Ada yang menyebutkan setelah shalat malam jangan tidur lagi, bagaimana itu? Tanya seorang istri.
Memang jangan, kan harusnya kita isi dengan berdoa, jawab suaminya.
Terkadang saya terbangun jam 2 dini hari, shalat, dan setelah itu tidur lagi, kata si istri lagi.
Oh ya memang Nabi Muhammad juga pernah menyebutkan jika ngantuk mah tidur saja, nanti akan Shalat Shubuh dalam keadaan ngantuk tidak baik juga.
Oh ya, sahut sang istri.
Kok bisa bangun jam 2? tanya suaminya.
Biasanya karena mau pipis, langsung saja sekalian berwudlu, jawab si istri.
Lebih bagus itu, karena saat-saatnya orang lelap tidur, suaminya memberi semangat.
===============
Islam datang untuk memberi kemudahan. Ajaran-ajarannya mudah. Nabi pernah bersabda, agama ini mudah, siapa mempersulitnya maka dia akan kalah.
Saat diberikan dua pilihan antara yang sulit dan yang mudah dalam beragama, maka Nabi memilih yang mudah. Itulah sunnah yang beliau ajarkan kepada para sahabat.
Alkisah dua orang sahabat datang kepada Rasulullah mengadukan permasalahan mereka. Baru saja keduanya mengadakan perjalanan kemudian datang waktu shalat dan tidak menemukan air. Keduanya tayamum kemudian mengerjakan shalat. Setelah itu berjalan lagi kemudian menemukan air. Salah seorang dari mereka mengulang shalatnya, seorang lagi tidak. Keduanya sama tidak tahu mana dari mereka yang benar. Maka keduanya datang kepada Rasululllah dan bertanya. Bagaimana jawab rasulullah?
"Kamu yang mengulang lagi shalatnya dapat pahala dua kali. Kamu yang tidak mengulang berarti mengikuti sunnahku."
Itulah sebabnya maka tak mengapa setelah shalat malam kemudian tidur dulu. Daripada ngantuk kemudian mendirikan shalat dalam keadaan lelah, lebih baik kembalikan dulu energi badan dengan istirahat.
===================
SHALATLAH PADA WAKTU MALAM SAAT MANUSIA TIDUR
Ujung percakapan antara suami istri di atas mengingatkan saya kepada pesan Nabi Muhammad Saw: "Wahai manusia sebarkanlah salam, berilah makan, sambungkan sillaturrahmi, dan shalatlah di waktu malam sedang manusia dalam keadaan tidur. Niscaya engkau akan masuk surga dengan selamat sejahtera."
Bunyi hadits dalam Bahasa Arabnya sangat indah.
Ayyuhannas. afsyaussalam,
Waithamutthaam
Washillul arham
Wasshalaatum billaili wannasu niyaam,
Tadkhulul jannata bissalam
Saya kembali mendengar hadits ini dari ceramah Ust. Yusuf Mansur yang saya putar di youtube handphone sebelum tidur. Shaleh sekali Ust, ini semoga kebaikan selalu mengalir kepadanya dan catatan kebaikan dan dari ilmu-ilmunya yang bermanfaat. Amiin. Terima kasih ya Allah telah menciptakan orang-orang shalih yang mengingatkan kami dengan ilmunya.
Monday, March 7, 2016
Saturday, March 5, 2016
Ingin Ceritamu Menarik? Lakukan Pelanggaran
Sebenarnya menulis yang enak dibaca itu sangat mudah. Bercerita saja. Ceritakan apa yang sudah menjadi pengalaman. Ceritakanlah cerita mengesankan yang pernah Anda dengar.
Lalu bagaimana supaya sebuah cerita menarik dan orang lain mau membaca. Banyak sekali caranya, tapi saya punya cara pribadi, yaitu melanggar.
Langgarlah kebiasaan. Jika orang lain memulai carita dari awal, ke tengah, dan ke akhir, cobalah kamu membuat cerita dari tengahnya. Dari seru-serunya, kemudian ceritakan bagaimana awalnya. baru penyelesaian. Bosan dengan cara itu coba membuat cerita dari akhir, mundur ke tengah, kemudian baru ke awal. Atau dimulai dari tengah, ke akhir, ke awal.
Langgarlah kebiasaan cerita-cerita yang sudah ada. Jika biasanya cerita orang mengirim surat itu kepada orang yang dicintainya, kini buatlah cerita dengan kata indah berbunga-bunga, manis bermadu-madu, cerah berkilau-kilau itu ternyata dikirimkan untuk tiang listrik pinggir jalan. Jika biasanya wanita mengusap janin sambil kebingungan itu seorang hamil di luar nikah, maka buatlah cerita baru yang menyebut bahwa itu bukan karena hamil di luar nikah. Jadilah pelanggar. Dengan begitu, orang akan menduga ceritamu berakhir di A, padahal ternyata di Z.
Bagaimana dengan melanggar tanda baca? Misalnya orang biasanya menulis cerita menggunakan tanda kutip untuk perkataan para tokohnya, tapi kamu tidak menggunakannya, bagaimana?
Jika memang dengan cara itu ceritamu lebih nikmat, lebih lancar, dan lebih enak dibaca, kenapa tidak. Lakukan saja pelanggaran, dan tidak perlu takut menjadi beda! Saya menulis dalam bentuk baris baris seperti puisi tanpa titik, kemudian datang orang memberi komentar tulisan saya ancur luar biasa. Dia katakan ini seperti puisi tapi bukan, tanggapan saya sih santai saja. Yang penting orang tertarik membaca dan mendapatkan manfaat, selebihnya dia malah melihat sebuah keburukan dari cara saya menulis terserah dia.
Lalu bagaimana supaya sebuah cerita menarik dan orang lain mau membaca. Banyak sekali caranya, tapi saya punya cara pribadi, yaitu melanggar.
Langgarlah kebiasaan. Jika orang lain memulai carita dari awal, ke tengah, dan ke akhir, cobalah kamu membuat cerita dari tengahnya. Dari seru-serunya, kemudian ceritakan bagaimana awalnya. baru penyelesaian. Bosan dengan cara itu coba membuat cerita dari akhir, mundur ke tengah, kemudian baru ke awal. Atau dimulai dari tengah, ke akhir, ke awal.
Langgarlah kebiasaan cerita-cerita yang sudah ada. Jika biasanya cerita orang mengirim surat itu kepada orang yang dicintainya, kini buatlah cerita dengan kata indah berbunga-bunga, manis bermadu-madu, cerah berkilau-kilau itu ternyata dikirimkan untuk tiang listrik pinggir jalan. Jika biasanya wanita mengusap janin sambil kebingungan itu seorang hamil di luar nikah, maka buatlah cerita baru yang menyebut bahwa itu bukan karena hamil di luar nikah. Jadilah pelanggar. Dengan begitu, orang akan menduga ceritamu berakhir di A, padahal ternyata di Z.
Bagaimana dengan melanggar tanda baca? Misalnya orang biasanya menulis cerita menggunakan tanda kutip untuk perkataan para tokohnya, tapi kamu tidak menggunakannya, bagaimana?
Jika memang dengan cara itu ceritamu lebih nikmat, lebih lancar, dan lebih enak dibaca, kenapa tidak. Lakukan saja pelanggaran, dan tidak perlu takut menjadi beda! Saya menulis dalam bentuk baris baris seperti puisi tanpa titik, kemudian datang orang memberi komentar tulisan saya ancur luar biasa. Dia katakan ini seperti puisi tapi bukan, tanggapan saya sih santai saja. Yang penting orang tertarik membaca dan mendapatkan manfaat, selebihnya dia malah melihat sebuah keburukan dari cara saya menulis terserah dia.
Buku Tahajjud: Menggapai Kedudukan Mulia
Kebodohan terbesar yang sangat sering kita ulang adalah berharap kepada manusia. Menanti pemberian dari manusia, namun sayang tak mengertin juga. Mengharapkan cinta dari seseorang orang, dia seakan tidak mengerti perasaan kita. Masih untung jika dia bersikap biasa, yang menyakitkan adalah saat sikap yang dia tunjukkan sebaliknya, bukan cinta, melainkan kebencian.
Sesering kita mendapatkan kekecewaan dari berharap kepada manusia, sesering itu pula kita mengulangnya. Sebuah video menunjukkan serombongan sapi yang lewat ke sebuah jalan yang di bawahnya mengalir sungai, kemudian kaki sapi terdepan terperosok ke bawah. Setelah susah payah bangun, sapi di belakangnya meloncat, berusaha supaya tidak terperosok ke dalam lubang. Sapi saja mengambil pelajaran dari kesialan sapi lain, kenapa kita tidak. Sudah jelas berharap kepada manusia itu hanya akan berbuah kekecewaan, tapi anehnya, selalu saja kekeliruan itu kita ulang.
Berharap itu hanya kepada Allah. Berharap kepada manusia akan kecewa. Ingin kedudukan mulia, berharaplah kedudukan mulia dari Allah.
"Dan dari sebagian malam maka tahajjudlah sebagai ibadah tambahan bagimu, mudah mudahan Rabb-mu mengangkatmu kepada kedudukan terpuji."
Seorang yang dimuliakan kedudukannya oleh Allah antara lain Syaikh Bayazid Busthami. Sampai kini, beliau dikenang keshalihannya. Menjadi teladan, ilmunya bermanfaat, kisahnya ditulis, dibaca dari generasi ke genarasi, menjadi buah tutur yang baik bagi orang-orang setelahnya.
Ketika waktu kecil ia membaca Al-Qur'an sampai kepada surat Al-Muzzammil ayat 1-2, "Wahai orang yang berselimut, bangunlah (untuk shalat) di waktu malam, kecuali sedikit daripadanya", dia bertanya kepada ayahnya,
"Wahai Ayah, siapakah yang diperintahkan Allah untuk mengerjakan Shalat Malam/Tahajjud seperti ini? Ayahku menjawab, yang mendapatkan perintah seperti ini adalah Nabi Muhammad Saw."
"Lalu kenapa Ayah tidak melakukan apa yang dilakukan Nabi Saw?"
Ayahnya menjawab, "Itu merupakan perintah yang karenanya Allah memuliakan Nabi Muhammad Saw."
Lalu ketika Bayazid membaca Surat Al-Muzzammil ayat 20, "Dan demikian pula segolongan dari orang-orang yang bersama kamu." maka ia bertanya, "Ayah, siapakah golongan tersebut?" ayahnya menjawab, "Mereka itu adalah para Sahabat Nabi Muhammad Saw." ia berkata, "Mengapa ayah tidak melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat Nabi Muhammad Saw?" ayahnya menjawab, "Mereka itu memang orang-orang yang telah dikuatkan oleh Allah Swt. untuk melakukan shalat malam." Bayazid berkata, "Wahai Ayah, tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak meneladani Nabi Muhammad Saw. dan para sahabatnya."
Akhirnya sang ayah senantiasa mengerjakan shalat malam/tahajjud.
Bayazid kecil berkata lagi, "Wahai Ayah, ajarkanlah shalat malam ini kepadaku." ayahnya menjawab, "Anakku, kamu masih kecil." ia berkata, "Jika nanti Allah telah menghimpun seluruh makhluk pada hari kiamat, lalu memerintahkan orang-orang yang mengerjakan shalat malam untuk masuk ke dalam surga, maka aku akan berkata, 'Ya Rabbi, aku sebenarnya ingin mengerjakan shalat malam, akan tetapi ayah mencegahku." sang ayah pun segera berkata, "Sekarang, kerjakanlah shalat malam!"
Dinukil dari kitab Dhou'usy Syams halaman 460.
Begitulah kisah bagaimana ulama shalih ini belajar melakukan shalat malam, hingga hidup beliau diangkat derajatnya oleh Allah kepada kedudukan mulia.
Sesering kita mendapatkan kekecewaan dari berharap kepada manusia, sesering itu pula kita mengulangnya. Sebuah video menunjukkan serombongan sapi yang lewat ke sebuah jalan yang di bawahnya mengalir sungai, kemudian kaki sapi terdepan terperosok ke bawah. Setelah susah payah bangun, sapi di belakangnya meloncat, berusaha supaya tidak terperosok ke dalam lubang. Sapi saja mengambil pelajaran dari kesialan sapi lain, kenapa kita tidak. Sudah jelas berharap kepada manusia itu hanya akan berbuah kekecewaan, tapi anehnya, selalu saja kekeliruan itu kita ulang.
Berharap itu hanya kepada Allah. Berharap kepada manusia akan kecewa. Ingin kedudukan mulia, berharaplah kedudukan mulia dari Allah.
"Dan dari sebagian malam maka tahajjudlah sebagai ibadah tambahan bagimu, mudah mudahan Rabb-mu mengangkatmu kepada kedudukan terpuji."
Seorang yang dimuliakan kedudukannya oleh Allah antara lain Syaikh Bayazid Busthami. Sampai kini, beliau dikenang keshalihannya. Menjadi teladan, ilmunya bermanfaat, kisahnya ditulis, dibaca dari generasi ke genarasi, menjadi buah tutur yang baik bagi orang-orang setelahnya.
Ketika waktu kecil ia membaca Al-Qur'an sampai kepada surat Al-Muzzammil ayat 1-2, "Wahai orang yang berselimut, bangunlah (untuk shalat) di waktu malam, kecuali sedikit daripadanya", dia bertanya kepada ayahnya,
"Wahai Ayah, siapakah yang diperintahkan Allah untuk mengerjakan Shalat Malam/Tahajjud seperti ini? Ayahku menjawab, yang mendapatkan perintah seperti ini adalah Nabi Muhammad Saw."
"Lalu kenapa Ayah tidak melakukan apa yang dilakukan Nabi Saw?"
Ayahnya menjawab, "Itu merupakan perintah yang karenanya Allah memuliakan Nabi Muhammad Saw."
Lalu ketika Bayazid membaca Surat Al-Muzzammil ayat 20, "Dan demikian pula segolongan dari orang-orang yang bersama kamu." maka ia bertanya, "Ayah, siapakah golongan tersebut?" ayahnya menjawab, "Mereka itu adalah para Sahabat Nabi Muhammad Saw." ia berkata, "Mengapa ayah tidak melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat Nabi Muhammad Saw?" ayahnya menjawab, "Mereka itu memang orang-orang yang telah dikuatkan oleh Allah Swt. untuk melakukan shalat malam." Bayazid berkata, "Wahai Ayah, tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak meneladani Nabi Muhammad Saw. dan para sahabatnya."
Akhirnya sang ayah senantiasa mengerjakan shalat malam/tahajjud.
Bayazid kecil berkata lagi, "Wahai Ayah, ajarkanlah shalat malam ini kepadaku." ayahnya menjawab, "Anakku, kamu masih kecil." ia berkata, "Jika nanti Allah telah menghimpun seluruh makhluk pada hari kiamat, lalu memerintahkan orang-orang yang mengerjakan shalat malam untuk masuk ke dalam surga, maka aku akan berkata, 'Ya Rabbi, aku sebenarnya ingin mengerjakan shalat malam, akan tetapi ayah mencegahku." sang ayah pun segera berkata, "Sekarang, kerjakanlah shalat malam!"
Dinukil dari kitab Dhou'usy Syams halaman 460.
Begitulah kisah bagaimana ulama shalih ini belajar melakukan shalat malam, hingga hidup beliau diangkat derajatnya oleh Allah kepada kedudukan mulia.
Friday, March 4, 2016
Pesantren Impian
Film Pesantren Impian mengajarkan, betapa pentingnya untuk berhati-hati
Dalam berprasangka kepada orang
Di film Pesantren Impian dalam hal ini, berprasangka kepada orang yang hendak bertaubat
Belajar menempuh jalan kebenaran,
Kemudian, seseorang malah menuduhnya, melakukan pembunuhan
Sambil menganggap dia
Terus membawa-bawa watak masa lalunya
Yang tak pernah bisa disembuhkan
Itu sangat berbahaya
Sebab bisa saja, prasangka dan anggapan itu akan memengaruhi
Si orang
Membuat dia yang
Berpikir untuk kembali ke masa lalunya
Untunglah itu tak terjadi pada para tokoh Pesantren Impian
Inong, tetap dengan ketekunannya ibadah
Inong, tetap dengan niatnya menapaki jalan kebenaran
Inong, tidak goyah
Namun demikian, tetap
Betapa pentingnya kehati-hatian sebelum kita menjatuhkan tuduhan kepada orang
Saya teringat buku "Ketika Allah Menguji Kita"
Di sana terdapat kisah
Seorang pria divonis kurungan seumur hidup
Karena tuduhan membunuh
Dia pun masuk ke dalam kurungan, sekian lama
Sejak masih muda
Hingga menjelang tua dan saat itu kembali dilakukan penyelidikan
Dan ternyata
Ditemukan data yang menunjukkan, si pria ini tidak bersalah
Yang melakukan pembunuhan ternyata bukan dia.
Sang pria pun dibebaskan
Bayangkan, sekian tahun dalam kurungan
Masa muda harus terbuang dalam penjara, usianya disia-siakan, namanya dihancurkan
Untuk mempertanggungjawabkan kesalahan yang tak pernah diperbuatnya
Dan setelah itu
Setelah dia dibebaskan
Karena dia telah dipenjara padahal seharusnya dia tidak dipenjara dan selama dipenjara itu dia telah menghabiskan sekian banyak biaya untuk mengurusnya, dia dituntut harus membayar ganti biaya hidupnya selama dipenjara!
Begitulah gambaran begitu pentingnya kehati-hatian saat hendak melemparkan tuduhan
Seperti yang terjadi pada film pesantran impian
Bersama tokoh Eni yang terus dibuat bertanya, ini pelakunya siapa
Sebenarnya ini pelakunya siapa
Penonton pun terus dibuat penasaran, dan merasakan,
Sama-sama harus hati-hati, khawatir salah melemparkan tuduhan
Dalam berprasangka kepada orang
Di film Pesantren Impian dalam hal ini, berprasangka kepada orang yang hendak bertaubat
Belajar menempuh jalan kebenaran,
Kemudian, seseorang malah menuduhnya, melakukan pembunuhan
Sambil menganggap dia
Terus membawa-bawa watak masa lalunya
Yang tak pernah bisa disembuhkan
Itu sangat berbahaya
Sebab bisa saja, prasangka dan anggapan itu akan memengaruhi
Si orang
Membuat dia yang
Berpikir untuk kembali ke masa lalunya
Untunglah itu tak terjadi pada para tokoh Pesantren Impian
Inong, tetap dengan ketekunannya ibadah
Inong, tetap dengan niatnya menapaki jalan kebenaran
Inong, tidak goyah
Namun demikian, tetap
Betapa pentingnya kehati-hatian sebelum kita menjatuhkan tuduhan kepada orang
Saya teringat buku "Ketika Allah Menguji Kita"
Di sana terdapat kisah
Seorang pria divonis kurungan seumur hidup
Karena tuduhan membunuh
Dia pun masuk ke dalam kurungan, sekian lama
Sejak masih muda
Hingga menjelang tua dan saat itu kembali dilakukan penyelidikan
Dan ternyata
Ditemukan data yang menunjukkan, si pria ini tidak bersalah
Yang melakukan pembunuhan ternyata bukan dia.
Sang pria pun dibebaskan
Bayangkan, sekian tahun dalam kurungan
Masa muda harus terbuang dalam penjara, usianya disia-siakan, namanya dihancurkan
Untuk mempertanggungjawabkan kesalahan yang tak pernah diperbuatnya
Dan setelah itu
Setelah dia dibebaskan
Karena dia telah dipenjara padahal seharusnya dia tidak dipenjara dan selama dipenjara itu dia telah menghabiskan sekian banyak biaya untuk mengurusnya, dia dituntut harus membayar ganti biaya hidupnya selama dipenjara!
Begitulah gambaran begitu pentingnya kehati-hatian saat hendak melemparkan tuduhan
Seperti yang terjadi pada film pesantran impian
Bersama tokoh Eni yang terus dibuat bertanya, ini pelakunya siapa
Sebenarnya ini pelakunya siapa
Penonton pun terus dibuat penasaran, dan merasakan,
Sama-sama harus hati-hati, khawatir salah melemparkan tuduhan
Thursday, March 3, 2016
Aku Ingin Di Sini Saja: Menulis Buku
Aku, ingin tetap bahagia, di sini
Tenang
Duduk, di depan meja, membaca,
Membaca buku yang banyak, yang bermanfaat, yang menambah pengetahuan berharga
Tenggelam ke dalam cerita
Tenggelam ke dalam pelik rumit tapi asyiknya pengetahuan
Dan...
Menulis
Menuliskan apa saja yang ada dalam pikiran
Menuliskan apa saja yang ingin kutuliskan
Dekat dengan ketikan
Dekat dengan microsoft word
Dekat dengan blog, dekat dengan facebook, dekat dengan buku-buku
Kepada diri ini ingin kumengingatkan
Selalu, harus bisa
Bahwa
Apapun yang kutuliskan,
Haruslah bermanfaat dan menyampaikan kebenaran
Tanpa peduli apa tanggapan orang, yang penting, bagaimana ini semua di hadapan Allah
Bagaimana aku menulis sesuatu yang diridhai Allah
Harus bisa, dan
Harus kuusahakan, di mana pun aku menulis, di status facebook di twitter
Jangan sampai kulupa, harus kukumpulkan
Seorang blogger, kulihat pernah mengumpulkan
Twit di twitternya, dia pindahkan ke blog, dan kumpulkan di sana
Sebagai karya dia hari itu
Maka begitu juga tulisanku pada komentar orang
Jangan sampai sia-sia
Harus kuambil dan kumpulkan, karena tulisan itu sudah kubuat dengan tenaga
Dengan pikiran, dan dengan pengetahuan yang Allah berikan
Karenanya tugasku
Setelah menuliskan hal-hal berharga,
Maka seterusnya, harus kuhargai hal berharga yang kutuliskan
Harus kukumpulkan
Semoga
Nanti ada saat di mana
Aku bisa menyantukannya dengan tulisan lain yang
Senada, setema, sehingga
Kumpulan tulisan bertautan, menjadi tulisan panjang, berupa artikel,
Yang ketika, artikel itu semakin banyak, bisa dikumpulkan bersama artikel setema
Dan kuikat menjadi sebuah buku
Buku karyaku
Hasil jerih payahku dengan pertolongan Allah
Betapa bahagianya
Tenang
Duduk, di depan meja, membaca,
Membaca buku yang banyak, yang bermanfaat, yang menambah pengetahuan berharga
Tenggelam ke dalam cerita
Tenggelam ke dalam pelik rumit tapi asyiknya pengetahuan
Dan...
Menulis
Menuliskan apa saja yang ada dalam pikiran
Menuliskan apa saja yang ingin kutuliskan
Dekat dengan ketikan
Dekat dengan microsoft word
Dekat dengan blog, dekat dengan facebook, dekat dengan buku-buku
Kepada diri ini ingin kumengingatkan
Selalu, harus bisa
Bahwa
Apapun yang kutuliskan,
Haruslah bermanfaat dan menyampaikan kebenaran
Tanpa peduli apa tanggapan orang, yang penting, bagaimana ini semua di hadapan Allah
Bagaimana aku menulis sesuatu yang diridhai Allah
Harus bisa, dan
Harus kuusahakan, di mana pun aku menulis, di status facebook di twitter
Jangan sampai kulupa, harus kukumpulkan
Seorang blogger, kulihat pernah mengumpulkan
Twit di twitternya, dia pindahkan ke blog, dan kumpulkan di sana
Sebagai karya dia hari itu
Maka begitu juga tulisanku pada komentar orang
Jangan sampai sia-sia
Harus kuambil dan kumpulkan, karena tulisan itu sudah kubuat dengan tenaga
Dengan pikiran, dan dengan pengetahuan yang Allah berikan
Karenanya tugasku
Setelah menuliskan hal-hal berharga,
Maka seterusnya, harus kuhargai hal berharga yang kutuliskan
Harus kukumpulkan
Semoga
Nanti ada saat di mana
Aku bisa menyantukannya dengan tulisan lain yang
Senada, setema, sehingga
Kumpulan tulisan bertautan, menjadi tulisan panjang, berupa artikel,
Yang ketika, artikel itu semakin banyak, bisa dikumpulkan bersama artikel setema
Dan kuikat menjadi sebuah buku
Buku karyaku
Hasil jerih payahku dengan pertolongan Allah
Betapa bahagianya
Thursday, February 25, 2016
Kecerdasan Itu Dipinjam
Quote ini saya dapatkan dari buku David Kord Murray
BORROWING BRILIANCE, Rahasia Sukses Dengan Meminjam Gagasan Orang Lain
Saya heran, kenapa buku ini dijual murah
Padahal
Besar, tebal, dan isinya sangat berharga
Pengetahuan aktua, tentang membangun kreatifitas.
SETIAP GAGASAN LAHIR DARI GAGASAN LAIN, BERGANTUNG DAN MUNCUL DARI GAGASAN SEBELUMNYA. ITU SEBABNYA SAYA MENGATAKAN, BAHWA KECERDASAN ITU DIPINJAM.
Kalau saya disuruh membuat cerita, jujur tidak bisa. Langsung membuat kerangka, kemudian menggarapnya menjadi sebuah kisah yang menarik dibaca, terus terang susah. Sementara ini, hanya tiga hal yang memicu saya bisa menyusun cerita.
Pertama, setelah mendapatkan pengalaman menarik.
Kedua, setelah mendengar pengalaman menarik orang
Ketiga, setelah membaca cerita karya orang
Nyambung kepada judul di atas, saya akan fokus kepada point ketiga. Saya mendapatkan ide cerita setelah membaca karya orang. Maaf, menceritakan dan mencontohkan diri bukan berarti karya saya bagus. Ini hanya karen orang terdekat yang bisa saya bicarakan adalah diri saya sendiri.
Jadi saat membaca karya orang, pikiran ini menebak-nebak. Wah ini pasti akhirnya begini nih. Misalnya semalam, membaca karya peserta cinta dalam aksara, mengawali ceritanya dengan menyebut-nyebut perutnya yang membesar. Apa yang harus kulakukan pada janin dalam perutku ini. Dengan kalimat pembuka semacam itu maka pembaca menebak, wah ini pasti menceritakan gadis hamil di luar nikah. Nah, seketika muncul di pikiran saya, bagaimana kalau membuat cerita dengan opening yang sama, kemudian menggiring pembaca menebak itu cerita wanita hamil di luar nikah, tapi ujungnya ternyata bukan.
"Tapi gimana ya caranya?" tanya saya dalam pikiran.
"Ah ya, buat begini saja: awalnya menceritakan pergaulan bebas, seakan mau terjadi perzinahan, tapi pada ending cerita, saya harus menunjukkan jika si gadis selamat dari hubungan seks di luar nikah, dan hamil itu sebenarnya disebab suaminya. Jadi wanita ini cemas karena suaminya berangkat kerja ke luar pulau, dan dia cemas sendirian."
Cerpen pun saya garap. Selesai, masih mentah. Meski begitu adanya, tapi seketika saya temukan, ternyata benar, kecerdasan itu dipinjam.
Style Like An Artist, buku bagus pembakar semangat memberikan sebuah ide bagaimana menyusun plot sebuah cerita. Jadi pada saat membaca tulisan orang, buatlah pikiran ini mereka-reka, wah bagaimana kalau jalan ceritanya begini, tentu lebih seru!
BORROWING BRILIANCE, Rahasia Sukses Dengan Meminjam Gagasan Orang Lain
Saya heran, kenapa buku ini dijual murah
Padahal
Besar, tebal, dan isinya sangat berharga
Pengetahuan aktua, tentang membangun kreatifitas.
SETIAP GAGASAN LAHIR DARI GAGASAN LAIN, BERGANTUNG DAN MUNCUL DARI GAGASAN SEBELUMNYA. ITU SEBABNYA SAYA MENGATAKAN, BAHWA KECERDASAN ITU DIPINJAM.
Kalau saya disuruh membuat cerita, jujur tidak bisa. Langsung membuat kerangka, kemudian menggarapnya menjadi sebuah kisah yang menarik dibaca, terus terang susah. Sementara ini, hanya tiga hal yang memicu saya bisa menyusun cerita.
Pertama, setelah mendapatkan pengalaman menarik.
Kedua, setelah mendengar pengalaman menarik orang
Ketiga, setelah membaca cerita karya orang
Nyambung kepada judul di atas, saya akan fokus kepada point ketiga. Saya mendapatkan ide cerita setelah membaca karya orang. Maaf, menceritakan dan mencontohkan diri bukan berarti karya saya bagus. Ini hanya karen orang terdekat yang bisa saya bicarakan adalah diri saya sendiri.
Jadi saat membaca karya orang, pikiran ini menebak-nebak. Wah ini pasti akhirnya begini nih. Misalnya semalam, membaca karya peserta cinta dalam aksara, mengawali ceritanya dengan menyebut-nyebut perutnya yang membesar. Apa yang harus kulakukan pada janin dalam perutku ini. Dengan kalimat pembuka semacam itu maka pembaca menebak, wah ini pasti menceritakan gadis hamil di luar nikah. Nah, seketika muncul di pikiran saya, bagaimana kalau membuat cerita dengan opening yang sama, kemudian menggiring pembaca menebak itu cerita wanita hamil di luar nikah, tapi ujungnya ternyata bukan.
"Tapi gimana ya caranya?" tanya saya dalam pikiran.
"Ah ya, buat begini saja: awalnya menceritakan pergaulan bebas, seakan mau terjadi perzinahan, tapi pada ending cerita, saya harus menunjukkan jika si gadis selamat dari hubungan seks di luar nikah, dan hamil itu sebenarnya disebab suaminya. Jadi wanita ini cemas karena suaminya berangkat kerja ke luar pulau, dan dia cemas sendirian."
Cerpen pun saya garap. Selesai, masih mentah. Meski begitu adanya, tapi seketika saya temukan, ternyata benar, kecerdasan itu dipinjam.
Style Like An Artist, buku bagus pembakar semangat memberikan sebuah ide bagaimana menyusun plot sebuah cerita. Jadi pada saat membaca tulisan orang, buatlah pikiran ini mereka-reka, wah bagaimana kalau jalan ceritanya begini, tentu lebih seru!
BUKU CERPEN AMBURADUL: APA YANG HARUS KULAKUKAN PADA JANINKU?
Duduk termenung di tengah rumah, sekarang kebingungan. Bingung luar biasa. Bingung tiada tara. Bingung tak tertanggungkan. Apa yang harus kulakukan pada janin di perutku ini.
* * *
Aku seorang gadis berjibab, terkenal alim, rajin ke madrasah, menghadiri pengajian mingguan. Bersama ibu-ibu yang sebagian besar tua, tak pernah kumerasa malu berjalan. Sangat mencintai agama, indah bacaan Al-Qur'annnya, rapat menutup aurat. Begitulah di antara orang kampung aku dikenal.
Dan itu sangat wajar, karena ayahku, seorang haji dan pula, imam mesjid yang sesekali mendapatkan undangan dakwah keliling ke majlis-majlis taklim desa tetangga.
Bagi ayah, aku adalah gadis harapannya. Pernah dia berkata jika dia sudah bicara dangan seorang ustadz dari desa sebelah untuk berbesanan. Ustadz itu punya seorang putra yang kini sedang menempuh pendidikan S2. Ayah selalu berpesan, supaya aku menjaga pergaulan. Terutama dengan pria bukan mahram.
Tapi bagaimana bisa, sekolahku di SMA, satu kelas dengan para siswa. Tentu saja nasihat ayah tak sepenuhnya bisa kulakukan. Terkadang di kelas, bercanda akrab menjadi kebiasaan. Aku juga bahkan sering duduk sebangku berdua di kantin dengan Arman.
Ya Arman namanya. Kutolak ucapan semua teman bahwa kami pacaran, namun kuteliti lebih jeli lagi, sebenarnya yang biasa kami lakukan memang mirip orang pacaran. Pergi ke kantin berdua, ngobro di sana akrab berdua.
"Nanda, nanti malam aku mau ka alun-alun kota? kamu mau ikut?"
"Mau apa?"
"Sekedar main. Nanti malam tahun baru. Orang lain ramai datang ke sana."
Baru ingat jika nanti malam tahun baru. Oh betapa inginnya. Sebenarnya aku sangat penasaran. Sering terdengar teman sekelas berbicarakan meriahnya acara tahun baruan di alun-alun kota. Tak seperti di kampungku yang biasa saja, sepi, hanya terdengar satu dua petasan dibakar. Maka mendengar ajakan Arman, sekalipun kata-kataku menolak, sesungguhnya ini dada, bergemuruh gelombang penasaran.
"Pasti karena takut Ayahmu ya?"
"Tahu sendirilah di kampung ayahku siapa. Dia terkenal orang alim, Aku juga anak pengajian."
"Gampang! Kamu bisa minta ijinnya untuk belajar di rumah teman."
"Itu alasan basi."
"Selama ini kamu pernah menginap di rumah teman dengan alasan mau belajar bersama?"
"Belum."
"Nah, kalau belum, berarti kalau sekali ini saja kamu mengatakan begitu padanya, dia takkan curiga."
"Tapi, itu berbohong. Dosa. Apalagi pada orang tua."
"Ah sekali sekali apa salahnya. Namanya juga manusia, kita kan bukan malaikat."
Entah kenapa pada akhirnya aku mengiyakan ajakan Arman. Sore masih dengan pakaian seperti mau ke pengajian, aku pergi ke jalan yang jauh dari rumah. Begitu saja ibu mengijinkan, dan dia percaya aku akan belajar bersama. Rasanya besar seali kesalahan membohongi orang tua. Tapi rasa penasaran pada kemeriahan tahun baru membuat rasa penasaran itu kalah.
Seperti janjian bersama Arman, kami akan bertemu di depan pos Ronda. Hanya semenitan menunggu, Arman datang dengan motornya. Sambil menguatkan duduk di atas motor yang dibawa arman, kulihat ke belakang memastikan tak ada orang melihat. Seorang ibu sedang mengangkat jemuran di depan rumahnya, sepertinya tak hirau denganku, dia khusyuk dengan pekerjaannya. Syukurlah.
Pada tembok tepian air mancur di tengah taman, aku duduk. Perasaan bersalah masih menggelayuti pikiran. Di sampingku, Arman bertanya, "Maukah kamu kuramal?"
"Aku tidak percaya ramalan."
"Eh buktikan dulu!"
"Cara meramalnya bagaimana?"
"Sini tanganmu."
Kuberikan. Kini telapak tanganku dalam genggamannya. Dengan posisi telapak terbuka di atas.
"Nah, dua garis ini bercabang, memannga ke atas... " Arman mulai menganalisa. Lancar sekali kata-katanya, tapi di telingaku, suara itu kabur, sebuah perasaan mengganggu.
Dipegang seorang laki-laki bukan mahram. Tiba-tiba kurasakan berdosa. Ingat di pengajian, sering dibahas, jika bersentuhan kulit dengan pria lain itu tidak halal, alias haram, alias dosa. Ampun. Segera kutarik tanganku.
"Kenapa Nan?"
"Jangan Man. Ini dosa!"
"Gak papa Nan, kamu mau tahu kan masa depan kamu seperti apa?"
"Gak usah ah."
"Ya baiklah."
Baru jam sembilan, acara dangdutan sudah digelar. Musik berdendang. Lagu bersenandung. Orang ke depan panggung, tampak riuh bergoyang. Aku sendiri lebih suka duduk duduk saja di sini. Di atas tembok tepian air mencur. Berkali-kali Arman mengajak ke sana kutolak. Ternyata aku tidak suka ingar bingar.
"Man, pulang saja yu!"
"Acara puncaknya belum Nan. Nanti tengah malam, detik pergantian tahunnya, di sana saat-saat meriahnya. Pesta kembang api besarnya. Kamu tidak mau melihat langit bertaburan bintang bintang meledak."
Ingin pulang kutahan.
Dan benar saja. Tengah malam sangat meriah.
Kira jam satu dini hari baru selesai. Aku dibawa pulang. Mulanya menuju rumah,
"Eh Nan, tunggu. Masa ke rumahku."
"Trus. Ke rumahku?"
"Aku bingung. Aku kan bilang mau menginap di rumah teman."
"Oh kalau begitu, di rumahku saja." saran Arman.
Dan tanpa menunggu persetujuanku, Arman memacu motornya. Di sebuah cabang jalan, dia berbelok masuk jalan menuju kampungnya. Ya, malam itu aku menginap di rumah Arman, yang kalau saja Ayahku tahu semua yang kulakukan malam itu pasti dia akan sangat murka.
* * *
Dan kini aku sedang duduk, di tengah rumah, mengusap-usap perut yang terus membesar. Sekali lagi kukatakan, aku bingung harus melakukan apa.
Ibu mendekat, "Sudahlah Nanda, jangan terlalu banyak pikiran. Ibu menyayangimu Nak! Sangat menyayagimu."
"Ibu menyayangiku?"
"Tentu saja, Ibu ingin kamu bahagia. Jangan stres jangan banyak tekanan. Suamimu berangkat ke luar pulau, berjaga di perbatasan, jangan cemaskan. Doakan saja biar dia selamat."
"Lalu, apa yang harus kulakukan buat janin ini Bu?"
"Kamu makan makanan sehat, biar bayimu juga menikmati makanan sehat."
Ya begitulah sekarang kupelihara perasaan bahagia. Kubuang jauh-jauh kecemasan.
Oh ya Teman. Malam itu di rumah Arman tidak terjadi apa-apa. Aku tidur di kamar tamu. Dan setelah malam itu, sebelum ayah tahu kejadian itu, aku berjanji dalam hati untuk tidak pacaran. Aku berjanji takkan lagi mau berdekatan dengan pria yang tidak halal hinga aku menikah. Aku menikah dengan seorang tentara, ayah janin ini, yang kemarin, baru saja berangkat untuk bertugas di perbatasan.
Subscribe to:
Posts (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Saya lebih suka tulisan dengan bahasa ringan tapi mendalam. Tulisan-tulisan Pak Agung misalnya, di buku "Gara-Gara Indonesia" dan ...
-
Disulamnya sapu tangan itu dengan penuh penghayatan Melukis gambar rembulan Rembulan merah muda, Dan dua ekor merpati terbang di kedua sis...