngagesrok terus."
"Gimana Cih ngarti?"
"Enggak. Kalau sudah dibelikan mesin cuci aku baru ngarti."
Subscribe to:
Posts (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Saya lebih suka tulisan dengan bahasa ringan tapi mendalam. Tulisan-tulisan Pak Agung misalnya, di buku "Gara-Gara Indonesia" dan ...
-
Deri mengantar gurunya belanja ke kota, membeli pakan ikan. Melewati sebuah rumah makan, Deri heran, "Guru, kenapa si bapak itu makan p...