Friday, April 14, 2017

DANAA!!!!

Malam ini istri saya memecahkan telur ke dalam wadah, membubuhkan ke sana gula dan pengembang. Memasang mesin, memijit tombol "on" dan "nguiiiinngg!!"pengocokan dimulai. Kami mau mencoba membuat bolu kukus.

Hampir setengah jam dan pasti menghabiskan energi listrik sangat banyak. Tiba waktunya memasukkan adonan ke dalam cetakan Si Nai datang menyerang, ikut mengocek-ngocek dan itu sangat mengganggu. Kami khawatir. Kalau sampai tumpah, lantai kotor dan semua bahan serta hasil kerja keras tadi bakal terbuang. 

"Nai, jangan main itu!" ibunya menegur.

"Nai, jangan!" saya ikut-ikutan, "Kok dilarang diam saja ya?"sambil tersenyum karena merasa lucu dengan sikap cueknya, seakan tidak mendengar.

"Si Nai mungkin tidak punya telinga," ibunya mulai bicara macam-macam. Saya jadi kasihan, padahal ini cara mendidik yang salah. 

Teringat sedikit ilmu dari buku pendidikan, anak-anak itu dunianya bermain. Usia begini masa-masanya aktif, dan selagi bangun, mereka akan terus mencari permainan menyenangkan. Si Nai ngotak-ngatik adonan karena baginya itu permainan seru. Berarti saya harus mencari ide.

"Nai, ayo kita membuat menara dari cetakan bolu."

"Ayo," dengan sangat mudah dia tinggalkan adonan. Ibunya tertawa terbahak-bahak saat melihat dengan mudahnya dia pergi meninggalkan adonan itu. 

Bosan membuat menara saya ajak lomba meniup. Cetakan disimpan di lantai, kemudian sambil merangkak seperti komodo, saya tiup cetakan itu supaya bergeser maju. "Kita mulai. Nai di sana, Bapak di sini."

"Yuk!!" dia makin gembira.

Dan kami pun bersiap mengambil ancang-ancang seperti pelari. Dua buah cetakan bolu kukus di depan hidung. Seorang bapak-bapak dengan badan besar dan mulut besar akan bertanding melawan anak usia 5 tahun dengan daya tiup mulutnya yang masih lemah. 

"Satu ... dua ... tiga ..."

Karena tiupan saya lebih keras, jadi cetakan itu terlempar jauh. Si Nai teriak-teriak mengeluh karena kalah.

"Balik lagi, balik lagi. Pak, balik lagi. Niupnya jangan keras-keras!!" protesnya.

"Ok!"

Kembali mengambil ancang-ancang, "Satu ... dua ... tiga ... "

Dan kembali saya menang, tentu saja dengan yang lebih kencang, tapi efeknya Si Nai jadi marah, "Jangan terlalu kencang niupnya DANA!!!"

"Hus! Jangan Nai!" ibunya yang sejak tadi santai membuat kue tiba-tiba marah, "Itu kurang ajar! Itu tidak sopan!"

Si Nai yang stress karena kalah, sekarang makin galau kareha dibentak. Duduk termenung, bengong, dan mulai terisak-isak. Haduh, ada-ada saja! Ini salah saya sendiri yang memposisikan diri seperti teman, jadi mungkin dia merasa bebas saja menyebut nama. Sebelum sempat tangisannya pecah, segera saya alihkan, "Ayo kita mulai lagi Nai! Nih, sudah siap. Ayo kita tiup." Dan saya berhasil menggagalkan nangisnya.

Ya begitulah sekarang, Si Nai semakin besar, semakin dibutuhkan banyak kreativitas buat mengasuhnya. Dan orang tua akan selalu menemukan ide jika mau mencari, karena jenis permainan itu sangat banyak. 

Dengan sangat mudah kita suka mencap anak itu nakal, hanya karena mereka senang melakukan apa yang tidak kita suka. 

Anak melakukan sesuatu yang kita anggap kenakalan, sebenarnya bukan karena mereka. Anak hanya ingin melakukan sesuatu yang asyik dia kerjakan. Maka menemukan apa saja, jika bisa dia mainkan, maka dia akan memainkannya. Tugas orang tua adalah, mencari ide sebanyak-banyaknya hal positif mengasyikkan buat anak. Nah, di sinilah pentingnya banyak membaca buku-buku yang di dalamnya berbagi ide dan tips permainan mendidik untuk anak.

No comments:

Post a Comment

Mau Betulin Hape