"Pandangan kita mengenai memaafkan orang lain juga perlu kita revisi. Memaafkan orang lain sebenarnya bukanlah untuk kebaikan orang tersebut, tetapi untuk kebaikan kita sendiri." tulis Arvan Pradiansyah di bukunya, Life Is Beautiful. Buku yang sangat saya suka dan selalu simpan di dekat saya biar siap dibaca.
Seperti membersihkan lantai rumah. Tujuan terpenting kebersihan lantai itu bukan buat kebaikan si lantai sendiri, akan tetapi terutama buat kebaikan kita. Lantai bersih buat suasan tempat tinggal lebih nyaman, jauh dari penyakit, dan pandangan mata kita lebih enak.
Apa yang kita pandang ini sangat memengaruhi pikiran dan perasaan kita. Nonton film menegangkan biasanya terbawa merasa tegang, nonton film sedih terbawa merasa sedih, melihat benda menjijikan semisal muntah berceceran di tengah jalan, perut kita jadi mual. Apa yang kita pandang sangat memengaruhi pikiran dan perasaan. Demikian pula lantai, maka kebersihannya yang kita pandang, bisa memengaruhi perasaan dan pikiran. Memang benar saya rasakan, bila jalan-jalan di mall, masuk toko buku dan merasakan suasananya, inspirasi seperti mengalir deras berdatangan.
Begitulah membersihkan lantai, membersihkannya bukan buat kemanfaatan si lantai, tapi buat kita sendiri. Nah, seperti itu pulalah memaafkan. Seorang bijak mengatakan, "Jangan menyalakan api amarah sampai-sampai dirimu sendiri terbakar olehnya."
LAPANG DADA
Saya sangat terkesan dengan buku Ajip Rosidi berjudul "MENGENANG HIDUP ORANG LAIN". Di sana dia mengisahkan orang yang menganut filosofis "TEU NANAON KU NANAON"
Jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia itu berarti "TIDAK KENAPA-KENAPA DENGAN APA PUN"
Kita harus sampai kepada level tidak pernah menjadi apa pun dengan apa pun. Pujian orang tidak membuat kita jadi bangga. Hinaan mereka tidak membuat kita jadi sedih.
Kita selalu mempermasalahkan sebutan dari orang. Tak masalah, mereka menyebut saya apa, bagi saya mah gak masalah. Masih merasa sedih atau bahagia karena sebutan orang berarti kita masih menggantungkan kebahagiaan kepada orang lain.
Ada orang yang marah karena merasa dilecehkan harga dirinya. Menurut saya, jika dilecehkan harga diri bisa membuat marah, berarti harga dirinya bermasalah. Kalau saya, lebih baik merasa tidak punya harga diri sama sekali, jadi misalnya nanti orang melecehkan harga diri saya, toh apa yang mereka lecehkan tidak ada pada diri saya.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Seseorang menulis jujur menyatakan kurang nyaman sama yang posting rumah tangga hanya menceritakan keindahannya saja, kemudian dia mengingin...
-
Kita tidak bisa menyebut sebuah nama ketika pikiran lupa Ilmu datang ke dalam pikiran kita oleh Allah, dan Dia bisa menghilangkannya kapan...
No comments:
Post a Comment