Langsung dah saya menyeduh kopi merayakan kebahagiaan diterima oleh google adsense. Bahasa kerennya di approve gitu lho. Kopi di kolong meja saya bawa ke dekat rak piring, menyiapkan cangkir bersih, dan menyeduhnya. Kopi Torabika Cappuchino, saya taburkan moccanya, tapi tampak di dalam gelas, air tergenang, air bekas mencuci gelas, jadi saya tumpahkan, dan moccachino terbuang.
Tidak mengapa, masih ada kopinya.
Sedu dengan air dispenser dan bawa ke meja. Meminumnya terasa bersalah, teringat beberapa hari lalu perut mual, setelah minum kopi ini, dan waktu itu belum makan. Wah saya harus sarapan nih. Niat menulis pun tertunda, menuruni dulu tangga, membuka gembok pintu depan, keluar, berniat mendatangi tepian jalan di mana sebuah roda gorengan biasanya mangkal. Tidak tahu kenapa padahal saya tahu bahayanya gorengan, karena enak, pagi hari itu selalu saja tak tahan buat membeli gorengan. Dan ah itu roda yang beberapa hari kemarin hilang tak mangkal di sana, sekarang ada. Singkong goreng, itu kesukaan saya. Selain besar, singkong lebih harum, gurih dan alami dibanding bakwan dan cireng. Masih proses penggorengan. Saya tunggu sambil mengajak ngobrol si Bapak.
"Beberapa hari kemarin ke mana Pak?"
"Natus."
Natus adalah istilah kenduri seratus hari setelah seseorang meninggal dunia.
"Siapa yang meninggal?"
"Ibu"
"Oh" harusnya saya mengucapkan istirja tetapi tidak.
Singkong goreng diangkat ke penirisan minyak. Sebelum disimpan di tempat penyusunan pajangan gorengan saya ambil singkong itu dengan penjepit dan masukkan ke kantong kertas.
Bawa ke kantor, sambil kembali kerja, singkong itu saya makan.
Maaf banyak bicara, ini saking bahagianya.
Oh ya saya lupa. Tadi sepanjang perjalanan kembali ke kantor, banyak sekali inspirasi datang. Bahwa saya, sekarang harus menulis habis habisan. Menulis gila gilaan. Dan tulisan saya harus difokuskan ke dunia perbukuan. Menulis secepat cepatnya, menulis sebanyak-banyaknya. Hiperbolisnya, saya harus banyak menulis sebagaimana orang lain banyak bicara. Apa yang selama ini saya jadikan bahan pembicaraan yang dikeluarkan dengan lisan, sekarang harus saya tuliskan.
Dari pembicaraan lisan kepada pembicaraan tulisna. Apa pun yang ingin saya ungkapkan dengan lisan, lebih baik saya ungkapkan ke dalam tulisan. Gunanya, semakin saya diam, semakin orang lain tidak bising dengan kata-kata saya. Semakin saya banyak diam, semakin orang lain penasaran dengan apa isi hati saya, dan karena mereka penasaran dengan isi hati saya, maka mereka akan membaca tulisan saya. Hahaha, gede rasa banget ya. Memang siapa yang akan tertarik dengan saya? Memang siapa yang akan penasaran pada saya? Memangnya punya kelebihan apa?
Heheh, tidak punya kelebihan sih.
Ini mah bercanda saja, siapa tahu ada benarnya. Hehe.
Ini mah hanya cara saya saja untuk memperbanyak tulisan.
Oh ya, perbincangan blog akan lebih banyak saya fokuskan ke buku. Ini dikarenakan banyak seklai alasan.
Pertama, saya bekerja di dunia perbukuan. Hai kamu yang penasaran di manakah kerja saya sekarang, setelah sekian lama menghilang tidak bertemu dengan kalian, sekarang saya kerja di dunia perbukuan. Sejak dulu saya memang cinta buku, dan sangat cinta kepada buku, maka kini pun kerja di dunia penerbitan buku. Di sini, karena sebagian besar tugas saya adalah menjual, menjual buku, maka yang harus saya lakukan adalah menuliskan iklan dengan sebaik-baiknya supaya orang terpikat. Penerbit tempat saya kerja meluncurkan banyak sekali buku Asma Nadia, maka yang harus banyak saya tuliskan adalah buku Asma Nadia. Akan saya tuliskan review buku itu di blog.
Kedua, saya gila buku, saya membeli buku bukan karena ingin membaca buku itu, karena ternyata bagi saya betapa sempitnya waktu. Membeli buku hanya karena kegilaan saya terhadap buku. Lihat ke sini, ke kantor saya, sebuah lemari saya bajak dan saya penuhi dengan buku saya. Mengerikan, dan sebagian besar buku itu belum saya baca, bertumpuk saja di sana tidak bermanfaat. Maka tadi malam, pas datang teman bersama istrinya, saat dia mengatakan ingin meminjam buku, saya persilakan. Kemudian si suami membawa buku tebal berjudul "Sejarah Tuhan" dan istrinya membawa buku Ipho Santosa berjudul "13 Wasiat Terlarang". Begitulah buku saya tertumpuk banyak yang tidak terbaca, karenanya sebagian saya tawarkan ke orang orang buat dijual.
Dan eh meski buku saya sudah banyak, masih saja merasa kurang dengan mendaftarkan diri ke perpustakaan kota. Kota Depok ini terbilang kota besar, langit oleh gedung-gedung tinggi dicakar, karenanya cukup memalukan jika tidak punya perpustakaan. Untungnya punya, sebuah perpustakaan besar yang bahkan alat naiknya memakai lift, mewah deh pokoknya, kursi tempat duduknya juga menggunakan kursi putar, dan saat saya mendaftar ke sana kemarin, prosesnya sangat cepat, kartu bisa dibawa hari kemarin juga.
Ketiga, alasan kenapa hanya tentang buku yang akan saya tuliskan, karena saya punya ide unik tentang ini. Judul yang akan saya buat untuk setiap tulisan adalah judul yang bisa menarik perhatian. Misalnya gila buku, mabuk buku, buku-buku menyesatkan, kenapa buku ini dilarang, buku yang mengandung dosa, dan sebagainya, Hanya buat menarik orang mengklik dan membaca.
Ah pokonya saya akan menulis segila-gilanya, sebanyak-banyaknya, tentang dunia perbukuan. Mengingat googl sudah menyetujui situs saya untuk dia tempatka iklan.
Akan tetapi ah, saat blog kembali saya buka untuk ke sekian kalinya, iklan itu hilang, tidak muncul lagi di sana, dan yang ada hanya tempatnya saja, yang kosong. Dan saat saya cek ke akun adsense saya, ternyata, katanya, blog saya masih dalam proses peninjauan, jadi iklan yang ada sekarang hanya berupa lahan kosong saja. Nanti setelah google setuj iklan akan mereka cantumkan juga.
Uhuk uhuk.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Ketika orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam tulisan, saya berlomba menjadi yang terburuk. Ketika orang berlomba berusaha memperli...
-
Kita tidak bisa menyebut sebuah nama ketika pikiran lupa Ilmu datang ke dalam pikiran kita oleh Allah, dan Dia bisa menghilangkannya kapan...
No comments:
Post a Comment