Pagi itu hari libur. Emon dan Icih seperti biasa menghabiskan waktu di depan televisi nonton kartun Doraemon.
"Bosan lihat film kartun terus. Mendingan matikan tivinya ya Cih."
"Iya Kang, setuju."
"Aku lagi mikir, apa membuat sebuah negara jadi maju."
"Kita mau ngobrol Kang?"
"Iya, emangnya kenapa?"
"Tanya jawab kan? Aku pening kalau diajak tukar pikiran."
"Kenapa pusing?"
"Gak ditukar-tukar aja sudah terasa pusing, apalagi kalau pake acara ditukar-tukar."
"Cih, diskusi bisa bikin kita tambah ilmu."
"Hah, nambah ilmu-nambah ilmu buat apa an? Emangnya setelah ilmu nambah bakal jadi apa? Buat tahu doang? Supaya numpuk di kepala?"
"Eh, jangan begitu Icih! Kamu mah tidak berpikir maju jadi orang teh! Dengarkan ya! Kita mah gak tahu nantinya bakal jadi apa, nyari ilmu mah nyari aja, dengan ikhlas, karena diperintahkan dalam agama. Tuh orang lain yang dulunya tekun mencari ilmu, tidak sia-sia, ilmunya berguna."
"Siapa contohnya?"
"Si Tijob, yang mempunya perusahaan apel, waktu kuliah dia belajar huruf-huruf, dia sendiri tidak tahu pengetahuannya itu mau berguna buat apa. Tapi karena ilmu apa pun itu berharga, dia belajar saja dengan sesungguh-sungguhnya. Kan tidak disangka, akhirnya ilmu itu berguna dalam perancangan produk-produk perusahaan apelnya."
"Gak ngarti saya mah, apel kok pake dirancang segala. Apel itu tinggal ditanam, trus dipetik, gak bisa dirancang-rancang, gak bisa dibuat tangan kita."
"Da maksud aku mah bukan apel buah atuh Icih, ini mah hape."
"Sudah ah, aku mau nyuci!"
"Eh Icih dengarkan kalau aku lagi ngomong teh! Saya ini suamimu!"
"Sudah, aku bosan dengernya Kang!"
"Icih!"
"Kang, apa-apaan naik ke atas meja kompor begitu?"
"Diam kamu Icih! Dengarkan suamimu, ternyata faktor yang menentukan maju dan mundurnya suatu bangsa itu bukan karena rasnya. Karena banyak ras tinggal di tinggal dalam wilayah yang sama, tapi dalam satu generasi sejarahnya mereka mencapai kemajuan tapi generasi berikutnya mengalami kemunduran."
"Sudah siam Kang, sabun cuci di mana?"
"Cari sendiri. Apakah kemajuan suatu bangsa disebabkan kekuatan militernya? Tidak juga, sebab ada bangsa yang berhasil menaklukkan dan menjajah bangsa lain, tapi bangsa dan negaranya sendiri tidak ada kemajuan sedang negar yang ditaklukkannya maju pesat."
"Mungkin IPTEK Kang!"
"Nah begitu atuh, tanggapi kalau diajak ngomong teh, jangan diam saja! Malah ngurusin yang lain!"
"Tuh kan Si Akang mah menyebalkan. Saya tanggapi malah nyolot."
"Eeehh diingatkan teh suka melawan kamu mah!"
"Turun Kang, turun!! Nanti tembok bak jebol!"
"Tidak Icih, aku ingin meneruskan ceramahku!! Tadi kata kamu faktor penentunya IPTEK, tidak juga Cih!"
"Buktinya?"
"Ah kamu Icih, istri yang cerdas!"
"Pernah Cih, sebuah negara mengadakan percobaan kepada sekelompok nelayan terbelakang. Mereka diberi alat canggih hasil IPTEk dan diberi keterampilan teknis penggunaannya. Hasilnya mengagumkan, ikan yang mereka dapatkan melimpah, tapi beberapa lama kemudian mereka berhenti bekerja dnegan alaasan perolehan mereka lebih dari cukup untuk hidup beberapa lama, sedangkan sebagian sisanya mereka habiskan untuk berfoya-foya, sehingga kelompok tersebut tidak mengalami kemajuan peradaban. "
"Jadi harus dari mana Kang mulainya?"
"Kamu ingat ayat Al-Qur'an?"
"Aduh, ini deterjen hampir habis Kang!"
"Pake aja seadanya. Kemajuan suatu bangsa dimulai dari mengubah nilai-nilai apa yang menjadi pandangan hidup masyarakatnya. Sesuai ayat Al-Qur'an."
"Tuh kan gak cukup detergennya."
"Begini ayatnya.'Allah tidak akan mengubah suatu kaum sampai kaum itu mengubahb apa yang ada dalam diri mereka.' Di sana ada kata, apa yang ada dalam diri mereka. Seorang ahli tafsir mengatakan, yang ada dalam diri maksudnya, nilai-nilai yang menjadi pandangan hidup, kehendak dan tekad Cih!"
"Tau ah!"
"Eh Si Icih dengarkan atuh! Pakar filsafat Mesir kontemporer, Pak Zaki Najib mengutip hasil penelitian seorang guru besar di Universitas Harvard pada 40 negara berkaitan maju mundur negara itu sepanjang sejarah. Satu faktor utamanya, adalah materi bacaan masyarakatnya. Dua puluh tahun menjelang kemajuan dan kemunduran tersebut, para anak muda dibekali bacaan yang mengantarkan pada kemajuan atau kemundura. Bacaan itu mengubah pandangan hidup mereka, sehingga setelah dua puluh tahun mereka berperan di negerinya dan menjadi penentu kemajuan atau kemunduran."
"Kapan Kang kita punya mesin cuci, saya mah cape ngagesrok terus."
"Gimana Cih ngarti?"
"Enggak. Kalau sudah dibelikan mesin cuci aku baru ngarti."
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Ketika orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam tulisan, saya berlomba menjadi yang terburuk. Ketika orang berlomba berusaha memperli...
-
Kita tidak bisa menyebut sebuah nama ketika pikiran lupa Ilmu datang ke dalam pikiran kita oleh Allah, dan Dia bisa menghilangkannya kapan...
No comments:
Post a Comment