Sunday, February 7, 2016

PENULIS BUKU ANEH

Pernah kepada sebuah tulisan karya orang lain saya menyebut asal bunyi, sembarangan dan menyesatkan. Seakan tulisan saya sendiri bagus, hebat dan penuh dengan petunjuk dan kebenaran. Kepada tulisan itu saya katakan mentah tidak berdasarkan penelitian akurat, seakan tulisan saya sendiri kaya akan fakta dan sangat akurat.

Saya katakan itu dengan penuh jumawa, dengan kalimat-kalimat penuh kesombongan dan nada merendahkan seakan diri saya sendiri penuh dengan kemuliaan. Saya menghina tulisan itu dan ingin supaya si penulis benar-benar merasa terhina. Karena memang begitulah kebahagiaan saya, yaitu saat sanggup merendahkan karya orang lalu merasakan kepuasan, kemudian saat mendapatkan sanjungan dan pujian buat karya diri saya sendiri lalu merasakan kebanggaan.

Seperti saat saya membuat tulisan di kompasiana. Padahal saya sendiri yang menulis di kompasiana, tapi kepada teman-teman facebook saya umumkan bahwa tulisan saya sudah masuk kompas. Sebab saya kira, sebagian teman saya itu tidak mengenal kompasiana, dan menyangka kompasiana itu tidak ada bedanya dengan kompas. Pada sebuah postingan saya simpan tautan link kompasiana itu, kemudian saya panggil teman-teman supaya membaca dan menyanjung. Itu semua saya lakukan untuk memenuhi rasa dahaga saya akan pujian dan kehormatan.

Dan sesuai harapan, orang-orang pun berdatangan memberikan pujian, mengatakan tulisan saya bagus. Sedangkan saya, membaca berbagai komentar manis mereka hanya bisa tersenyum, mengangguk-angguk, sambil berkata dalam hati, "Sudah selayaknya sanjungan itu mereka ucapkan, karena, tulisan saya memang hebat."

Tanpa saya ketahui ternyata, dari sekian banyak orang yang melihat, satu di antaranya adalah orang yang pernah saya injak-injak tulisannya. Saat link kompasiana yang saya bagikan dia klik dan baca, hatinya menggerutu habis-habisan, "Gue kira tulisannya sebaik apa. Bah!!! Norak, banyak mengulang kata, banyak serangan. Baru membaca paragraf awal sudah membosankan."

Saya kira gerutuannya cukup sampai di sana. Ternyata tidak. Masih panjang, "Dia kira orang lain itu sebodoh apa. Kompasiana itu berbeda dengan kompas. Kompasiana itu situs umum yang bahkan anak bolon baru belajar menulis huruf H pun bisa posting di sana. Siapa saja bisa nulis di Kompasiana. Tulisan bisa mejeng di sana itu bukan keistimewaan, jadi sebenarnya tidak pantas dijadikan kebanggaan. Dasar gak tahu malu!!"

Sebel, marah, dan saya tidak suka kepada orang itu. Berani-beraninya dia menggerutu sekalipun di dalam hatinya. Akan tetapi saya kebingungan bagaimana harus melawan dan bertindak, sebab hati yang menggerutu itu bukanlah hati orang lain, akan tetapi hati saya yang penuh dengan keanehan. Aneh karena, untuk diri sendiri selalu melakukan pembelaan berusaha dengan kata-kata mengesankan diri ini hebat, sedangkan kepada orang lain inginnya itu mentertawakan dan merendahkan dengan segala pengetahuan yang saya punya.

Saturday, February 6, 2016

BUKU NOVEL REMBULAN UNGU

Disulamnya sapu tangan itu dengan penuh penghayatan
Melukis gambar rembulan
Rembulan merah muda,
Dan dua ekor merpati terbang di kedua sisinya.
Untuk dia persembahkan suatu saat kepada pemuda yang pertama menggetarkan hatinya.

Panjalu, nama pemuda itu
Adalah prajurit kerajaan Mataram, datang ke rumah sang gadis, membawa surat untuk ayahnya
Tinggal beberapa hari
Dan merasakan getar yang sama.
Tentu saja karena gadis ini perawan kencur yang sangat cantik jelita
Bawaan rupa dari ayahnya yang keturunan China.
Tanpa Panjalu ketahui, sesungguhnya isi surat yang dia antarkan itu meminta, supaya si ayah merelakan gadis ini diambil Mataram untuk dijadikan selir kerajaan.

Setelah beberapa hari Panjalu tinggal
Datanglah prajurit lain sebagai utusan kerajaan, untuk membawa sang gadis

Maka dibawalah
Dan panjalu ikut serta, karena dia memang prajurit Kerajaan Mataram juga
Itulah yang membuat sang gadis mau, sebab merasa aman
Disertai pria yang dicintainya

Akan tetapi sampai di Mataram, dan tahu ternyata dirinya akan dijadikan selir raja
Dengan linangan air mata memohon Panjalu membela
Sebenarnya tak terelakkan
Hati pemuda ini pun hancur berantakan
Tapi demi keselamatan semuanya, keselamatan dirinya, keselamatan gadis yang dicintainya, dia memilih diam.

Dibawalah gadis ini menghadap raja
Sunan Amangkurat, dan langsung terpikat, kemudian memerintahkan supaya menempatkan sang gadis pada sebuah rumah bernama wirarejan, untuk dilatih menari, melantunkan tembang, berdandan, memakai pakaian pantas, dan mempelajari sopan santun istana.

Saat dalam pemingitan itulah Putra Mahkota Raja bernama Adipati Anom datang, melihatnya dan tertarik juga, lalu dengan bantuan kakeknya, Pangeran Pekik, Adipati Anom berhasil mengambil si gadis dan dia jadikan istrinya.

Saat Amangkurat tahu, betapa marahnya dia
Marah kepada orang-orang yang membiarkan calon selirnya dinikahi putranya sendiri
Marah kepada pangeran pekik dan istrinya, lalu menghukum mati keduanya dengan sadis di alun-alun. Marah kepada Wirareja dan membakar rumah beserta isi dan orang-orang di dalamnya sampai binasa.

Marah kepada sang putra mahkota yang memeluk kakinya minta maaf
Amangkurat mengacungkan keris, dan sang putra merasakan itulah detik-detik terakhir hidupnya.

"Tenanglah anakku, keris ini kucabut bukan untuk membunuhmu. Kamu hanyalah orang yang diperalat. Pangeran Pekik adalah kakekmu, mertuaku yang ingin menggulingkanku, dan caranya adalah membuatmu jatuh cinta kepada selirku supaya nanti namaku menjadi hancur karena berebutan wanita dengan anaknya sendiri. Karena itu, nanti akan kuadakan pesta besar dengan keramaian besar, untuk membuktikan kesetiaanmu, kau pegang keris ini, dan tusuklah wanita itu sampai binasa di hadapanku, hanya dengan cara itulah aku bisa memberikanmu maaf."

Pesta besar itu pun diadakan.
Dari kerangkeng gadis itu dikeluarkan, namun sang pangeran ragu
Gemetaran dia pegang keris itu,
Diam
Ragu, bingung memilih mana
"Ayo lakukan, jika kamu seorang yang setia kepada ayahmu."
Masih juga diam, bingung, ragu, takut,
Si gadis lari mendekat, menusukkan diri pada keris itu hingga terkapar, bersimbah darah

Panjalu terbelalak melihat gadis yang dicintainya dengan tulus kini rubuh tergeletak, disanggahnya dengan satu kaki dan tangan. Menjerit lirih meminta maaf tak bisa melindungi, menjerit hatinya kenapa jadi begini.

Mata si gadis masih terbuka, tangan masih sanggup bergerak. Dari pinggang dicabutnya sapu tangan, dia berikan kepada Panjalu, sapu tangan bersulam gambar rembulan merah muda yang sangat indah itu kini tertetesi darah, dan warnanya berubah menjadi ungu.

(Diringkas dari novel Rembulan Ungu karya Bondan Nusantara)

Friday, February 5, 2016

BUKU HUMORTIVASI

Sebuah panggilan dari Padang, bukan panggilan kerja, ini panggilan telfon, menanyakan, apa benar dalam buku humortivasi ada bagian yang menerangkan manfaat humor untuk meredakan stres? Ditanya begitu, tentu saja saya bisa dengan sangat mudah menjawab, ada, karena saya termasuk orang yang berulang kali membaca buku karya Pak Isa itu sejak sebelum terbit.

Dia butuh itu buat keperluan skripsi. Kemudian minta bukti berupa foto halaman yang mencantumkan bagian yang menerangkan manfaat humor itu, tapi saya keberatan. Khawatir ini sebuah kekeliruan, harus minta izin dulu kepada Pak Isa. Buku itu saya bawa, namun saat hendak masuk ruangan kerja, tampak Pak Isa sedang sibuk mengedit tulisan. Saya jadi bingung antara masuk dan tidak. Masuk khawatir mengganggu, tapi kalau memfoto begitu saja tanpa minta ijin khawatir juga ini sebuah kesalahan, karena memfoto halaman di toko buku pun dilarang.

Akhirnya Pak Isa keluar.

"Pak, ini ada orang mau nyusun skripsi tentang humor, dan dia ingin mengambil datanya dari buku Humortivasi. Dia minta foto bagian halaman yang mencantumkannya."

"Oh ya, gak papa. Iya memang di bahas di sana."

"Baik Pak!"

Bukan cuma cerita lucu, Humortivasi mengupas manfaat humor bagi kesehatan. 

"Memicu otak mengeluarkan hormon endorphin dan melatonin yang membantu sistem saraf menjadi ruleks dan tenang. Tertawa bisa meminimalisir pikiran negatif penyebab depresi, mengurangi rasa kesepian, membuat seseorang berpikir lebih positif terhadap diri sendiri, mengubah mood yang buruk, dan menyehatkan batin." tulis Pak Isa

Itu sebagian manfaat yang disampaikan, dan masih ada enam bagian lain manfaat humor bagi kesehatan.

Karena harus mengirimkan foto, komunikasi dilanjutkan lewat whatsapp.

"Bang apakah jenis buku ini bisa dijadikan bahan skripsi atau sekedar buku biasa?"

"Bisa Mbak, ini buku resmi, ada ISBN nya."

"Coba fotoin cover, pengarang dan penerbitnya Mbak. Temanku meminta."

Saya kirimkan fotonya.

"Bagaimana cara ordernya Bang? Berapa ongkir ke Padang? Apakah buku itu tersedia di Gramedia?"

"Ongkir Rp. 28.000, supaya tidak tanggung, mbak bisa pesan bersama 2 buku Pak Isa lainnya, harga paket Rp.99.000 ditambah ongkir jadi Rp. 127.000."

Saya tawarkan karena itu paket sangat murah, potongannya sangat besar jika dibandingkan membeli satuan. Kasihan, orangnya jauh di Padang, membeli satu atau  3 buku, ongkos kirim sama saja. Sebagai penjual, saya mau pembeli juga mendapatkan keuntungan.

Thursday, February 4, 2016

BLOG GILA BUKU

Langsung dah saya menyeduh kopi merayakan kebahagiaan diterima oleh google adsense. Bahasa kerennya di approve gitu lho. Kopi di kolong meja saya bawa ke dekat rak piring, menyiapkan cangkir bersih, dan menyeduhnya. Kopi Torabika Cappuchino, saya taburkan moccanya, tapi tampak di dalam gelas, air tergenang, air bekas mencuci gelas, jadi saya tumpahkan, dan moccachino terbuang.

Tidak mengapa, masih ada kopinya.

Sedu dengan air dispenser dan bawa ke meja. Meminumnya terasa bersalah, teringat beberapa hari lalu perut mual, setelah minum kopi ini, dan waktu itu belum makan. Wah saya harus sarapan nih. Niat menulis pun tertunda, menuruni dulu tangga, membuka gembok pintu depan, keluar, berniat mendatangi tepian jalan di mana sebuah roda gorengan biasanya mangkal. Tidak tahu kenapa padahal saya tahu bahayanya gorengan, karena enak, pagi hari itu selalu saja tak tahan buat membeli gorengan. Dan ah itu roda yang beberapa hari kemarin hilang tak mangkal di sana, sekarang ada. Singkong goreng, itu kesukaan saya. Selain besar, singkong lebih harum, gurih dan alami dibanding bakwan dan cireng. Masih proses penggorengan. Saya tunggu sambil mengajak ngobrol si Bapak.

"Beberapa hari kemarin ke mana Pak?"

"Natus."

Natus adalah istilah kenduri seratus hari setelah seseorang meninggal dunia.

"Siapa yang meninggal?"

"Ibu"

"Oh" harusnya saya mengucapkan istirja tetapi tidak.

Singkong goreng diangkat ke penirisan minyak. Sebelum disimpan di tempat penyusunan pajangan gorengan saya ambil singkong itu dengan penjepit dan masukkan ke kantong kertas.

Bawa ke kantor, sambil kembali kerja, singkong itu saya makan.

Maaf banyak bicara, ini saking bahagianya.

Oh ya saya lupa. Tadi sepanjang perjalanan kembali ke kantor, banyak sekali inspirasi datang. Bahwa saya, sekarang harus menulis habis habisan. Menulis gila gilaan. Dan tulisan saya harus difokuskan ke dunia perbukuan. Menulis secepat cepatnya, menulis sebanyak-banyaknya. Hiperbolisnya, saya harus banyak menulis sebagaimana orang lain banyak bicara. Apa yang selama ini saya jadikan bahan pembicaraan yang dikeluarkan dengan lisan, sekarang harus saya tuliskan.

Dari pembicaraan lisan kepada pembicaraan tulisna. Apa pun yang ingin saya ungkapkan dengan lisan, lebih baik saya ungkapkan ke dalam tulisan. Gunanya, semakin saya diam, semakin orang lain tidak bising dengan kata-kata saya. Semakin saya banyak diam, semakin orang lain penasaran dengan apa isi hati saya, dan karena mereka penasaran dengan isi hati saya, maka mereka akan membaca tulisan saya. Hahaha, gede rasa banget ya. Memang siapa yang akan tertarik dengan saya? Memang siapa yang akan penasaran pada saya? Memangnya punya kelebihan apa?

Heheh, tidak punya kelebihan sih.

Ini mah bercanda saja, siapa tahu ada benarnya. Hehe.

Ini mah hanya cara saya saja untuk memperbanyak tulisan.

Oh ya, perbincangan blog akan lebih banyak saya fokuskan ke buku. Ini dikarenakan banyak seklai alasan.

Pertama, saya bekerja di dunia perbukuan. Hai kamu yang penasaran di manakah kerja saya sekarang, setelah sekian lama menghilang tidak bertemu dengan kalian, sekarang saya kerja di dunia perbukuan. Sejak dulu saya memang cinta buku, dan sangat cinta kepada buku, maka kini pun kerja di dunia penerbitan buku. Di sini, karena sebagian besar tugas saya adalah menjual, menjual buku, maka yang harus saya lakukan adalah menuliskan iklan dengan sebaik-baiknya supaya orang terpikat. Penerbit tempat saya kerja meluncurkan banyak sekali buku Asma Nadia, maka yang harus banyak saya tuliskan adalah buku Asma Nadia. Akan saya tuliskan review buku itu di blog.

Kedua, saya gila buku, saya membeli buku bukan karena ingin membaca buku itu, karena ternyata bagi saya betapa sempitnya waktu. Membeli buku hanya karena kegilaan saya terhadap buku. Lihat ke sini, ke kantor saya, sebuah lemari saya bajak dan saya penuhi dengan buku saya. Mengerikan, dan sebagian besar buku itu belum saya baca, bertumpuk saja di sana tidak bermanfaat. Maka tadi malam, pas datang teman bersama istrinya, saat dia mengatakan ingin meminjam buku, saya persilakan. Kemudian si suami membawa buku tebal berjudul "Sejarah Tuhan" dan istrinya membawa buku Ipho Santosa berjudul "13 Wasiat Terlarang". Begitulah buku saya tertumpuk banyak yang tidak terbaca, karenanya sebagian saya tawarkan ke orang orang buat dijual.

Dan eh meski buku saya sudah banyak, masih saja merasa kurang dengan mendaftarkan diri ke perpustakaan kota. Kota Depok ini terbilang kota besar, langit oleh gedung-gedung tinggi dicakar, karenanya cukup memalukan jika tidak punya perpustakaan. Untungnya punya, sebuah perpustakaan besar yang bahkan alat naiknya memakai lift, mewah deh pokoknya, kursi tempat duduknya juga menggunakan kursi putar, dan saat saya mendaftar ke sana kemarin, prosesnya sangat cepat, kartu bisa dibawa hari kemarin juga.

Ketiga, alasan kenapa hanya tentang buku yang akan saya tuliskan, karena saya punya ide unik tentang ini. Judul yang akan saya buat untuk setiap tulisan adalah judul yang bisa menarik perhatian. Misalnya gila buku, mabuk buku, buku-buku menyesatkan, kenapa buku ini dilarang, buku yang mengandung dosa, dan sebagainya, Hanya buat menarik orang mengklik dan membaca.

Ah pokonya saya akan menulis segila-gilanya, sebanyak-banyaknya, tentang dunia perbukuan. Mengingat googl sudah menyetujui situs saya untuk dia tempatka iklan.

Akan tetapi ah, saat blog kembali saya buka untuk ke sekian kalinya, iklan itu hilang, tidak muncul lagi di sana, dan yang ada hanya tempatnya saja, yang kosong. Dan saat saya cek ke akun adsense saya, ternyata, katanya, blog saya masih dalam proses peninjauan, jadi iklan yang ada sekarang hanya berupa lahan kosong saja. Nanti setelah google setuj iklan akan mereka cantumkan juga.

Uhuk uhuk.

Wednesday, February 3, 2016

BUKU JOMBLO TAPI HAFAL PANCASILA

Tidak tanggung-tanggung, setelah melihat bukunya murah, saya langsung beli banyak. Sampai-sampai, tumpukan buku bazar itu berlubang di tengah.

Sudah lama saya mau buku ini. Tertarik setelah membaca blog dan berbagai testimoni, juga setelah setiap kali ke Gramedia saya buka dan baca sekilas-sekilas. Lucu-lucu mengenaskan, tidak membosankan, kreatif. Ndeso, katro, tapi berkualitas.

Ide tulisan didapat dari segala hal.

Kepada seorang teman kerja minta dibelikan, dia malah sebal.

"Apa sih Dan!" dengusnya.

"Emang gue orang tuamu?" mungkin begitu kalau dia teruskan.

Untung saja teman lain beli, jadi saya bisa pinjam. Dibaca di jalan, di kendaraan, di warung sudut pasar saat jajan. Buku ini tak kalah nikmat dari bakwan.

JOMBLO TAPI HAFAL PANCASILA, judulnya.

Beberapa kali datang ke toko melihat buku ini, tapi ya karena banyak buku lain obralan, saya lebih suka buku murah, yang harganya obralan. Depok surganya buku mudah deh kayaknya. Harga buku dibanting bukan sebab tidak bagus. Buku itu asli, bukan bajakan, masih bersegel, tapi karena... entahlah, saya tidak tahu.

Semula saya kira, JOMBLO TAPI HAFAL PANCASILA akan tetap di rak buku mahal. Rupanya tidak. Mungkin karena, jarang orang tahu bagusnya, jadi yang beli jarang.

Padahal, Agus Mulyadi sudah dipromosikan di TV. Beberapa kali diundang berbagai acara. INI TALKSHOW dan BUKAN 4 MATA, setahu saya.

Kenapa saya tertarik kepada buku ini?

Judulnya.

Haha.

JOMBLO TAPI HAFAL PANCASILA.

So what? Gitu loh!

JOMBLO tapi HAFAL PANCASILA. Trus apa hubungannya coba...


Tapi itulah kreativitas. Agus Mulyadi emang bisa. Dia tahu nilai humor dari hal-hal sederhana. Susunan kata judul itu menunjukkan karakter tulisannya. Humor tapi berisi.


Dia membawa warna lokal. Banyak menyelipkan kata Bahasa Jawa. Tapi tetap, pembaca yang mengerti Bahasa Indonesia mudah menangkap. Dia bercanda, tapi intelek.

Kelebihan lain, bahasa tulisanya itu lancar. Mungkin dipengaruhi kebiasaannya menulis blog ditambah keranjingannya baca buku. Sekarang tulisannya banyak bersebaran di media online terkenal.


Dia menulis keseharian, dengan gaya humor, tapi mendalam.

Kadang mengawali tulisannya dengan bahasa sangat ilmiah, dengan gaya kaum intelektual, tapi ke sananya, yang dia bicarakan hal sederhana. Lalu pembaca berhaha-hehe sendiri karena geli.

"Si penulis mampu keluar dari mainstream tulisan humor model anak muda metropolis yang menurut saya hanya mampu membuat tawa tapi gagal memberi makna. Lucu tapi tidak norak, spontal tapi tidka dangkal, cari tapi tidak asal." (Puthut EA, Penulis)

"Guyonan ringan, gurih, dan cerdas tersaji dalam buku ini. Gaya penulisan khas ala Gus Mul membuat tiap cerita selalu menarik untuk dibaca." kata Didi Syafirfi, wartawan merdeka.com."

Memang benar.


Dia bercerita apa saja, dan selalu menarik. Memang beda ya tulisan seorang yang rajin menulis dengan yang jarang. Alirannya lebih deras dan entah kenapa dibacanya enak. Beberapa kali saya baca tulisan karya blogger, tidak tahu kenapa tulisannya rata-rata renyah dikunyah.

Kesehariannya di rumah, pengalaman lucu dengan bapaknya saat kesetrum baju menjadi cerita haru tetapi lucu.

Singkatnya cerita, baju Si Bapak digelar pada gantungan kawat, trus dicantelkan pada lampu yang dipasang di dinding dengan posisi tegak lurus. Ya jelas, kawat itu induktor, baju basah berair juga induktor. Kena kulit Si Bapak teriak.

==========

"Ono opo to Pak?" tanya saya kepada Bapak.

"Ini Gus, Bapak kesetrum, kaget tenan!" jawab Bapak singkat.

===========

Sudah ah, itu cuplikannya saja. Saya gak bisa naha. Tiap kali baca itu mau ketawa, entah kenapa.

Agus juga bercerita tentang temannya. Punya geng, namanya Geng Koplo, seperti preman, mereka bertato kecuali Agus. Uniknya, saat ngobrol cita-cita, unik dan lucu. Kebo misalnya, punya cita-cita ingin menjadi sales bumbu dapur. Kenapa? Ternyata punya alasan luar biasa, yang filosofis dan sangat menyentuh.

Kucing-kucingnya di rumah, mainan-mainan jaman dulu, buku RPUL, bubur sayur, dan yang paling sering dia sebut-sebut, adalah nasibnya yang masih menjomblo.

Gak apa-apa Jomblo, yang penting hafal pancasila.

Masih banyak dari buku ini yang ingin saya bicarakan, tapi kali ini, saya cukupkan dulu sekian! Mau baca dulu!


JANGAN BERCERAI BUNDA: BUKU YANG MENOHOK LANGSUNG KE JANTUNG

Langsung menohok ke jantung permasalah, tidak lari dulu sana-sini membuat perut mual, apalagi pake bersajak-sajak pemicu sakit kepala, begitulah buku yang ingin saya ceritakan. Tidak seperti tulisan saya yang kalau bercerita, lebay, sana-sini dibahas di awal, tengahnya amburadul dengan ujung tak jelas.

Buku ini tidak!

Buku ini tahu selera sebagian besar pembaca!

Sebagian besar pembaca tidak mau diajak pembukaan berlama-lama. Sebagian besar pembaca adalah manusia-manusia yang tidak sabaran, yang jika mereka nonton ke bioskop, mereka tak suka dengan narasi film berlama-lama, yang kalau mereka mengikuti acara, tidak suka dengan sambutan terlalu panjang.

Sebagain besar pembaca adalah orang-orang yang lebih suka to the point.

Dan buku ini mengeti bagaimana bersikap.

"Kini, setelah dua puluh tahun lebih tidak bertemu dan enam belas tahun pernikahanku dengan Bang Firman, Darma datang lagi menghiasi hari-hariku. Cinta monyet masa remaja kembali tumbuh. Pertemuan demi pertemuan kami jalani bersama, tentu saja tanpa sepengetahuan Bang Firman dan anak-anak."

Separagraf awal yang langsung menyeret pembaca ke dalam inti cerita. Itu bagian awal dari kisah "Cinta dan Penyesalan"

Sambil menunggu nasi goreng matang, buku ini saya buka dan baca. Sekeliling ramai tak menjadi halangan. Jenuh menunggu nasi goreng matang, tahu-tahu Si Mas Tukang Nasgor sudah menyodorkan keresek buat saya bawa pulang.

Sebenarnya satu bagian paling seru dalam kisah rumah tangga adalah tentang perceraian. Maaf, saya tidak bermaksud menyebut baiknya perceraian. Karena menceritakan serunya masalah perceraian bukan berarti menceritakan perceraian itunya saja. Bukan berarti menceritakan perpisahan suami istri. Menceritakan serunya perceraian berarti juga menceritakan rumah tangga yang dibayang-bayangi perceraian. Rumah tangga di ambang kehancuran, ketika suami istri samas-sama berusaha berjuang menyelamatkan rumah tangganya yang sedang berguncang karena berbagai hal.

Kisah seorang istri yang suaminya entah kenapa begitu asyik dengan gadget. Semula kecurigaan berusaha dia padamkan, namun tak tahan, suatu malam, setelah pura-pura tidur, dia ikuti suaminya yang naik tangga ke lantai atas. Ngobrol dengan seseorang lewat telfon, entah dengan siapa... ah kalau cerita ini saya teruskan, nanti Anda malah tidak tertarik membaca bukunya.

Jangan Bercerai Bunda, terbitan PT. Asma Nadia sudah sangat khas dengan bahasanya yang memikat karena selalu mengedapankan pengeditan ketat. Pengeditan yang sengaja dilakukan, buat memenui dahaga pembaca akan bacaan indah mencekam, namun mengandung kebenaran dan manfaat.

Monday, February 1, 2016

HARRY POTTER BUKAN KARYA JK. ROWLING

Apaan sih, hanya cerita anak khayalan. Membacanya membuat saya serasa dibohongi. 

Begitulah anggapan saya sebelumnya kepada buku Harry Potter, sekalipun banyak orang yang suka dan membaca. Sekalipun seorang teman berkata, saat dia membaca buku itu, dia bisa menamatkannya dengan sangat cepat saking menariknya.

Tapi tetap, saya tidak tertarik juga.

Saya heran kenapa orang-orang suka. Kenapa begitu semangatnya mereka membeli dan membaca dari jilid ke jilid, padahal itu cuma buku khayalan. Dan jilid itu tebal-tebal. Dan yang lebih aneh, yang membaca itu banyak juga dari orang dewasa. 

Hernowo bahkan memujinya habis-habisan. Secara khusus dia menulis buku berjudul "Andaikan Buku Itu Sepoting Pizza. Mengupas Kelezatan 4 Buku Harry Potter." Akan tetapi saya, lebih tertarik baca buku Hernowo daripada membaca buku Harry Potternya. 

Akan tetapi sebagus apapun sanjungan Hernowo pada buku itu, rasa tertarik saya belum begitu besar menyala. Melihat tebalnya buku Harry Potter ditambah pikiran bahwa itu cuma karangan, rasa penasaran saya masih biasa.

Sampai suatu ketika, saya menembukan blog milik Hoeda Manis. Pada blognya itu dia curhat 10 buku terbaik yang dia baca sepanjang tahun 2105. Salah satunya buku berjudul "Comitte 300" yang ditulis oleh seorang Doktor bernama Joh Coleman. Satu bagian paling menarik dalam buku itu adalah saat menyebutkan, bahwa JK ROWLING SEBENARNYA BUKAN PENULIS HARRY POTTER.


Hoeda Manis menulis:

"Apakah ini mengejutkan? Jelas. Jika kalian bertanya apakah saya percaya apa yang dikatakan buku ini? terus terang, ya saya percaya."


Kemudian tulisnya,

"Sebelum JK. Rowling menulis novel lain di luar Harry Potter, saya tentu percaya dialah yang memang menulis novel tersebut. Tetapi ketika JK. Rowling menulis di luar Harry Potter-dan saya juga membaca novel-novel tersebut--kepercayaan saya mulai goyah. Ada banyak kejanggalan yang saya temukan selama membaca novel Rowling di luar Harry Potter. (Penjelasan mengenai ini bisa sangat panjang, jadi mungkin akan saya uraikan di catatan lain...)"


"Yang jelas kecurigaan saya terhadap JK. Rowling seperti mendapatkan konfirmasi dalam buku Committe 300."

"Dalam buku itu Dr. John Coleman mengatakan bahwa Harry Potter sebenarnya bukan karya JK. Rowling, melainkan kreasi sekelompok orang di Travistock Institute--salah satu think thank Komite 300--yang di dalamnya terdapat orang-orang jenius. Sementara Harry Potter sebenarnya personifikasi Richard Potter, seorang milliuner tak terkenal yang menggeluti sihir dan okultisme. Rihcard Potter benar-benar ada, tapi menutup diri dari publik, sehingga sosoknya kurang dikenal."


Setelah membaca itu, penasaran saya menjadi besar. Setelah membaca tulisan Hoeda Manis, saya pun coba membandingkan. Jika Harry Potter betul karya JK. Rowling, kenapa buku dia setelah itu tidak begitu dahsyat? Terjemahan Casual Vancanci misalnya, terjual biasa-biasa saja. Bahkan salah satu kios pada Islamic Bookfire tahun 2015 menempatkan buku itu pada tumpukan buku murah.

Ajaibnya, kenyataan adanya kabar Harry Potter bukan karya JK. Rowling, bukan menjadikan saya memandang rendah. Justru jadi sangat penasaran. Jika memang benar buku itu ditulis kelompok yang di dalamnya banyak orang jenius, berarti hasilnya bukan karya biasa. 

Pantas saja selama ini buku itu memesona orang dari berbagai usia. Pantas saja teman saya berkata, membaca tebal itu sanggup dalam waktu singkat. Seorang editor buku, teman kerja saya menyebutkan, mantra-mantra yang tertulis dalam b buku itu bukan mantra asal mengarang. Tapi memang ada dan dipakai di dunia persihiran.

Itulah sebabnya, saat buku ini kembali saya temukan di Bazar murah, segera saya beli. Hard Cover. Meskipun hanya satu jilid, yaitu Harry Potter and Order Of Phoenix, tetap saya ambil karena penasaran. Sebagus apa sih teksnya? Dan ketika di kantor buku itu saya buka dan baca, teknik berceritanya memang sangat menenggelamkan. Tanpa butuh sebutan sastra, kenyataan bagusnya susunan kata dan cerita buku itu sendiri yang berkata.

Mau Betulin Hape