Monday, April 17, 2017

STAND UP

Mengerjakan sesuatu itu harus dengan perlahan dan penuh ketertiban. Jangan tergesa-gesa sebab tergesa itu bisa menyebabkan kesalahan. Kecuali kalau Anda mempunyai kelihaian seperti saya. Contoh sederhananya saja memakai celana. Tadi saya memakai celana dengan lincah. Hanya dengan beberapa gerakan, celana sudah terpasang. Siap jalan ke meja kerja, terraba oleh tangan, kenapa sakunya menggantung di luar gini ya. Saya lihat, ternyata kebalik.

--------------------------

Saya ini orangnya tidak suka biasa-biasa. Tidak mau seperti orang kebanyakan. Dari dulu ingin menjadi orang luar biasa. Mau lebih hebat dari mereka. Misalnya waktu sekolah, orang lain pulang, saya ikut olah raga beladiri karate, silat, biar jadi jagoan seperti Power Ranger. 

Hari itu mau ujian praktek silat, mau dinilai. Orang lain diam, santai, saya aksi-aksian di kebun samping sekolah, biar kelihatan hebat. 

Kebun itu baru saja dibabat, dibersihkan dari semak belukar dan rerumputan. Tumbuhan-tumbuhan merambat masih berserakan. Saya buat tumbuhan itu jadi tali, trus diikatkan dari pohon kelapa ke pohon jambu mete. Untuk melakukan loncat tinggi. Saya akan melakukan aksi loncat tinggi pake tongkat melawan seorang teman.

Si teman ini badannya pendek. Dengan sebuah tongkat, dia mengambil ancang-ancang, lari, dan meloncat. 

Sempurna! Dia bisa melewati tali dengan baik. 

Hah!!! Badan saya lebih tinggi. SAYA BISA MELONCAT DENGAN LEBIH HEBAT.

Bersiap, mengambil ancang-ancang, lari, dan meloncat dengan sebuah tongkat, dan loncatan saya lebih hebat. Jadi saat melalui tali, kaki saya tersangkut. Terjerat, maka badan jatuh ke bawah tali dan kepala duluan menuju tanah. Itulah hebatnya saya. Teman saya tidak melakukan itu. Dia mah biasa-biasa. 

Malah itu masih kurang hebat. Karena pas mau jatuh ke tanah itu, tangan kiri saya berusaha menahan kepala sampai sikut patah, sendi tulang nyaris lepas. 

Kurang luar biasa apa coba saya? Teman saya tidak mungkin bisa melakukan itu. Anda juga yang membaca ini saya yakin tidak ada yang berani melakukannya.

Saya? Hmmmh, tidak mau meloncat biasa-biasa!

Karena patah, dibawa ke tukang urut. Besoknya, datang lagi ke sekolah dengan penampilan luar biasa! Tangan kiri dibalut kerudung emak dan digantungkan ke leher. Teman sekolah tidak ada yang pake begituan. Saya doang. Saya memang orang hebat luar biasa.


=====


Biar kelihatan gagah dan laki banget, saya mau nulis tentang politik ah.

Kekacauan perekonomian negeri ini diakibatkan pemerintah yang kurang bijak menangani permasalahan. Coba kalau saya yang jadi presiden, dijamin deh lebih amburadul. 

Korupsi masih membudaya dan susah dibuang. Masih banyak pejabat senang mengambil uang yang bukan haknya. Kayaknya menyelesaikan masalah korupsi itu susah banget. Coba kalau saya jadi pejabat? Korupsi itu urusan gampang! Pasti bisa saya selesaikan. Jadi setiap kali saya mendapatkan kesempatan memegang uang, akan saya lakukan kegiatan korupsi sampai selesai. 

Bagaimana mungkin saya tidak korupsi, lihat saja sekarang, jadi rakyat jelata saja suka bicara seenaknya sama orang lain, bagaimana kalau jadi pemerintah, yang merasa punya wewenang dan kekuasaan, pasti akan lebih seenaknya lagi berbicara dan bertindak pada orang lain.

Gimana, sudah bagus belum tulisan berbau politik punya saya?

Kayaknya belum ya. Belum dilengkapi istilah-istilah keren gitu. Saya coba deh.

Penyelesaian ekonomi di negeri ini semakin terdistorsi dengan reboisasi di tingkat milisi dengan musisi. Infrastruktur yang kurang memadai itu diakibatkan oleh sanitasi yang semakin membudaya di kalangan otonomi daerah. Itulah sebabnya fluktuasi keuangan negara yang kurang signifikan mengakibatkan lemahnya daya beli di tingkat marginal.

Kok makin puyeng ya?

Ada yang punya obat cacing?

SI NAI SUDAH PINTAR

Sejak SMA saya sudah mempelajari pengasuhan anak. Ini kegenitan, saat itu sudah ingin menjadi bapak. Sayangnya belum ada yang mau jadi ibu buat anak saya.

Dan butuh waktu lama untuk mencari orang yang mau. Sampai akhirnya ada seorang wanita kampung dari daerah gunung. Dia mau.

Saya menikahinya dalam keadaan tidak saling mengenal. Karena kalau dia sudah kenal saya, bahaya, bisa-bisa menolak, tidak mau menikah dengan saya. Soalnya saya dengan dia punya perbedaan yang sangat prinsipil. Dia suka pria, saya suka wanita.

Diberikan anak cerdas itu kebahagiaan.

Semakin besar, semakin pintar bicara, sudah bisa membaca buku, sudah bisa membaca Al-Qur'an, sudah bisa menasihati orang tua.

Kami makan bersama, dia langsung ngeh saya lupa berdoa, "Bapak kok tidak Allahumma bariklana?"

"Oh iya ya." 

Setelah kencing, dia teriak dari dalam rumah, "Pak, setelahnya siram lagi ya!"dia mendekat, kemudian menceduk air, dan memberi contoh menyiramkan ke kloset, "Begini nih!!"

Dia menguap, tidak menutup mulut, dinasihati ibunya, "Nai, kalau nguap itu tutup, kalau tidak, setan bisa masuk ke mulutmu."

"Setan tuh banyaknya di mulut mamah. Suka marah-marah melulu sama Nai."

Sunday, April 16, 2017

MAIN PLANT SAMA SI NAI

Menjadi orang tua harus dewasa dan bijak. Harus pandai memilihkan permainan buat anak. Jangan terseret arus zaman dengan membiarkan anak main game di handphone, sebaliknya kenalkanlah mereka dengan permainan di alam. Contohnya saya, pulang ke rumah, mengajak anak saya yang baru berusaha 5 tahun itu bermain permainan yang bernuansa alam, yaitu "Plant and Zombie".

"Wah Pak ini lebih besar!" katanya mengagumi iPod yang saya bawa, yang sebelumnya dia main pake hape iPhone kecil.

"Dengan ini kita bisa main bareng. Bapak mengurus tanaman, Nai yang mengumpulkan mataharinya,"

"Ayo!! Asiiiiikkk!"

Sebenarnya itu cuma modus  biar saya tetap bisa main game seru itu.

Saya tengkurap di lantai, dia duduk di samping. Sementara telunjuk saya sibuk bercocok tanam, telunjuk Si Nai menunggu matahari dan jika muncul langsung dia sentuh. "Krulung!!!" terdengar suara bersama tambahnya point.

Tapi mungkin karena bosan, lama-lama jari Si Nai tak hanya menyentuh matahari, tapi juga ikut-ikutan menanam. Saya jadi sebel.

"Heh!! Nai mengumpulkan matahari saja, biar Bapak yang menanam."

"Oh iya."

Zombie semakin banyak, suasana makin sibuk, akibatnya sekarang saya yang lupa. Melihat matahari banyak bermunculan, saya sentuh dengan telunjuk, dan "Krulung!!!" point bertambah.

"Matahari kan bagian Nai! Jangan sama Bapak!!"

"Itu karena Nai malah membiarkan saja tidak mengumpulkannya, jadi Bapak kumpulkan." saya mencari-cari alasan. Padahal sebenarnya lupa.

Lama-lama jadi kacau. Pembagian tugas sudah tidak jelas lagi. Tangan anak usia lima tahun, dan bapak-bapak usia kelapa tiga berlalu-lalang tak karuan. Yang menjengkelkan, kalau tangan Si Nai menyentuh sekop, lalu menyentuh tumbuhan penembak dan akibatnya jadi hilang.

Sudah cape-cape menanam sekarangb malah dihapus. Mana Zombinya sudah banyak lagi. Kalau pohon penembaknya kurang, Si Zombie bisa menyerang otak.

Dan benar saja, otak saya kena Zombie .....

"Aduh!!! Nai mah gak seru! Sudah ah Bapak mah. Silakan Nai bermain sendirian!!"

Dengan jengkel saya tinggalkan, dan membiarkannya main sendirian. Begitulah saat di rumah. Sekarang saya sudah kembali menginap di tempat kerja. Kalau ingat lagi kejadian itu sekarang, tiba-tiba menyesal. Kok saya begitu ya. Kasihan Si Nai tidak punya Bapak dewasa.

CARA MENGEMBANGKAN MATERI KOMEDI

MEMBUBUHKAN ANALISA GEMBEL

Cara mengembangkan materi stand up komedi yang berupa story telling adalah dengan menambahkan kepadanya analisa gembel.

Orang stand up komedi mengistilahkanya dengan  SET UP.

Untuk menulis komedi, Raditya Dika menyarankan supaya tulis aja set upnya dulu sebanyak-banyaknya. Urusan menambahkan komedi nanti saja belakangan.

Setiap fakta bisa sambil ditambahkan candaan-candaan.

Saya mau mencoba menulis setupnya, dan nanti mungkin akan ditambahkan candaan-candaannya di belakang.

Mengawali pagi dengan menyisir rambut. Di depan wastafel, menghadap cermin, saya menyisir rambut. Sewaktu awal menikah, inilah gaya tata rambut kesukaan istri saya, belah tengah. Tapi itu dulu, pas awal-awal menikah. Sekarang, belah rambut sisi, atas, belakang, tengah, atau campuran semuanya, istri saya tak pernah peduli, soalnya dia jauh, di kampung sana.

Gaya rambut menandakan keperibadian seseorang.

Yang selalu memakai peci, mungkin ada masalah dengan rambutnya. Orang belah tengah, itu menandakan orang yang mencintai keseimbangan, belah kiri, orangnya dominan otak kanan karena rambutnya sebagian besar ada di sebelah kanan, orang semacam ini mencintai seni dan kreativitas. Orang yang sisirannya belah kanan, ini dominan otak kiri, menyukain matematika, perhitungan akurat, dan detail. Orang dengan sisiran ke belakang, mempunyai kecenderungan senang mengingat-ingat masa lalu. Yang sisirannya ke depan, sangat ambisius untuk menggapai kesuksesan di masa depan. Pria dengan sisiran acak-acakan, menandakan senang mempunyai hubungan rumit dengan banyak orang. Pria dengan sisiran bentuk tintin, dia punya bakat kerja di pertambangan, rambutnya bisa dipake mesin pengeruk.

Godaan terbesar saya bukan baju, bukan sepatu, bukan akhwat berkerudung biru meskipun dia rela dimadu. Godaan terbesar saya sekarang adalah buku. Sepulang membeli Al-Qur'an dan buku KISAH 1001 MALAM, melewati pasar kaget, menghentikan sepeda di dekat obralan buku. Sudah tua, lusuh dan terlihat lama buku-bukunya, tapi itu yang membuat saya tertarik siapa tahu harganya murah. Terus melihat-lihat sampai saya temukan sebuah buku berjudul "SITI NURBAYA", saya tanya harganya berapa? dia jawab, 7000 rupiah. Wah sangat murah, padahal di toko saya yakin sudah tak bisa lagi dibeli dengan harga 50.000 rupiah.

Lewat ke tukang sandal, saya lihat cantik-cantik sekali. Sebagai ayah, saya teringat kepada anak. Sebagai suami, saya teringat kepada istri. Keduanya sangat senang berganti-ganti sandal. Kalau saya belikan pasti mereka bahagia. Dan ketika melihat harganya, sangat murah 15 ribu dapat dua pasang. Wah, bisa sekaligus membeli buat istri dan anak. Maka saya berhenti, membeli 2 pasang, dan sampai ke kantor diposting di instagram, Rp. 25000, dan kalau terjual berarti saya dapat keuntungan Rp. 10.000. Mungkin Anda protes, "Katanya tadi buat istri dan anak!"

Gak peduli, ini urusan saya. Kamu tidak perlu ikut campur ya!! Sekali lagi ini urusan saya, kamu tidak perlu ikut campur!! Kalau terjual lumayan.

Dan ternyata ada orang komentar, dua orang. Dari Sidoarjo dan dari Jakarta, kedua-duanya mau pesan. Saya jawab, "Baik Mbak" kemudian saya kasih tahu total yang harus mereka transfer.

Kamu pasti masih protes, "Gimana sih, katanya tadi buat istri dan anak!!

Gak peduli!! Ini urusan saya. Yang beli sandal saya, dengan uang saya. Apa kamu ikut menyumbang? Tidak bukan? Nah, jadi tidak perlu ikut campur! Ya!!! Terserah saya!!

Karena merasa laku, akhirnya saya pergi lagi pake sepeda mencari tukang sandal tadi, membeli 2 pasang lagi. Buat dijual.

Kamu mungkin bertanya, "Terus buat istri dan anak gimana?"

Saya sarankan, sebaiknya kamu diam!! Sekali lagi, TIDAK PERLU IKUT CAMPUR URUSAN SAYA!!!



====

PRIA IDAMAN

Seorang pria idaman yang digandrungi kaum hawa biasanya mempunyai kehidupan menarik, dan penuh petualangan. Pemberani dan senang dengan tantangan. Saya bukan, saya seorang pria rumahan yang lebih senang hidup aman dan menghindari bahaya. Hari-hari saya banyak habis di depan meja, menghadapi laptop, pegang hape, tiduran, cari warteg buat makan, dan pulang kembali ke kantor kembali menghadapi laptop.



AKU ORANGNYA PERAGU

Setelah shalat Maghrib, membuka pakaian, buat disalin dengan yang lain, tapi ah dekat ke waktu isya, tak perlu disalin, tapi setelah memakai lagi baju shalat, ingat lagi buat dibuka aja, maka pake sarung kotor

Mau berangkat, ragu khawatir ada yang jatuh balik lagi, sepeda belok lagi,

====


Saya tadi menulis seingatnya saja. Nanti tulisan itu bisa dibaca ulang dan bisa ditambah-tambahkan candaan-candaan buat humornya.







Friday, April 14, 2017

DANAA!!!!

Malam ini istri saya memecahkan telur ke dalam wadah, membubuhkan ke sana gula dan pengembang. Memasang mesin, memijit tombol "on" dan "nguiiiinngg!!"pengocokan dimulai. Kami mau mencoba membuat bolu kukus.

Hampir setengah jam dan pasti menghabiskan energi listrik sangat banyak. Tiba waktunya memasukkan adonan ke dalam cetakan Si Nai datang menyerang, ikut mengocek-ngocek dan itu sangat mengganggu. Kami khawatir. Kalau sampai tumpah, lantai kotor dan semua bahan serta hasil kerja keras tadi bakal terbuang. 

"Nai, jangan main itu!" ibunya menegur.

"Nai, jangan!" saya ikut-ikutan, "Kok dilarang diam saja ya?"sambil tersenyum karena merasa lucu dengan sikap cueknya, seakan tidak mendengar.

"Si Nai mungkin tidak punya telinga," ibunya mulai bicara macam-macam. Saya jadi kasihan, padahal ini cara mendidik yang salah. 

Teringat sedikit ilmu dari buku pendidikan, anak-anak itu dunianya bermain. Usia begini masa-masanya aktif, dan selagi bangun, mereka akan terus mencari permainan menyenangkan. Si Nai ngotak-ngatik adonan karena baginya itu permainan seru. Berarti saya harus mencari ide.

"Nai, ayo kita membuat menara dari cetakan bolu."

"Ayo," dengan sangat mudah dia tinggalkan adonan. Ibunya tertawa terbahak-bahak saat melihat dengan mudahnya dia pergi meninggalkan adonan itu. 

Bosan membuat menara saya ajak lomba meniup. Cetakan disimpan di lantai, kemudian sambil merangkak seperti komodo, saya tiup cetakan itu supaya bergeser maju. "Kita mulai. Nai di sana, Bapak di sini."

"Yuk!!" dia makin gembira.

Dan kami pun bersiap mengambil ancang-ancang seperti pelari. Dua buah cetakan bolu kukus di depan hidung. Seorang bapak-bapak dengan badan besar dan mulut besar akan bertanding melawan anak usia 5 tahun dengan daya tiup mulutnya yang masih lemah. 

"Satu ... dua ... tiga ..."

Karena tiupan saya lebih keras, jadi cetakan itu terlempar jauh. Si Nai teriak-teriak mengeluh karena kalah.

"Balik lagi, balik lagi. Pak, balik lagi. Niupnya jangan keras-keras!!" protesnya.

"Ok!"

Kembali mengambil ancang-ancang, "Satu ... dua ... tiga ... "

Dan kembali saya menang, tentu saja dengan yang lebih kencang, tapi efeknya Si Nai jadi marah, "Jangan terlalu kencang niupnya DANA!!!"

"Hus! Jangan Nai!" ibunya yang sejak tadi santai membuat kue tiba-tiba marah, "Itu kurang ajar! Itu tidak sopan!"

Si Nai yang stress karena kalah, sekarang makin galau kareha dibentak. Duduk termenung, bengong, dan mulai terisak-isak. Haduh, ada-ada saja! Ini salah saya sendiri yang memposisikan diri seperti teman, jadi mungkin dia merasa bebas saja menyebut nama. Sebelum sempat tangisannya pecah, segera saya alihkan, "Ayo kita mulai lagi Nai! Nih, sudah siap. Ayo kita tiup." Dan saya berhasil menggagalkan nangisnya.

Ya begitulah sekarang, Si Nai semakin besar, semakin dibutuhkan banyak kreativitas buat mengasuhnya. Dan orang tua akan selalu menemukan ide jika mau mencari, karena jenis permainan itu sangat banyak. 

Dengan sangat mudah kita suka mencap anak itu nakal, hanya karena mereka senang melakukan apa yang tidak kita suka. 

Anak melakukan sesuatu yang kita anggap kenakalan, sebenarnya bukan karena mereka. Anak hanya ingin melakukan sesuatu yang asyik dia kerjakan. Maka menemukan apa saja, jika bisa dia mainkan, maka dia akan memainkannya. Tugas orang tua adalah, mencari ide sebanyak-banyaknya hal positif mengasyikkan buat anak. Nah, di sinilah pentingnya banyak membaca buku-buku yang di dalamnya berbagi ide dan tips permainan mendidik untuk anak.

Sunday, April 9, 2017

TEU NANAON KU NANAON

"Pandangan kita mengenai memaafkan orang lain juga perlu kita revisi. Memaafkan orang lain sebenarnya bukanlah untuk kebaikan orang tersebut, tetapi untuk kebaikan kita sendiri." tulis Arvan Pradiansyah di bukunya, Life Is Beautiful. Buku yang sangat saya suka dan selalu simpan di dekat saya biar siap dibaca.

Seperti membersihkan lantai rumah. Tujuan terpenting kebersihan lantai itu bukan buat kebaikan si lantai sendiri, akan tetapi terutama buat kebaikan kita. Lantai bersih buat suasan tempat tinggal lebih nyaman, jauh dari penyakit, dan pandangan mata kita lebih enak.

Apa yang kita pandang ini sangat memengaruhi pikiran dan perasaan kita. Nonton film menegangkan biasanya terbawa merasa tegang, nonton film sedih terbawa merasa sedih, melihat benda menjijikan semisal muntah berceceran di tengah jalan, perut kita jadi mual. Apa yang kita pandang sangat memengaruhi pikiran dan perasaan. Demikian pula lantai, maka kebersihannya yang kita pandang, bisa memengaruhi perasaan dan pikiran. Memang benar saya rasakan, bila jalan-jalan di mall, masuk toko buku dan merasakan suasananya, inspirasi seperti mengalir deras berdatangan.

Begitulah membersihkan lantai, membersihkannya bukan buat kemanfaatan si lantai, tapi buat kita sendiri. Nah, seperti itu pulalah memaafkan. Seorang bijak mengatakan, "Jangan menyalakan api amarah sampai-sampai dirimu sendiri terbakar olehnya."

LAPANG DADA

Saya sangat terkesan dengan buku Ajip Rosidi berjudul "MENGENANG HIDUP ORANG LAIN". Di sana dia mengisahkan orang yang menganut filosofis "TEU NANAON KU NANAON"

Jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia itu berarti "TIDAK KENAPA-KENAPA DENGAN APA PUN"

Kita harus sampai kepada level tidak pernah menjadi apa pun dengan apa pun. Pujian orang tidak membuat kita jadi bangga. Hinaan mereka tidak membuat kita jadi sedih.

Kita selalu mempermasalahkan sebutan dari orang. Tak masalah, mereka menyebut saya apa, bagi saya mah gak masalah. Masih merasa sedih atau bahagia karena sebutan orang berarti kita masih menggantungkan kebahagiaan kepada orang lain.

Ada orang yang marah karena merasa dilecehkan harga dirinya. Menurut saya, jika dilecehkan harga diri bisa membuat marah, berarti harga dirinya bermasalah. Kalau saya, lebih baik merasa tidak punya harga diri sama sekali, jadi misalnya nanti orang melecehkan harga diri saya, toh apa yang mereka lecehkan tidak ada pada diri saya.

Saturday, April 8, 2017

TIPS MENJADI PENJUAL YANG BAIK

Saya pernah jualan roti dari Ciamis ke Tasikmalaya, satu kampung ke kampung lain, satu rumah ke rumah lain. Tidak seorang pun mau beli. Aneh, padahal ilmu penjualan terbaik sudah saya terapkan. Pakar penjualan mengatakan, jangan jual sesuatu yang kita sendiri tidak suka pada barang itu. Dan yang saya lakukan lebih dari itu. Supaya pembeli yakin, saya tidak cuma persuasi, tapi juga demonstrasi. Roti dibuka, gigit, dan bilang, "Emh, enak banget Mbak, ini saya makan lagi. Sungguh Mbak, enak banget. Ini hanya lima ribu saja. Silakan" saya sodorkan, dia tidak mau membeli.

Gagal dari rumah ke rumah, seorang teman menyarankan, "Coba jadi pedahang asong di kendaraan." Saya coba saran dia. Mobil berhenti, saya antusias naik. "Roti manis, roti sobek, rasa nanas, rasa coklat, silakan." dan aneh, mungkin sudah nasib saya yang malang, saja tidak seorang pun membeli. Ternyata salah, saya naik ke mobil truk pengangkut pasir.

Putus asa, pulang lagi ke Ciamis, ketemu teman, "Ada yang laku tidak?" Saya jawab, "Tidak ada" akhirnya dia beli semua karena kasihan. Dari kejadian itu saya mendapatkan pelajaran: dua modal penting sukses berjualan adalah MEMPUNYAI TEMAN BAIK, dan PUNYA WAJAH MENGENASKAN.

Masuk kuliah, kebiasaan berjualan tidak saya buang. Jual novel, buku agama, bahkan pernah menawarkan laptop kepada seorang mahasiswi. Ahli penjualan mengatakan, seorang penjual yang baik, harus punya nilai lebih. Dan saya, mencoba menawarkan lap-top sambil berbagi tips supaya lap-top awet, "Mbak mau tahu?"

"Ya, mau banget, apa aja itu?"

"Ada sembilan Mbak. Pertama, jangan pernah simpan laptop di dalam bak mandi, cukup di meja atau rak. Kedua, tidak boleh menggunakan laptop untuk penggebuk kasur. Ketiga, jangan dipakai alas buat tempat duduk. Keempat, separah apa pun laparmu, jangan sampai lap topmu dimakan. Kelima, dilarang menggunakannya sambil duduk lesehan di tengah jalan tol. Keenam, untuk menyalakannya cukup pijit tombol power, jangan dengan korek api. Ketujuh, untuk mematikan ikuti seperti cara mematikan komputer biasa, jangan disiram air. Kedelapan, seteleh laptop mati tidak perlu dikubur, cukup tutup dan simpan. Kesembilan, cara membersihkanya cukup dilap, jangan pernah menggunakan mesin cuci."

"Mas sedang melucu?"

"Iya Mbak."

"Tapi kok, kenapa garing ya?"

"Mungkin wajah saya terlalu datar."

Mau Betulin Hape