Wiro masih mondar-mandir, belum pulang, padahal sudah Maghrib. Dia menunggu Wulan yang masih sibuk ngedit.
"Wir, buku SAKITNYA BERSAMAMU sudah tamat berapa kali?" tanya saya.
"Waktu dulu ngedit sampai berkali-kali tamat." jawab Wiro sambil nyengir.
"Kalu buku ini?" saya menunjukkan buku SAKINAH BERSAMAMU.
"Hah? Belum." jawab Wiro lemas.
Wulan menengok, bengong sebentar, lalu kembali menatap layar komputer.
"Wah bahaya. Bisa jadi ancaman nih," saya berusaha membuat Wulan cemas. Wiro sudah berkali-kali menamatkan buku SAKITNYA BERSAMAMU, tapi belum pernah sekalipun tamat membaca buku SAKINAH BERSAMU, ini sangat mengkhawatirkan.
Tapi dengan logat medok jawanya Wulan ngeles, "Ya nggak papa, BERSAKIT-SAKIT DAHULU, SAKINAH KEMUDIAN."
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Ketika orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam tulisan, saya berlomba menjadi yang terburuk. Ketika orang berlomba berusaha memperli...
-
Kita tidak bisa menyebut sebuah nama ketika pikiran lupa Ilmu datang ke dalam pikiran kita oleh Allah, dan Dia bisa menghilangkannya kapan...
No comments:
Post a Comment