Duduk termenung di tengah rumah, sekarang kebingungan. Bingung luar biasa. Bingung tiada tara. Bingung tak tertanggungkan. Apa yang harus kulakukan pada janin di perutku ini.
* * *
Aku seorang gadis berjibab, terkenal alim, rajin ke madrasah, menghadiri pengajian mingguan. Bersama ibu-ibu yang sebagian besar tua, tak pernah kumerasa malu berjalan. Sangat mencintai agama, indah bacaan Al-Qur'annnya, rapat menutup aurat. Begitulah di antara orang kampung aku dikenal.
Dan itu sangat wajar, karena ayahku, seorang haji dan pula, imam mesjid yang sesekali mendapatkan undangan dakwah keliling ke majlis-majlis taklim desa tetangga.
Bagi ayah, aku adalah gadis harapannya. Pernah dia berkata jika dia sudah bicara dangan seorang ustadz dari desa sebelah untuk berbesanan. Ustadz itu punya seorang putra yang kini sedang menempuh pendidikan S2. Ayah selalu berpesan, supaya aku menjaga pergaulan. Terutama dengan pria bukan mahram.
Tapi bagaimana bisa, sekolahku di SMA, satu kelas dengan para siswa. Tentu saja nasihat ayah tak sepenuhnya bisa kulakukan. Terkadang di kelas, bercanda akrab menjadi kebiasaan. Aku juga bahkan sering duduk sebangku berdua di kantin dengan Arman.
Ya Arman namanya. Kutolak ucapan semua teman bahwa kami pacaran, namun kuteliti lebih jeli lagi, sebenarnya yang biasa kami lakukan memang mirip orang pacaran. Pergi ke kantin berdua, ngobro di sana akrab berdua.
"Nanda, nanti malam aku mau ka alun-alun kota? kamu mau ikut?"
"Mau apa?"
"Sekedar main. Nanti malam tahun baru. Orang lain ramai datang ke sana."
Baru ingat jika nanti malam tahun baru. Oh betapa inginnya. Sebenarnya aku sangat penasaran. Sering terdengar teman sekelas berbicarakan meriahnya acara tahun baruan di alun-alun kota. Tak seperti di kampungku yang biasa saja, sepi, hanya terdengar satu dua petasan dibakar. Maka mendengar ajakan Arman, sekalipun kata-kataku menolak, sesungguhnya ini dada, bergemuruh gelombang penasaran.
"Pasti karena takut Ayahmu ya?"
"Tahu sendirilah di kampung ayahku siapa. Dia terkenal orang alim, Aku juga anak pengajian."
"Gampang! Kamu bisa minta ijinnya untuk belajar di rumah teman."
"Itu alasan basi."
"Selama ini kamu pernah menginap di rumah teman dengan alasan mau belajar bersama?"
"Belum."
"Nah, kalau belum, berarti kalau sekali ini saja kamu mengatakan begitu padanya, dia takkan curiga."
"Tapi, itu berbohong. Dosa. Apalagi pada orang tua."
"Ah sekali sekali apa salahnya. Namanya juga manusia, kita kan bukan malaikat."
Entah kenapa pada akhirnya aku mengiyakan ajakan Arman. Sore masih dengan pakaian seperti mau ke pengajian, aku pergi ke jalan yang jauh dari rumah. Begitu saja ibu mengijinkan, dan dia percaya aku akan belajar bersama. Rasanya besar seali kesalahan membohongi orang tua. Tapi rasa penasaran pada kemeriahan tahun baru membuat rasa penasaran itu kalah.
Seperti janjian bersama Arman, kami akan bertemu di depan pos Ronda. Hanya semenitan menunggu, Arman datang dengan motornya. Sambil menguatkan duduk di atas motor yang dibawa arman, kulihat ke belakang memastikan tak ada orang melihat. Seorang ibu sedang mengangkat jemuran di depan rumahnya, sepertinya tak hirau denganku, dia khusyuk dengan pekerjaannya. Syukurlah.
Pada tembok tepian air mancur di tengah taman, aku duduk. Perasaan bersalah masih menggelayuti pikiran. Di sampingku, Arman bertanya, "Maukah kamu kuramal?"
"Aku tidak percaya ramalan."
"Eh buktikan dulu!"
"Cara meramalnya bagaimana?"
"Sini tanganmu."
Kuberikan. Kini telapak tanganku dalam genggamannya. Dengan posisi telapak terbuka di atas.
"Nah, dua garis ini bercabang, memannga ke atas... " Arman mulai menganalisa. Lancar sekali kata-katanya, tapi di telingaku, suara itu kabur, sebuah perasaan mengganggu.
Dipegang seorang laki-laki bukan mahram. Tiba-tiba kurasakan berdosa. Ingat di pengajian, sering dibahas, jika bersentuhan kulit dengan pria lain itu tidak halal, alias haram, alias dosa. Ampun. Segera kutarik tanganku.
"Kenapa Nan?"
"Jangan Man. Ini dosa!"
"Gak papa Nan, kamu mau tahu kan masa depan kamu seperti apa?"
"Gak usah ah."
"Ya baiklah."
Baru jam sembilan, acara dangdutan sudah digelar. Musik berdendang. Lagu bersenandung. Orang ke depan panggung, tampak riuh bergoyang. Aku sendiri lebih suka duduk duduk saja di sini. Di atas tembok tepian air mencur. Berkali-kali Arman mengajak ke sana kutolak. Ternyata aku tidak suka ingar bingar.
"Man, pulang saja yu!"
"Acara puncaknya belum Nan. Nanti tengah malam, detik pergantian tahunnya, di sana saat-saat meriahnya. Pesta kembang api besarnya. Kamu tidak mau melihat langit bertaburan bintang bintang meledak."
Ingin pulang kutahan.
Dan benar saja. Tengah malam sangat meriah.
Kira jam satu dini hari baru selesai. Aku dibawa pulang. Mulanya menuju rumah,
"Eh Nan, tunggu. Masa ke rumahku."
"Trus. Ke rumahku?"
"Aku bingung. Aku kan bilang mau menginap di rumah teman."
"Oh kalau begitu, di rumahku saja." saran Arman.
Dan tanpa menunggu persetujuanku, Arman memacu motornya. Di sebuah cabang jalan, dia berbelok masuk jalan menuju kampungnya. Ya, malam itu aku menginap di rumah Arman, yang kalau saja Ayahku tahu semua yang kulakukan malam itu pasti dia akan sangat murka.
* * *
Dan kini aku sedang duduk, di tengah rumah, mengusap-usap perut yang terus membesar. Sekali lagi kukatakan, aku bingung harus melakukan apa.
Ibu mendekat, "Sudahlah Nanda, jangan terlalu banyak pikiran. Ibu menyayangimu Nak! Sangat menyayagimu."
"Ibu menyayangiku?"
"Tentu saja, Ibu ingin kamu bahagia. Jangan stres jangan banyak tekanan. Suamimu berangkat ke luar pulau, berjaga di perbatasan, jangan cemaskan. Doakan saja biar dia selamat."
"Lalu, apa yang harus kulakukan buat janin ini Bu?"
"Kamu makan makanan sehat, biar bayimu juga menikmati makanan sehat."
Ya begitulah sekarang kupelihara perasaan bahagia. Kubuang jauh-jauh kecemasan.
Oh ya Teman. Malam itu di rumah Arman tidak terjadi apa-apa. Aku tidur di kamar tamu. Dan setelah malam itu, sebelum ayah tahu kejadian itu, aku berjanji dalam hati untuk tidak pacaran. Aku berjanji takkan lagi mau berdekatan dengan pria yang tidak halal hinga aku menikah. Aku menikah dengan seorang tentara, ayah janin ini, yang kemarin, baru saja berangkat untuk bertugas di perbatasan.
No comments:
Post a Comment