Friday, August 26, 2016

PEMBELI PUN GAK BOLEH BOHONG

Bukan cuma penjual yang berpotensi bohong. Pembeli pun bisa. Saya misalnya tadi pagi, membeli buah, jeruk saya masukkan ke dalam keresek banyak-banyak, dan berikan pada si ibu tua buat menimbangnya. Dia bilang satu kilo setengah. Saya mau satu kilo saja. Ibu tua berkata, dia akan kasih murah, dua puluh lima ribu rupiah untuk satu kilo setengah jeruk ditambah pepaya. Saya tetap mau satu kilo saja dengan alasan uangnya gak cukup.

"Cuma bawa segini," sambil memperlihatkan lembaran hijau, dua puluh ribu.

"Oh ya sudahlah tidak apa-apa. Situ kan sering ke sini, biar nanti beli lagi."

"Jadi boleh Bu dua puluh ribu sama pepaya?"

"Ya boleh."

Perasaan bersalah muncul, dan ingin jujur, sebenarnya uang yang saya bawa lebih dua puluh ribu. Ada sepuluh ribuan lagi sudah lusuh, "Tapi Bu ini sebenarnya ada uang lagi."

"Sudah gak papa!"

"Kalu semangka berapa?"

"Lima belas."

"Ada yang sepuluh ribu tidak Bu?"

"Paling bisa tiga belas."

Saya habiskan saja uang buat beli semangka. Menebus perasaan bersalah.

Pulang dari pasar rempong, bawa pepaya besar, jeruk sekilo setengah, semangka, semuanya dibawa dalam kantong keresek transparan, lewat keramaian, lewat samping hotel, lewat parkiran.

Hadeuh, ibu-ibu pulang belanja!

No comments:

Post a Comment

Mau Betulin Hape