Kebodohan terbesar yang sangat sering kita ulang adalah berharap kepada manusia. Menanti pemberian dari manusia, namun sayang tak mengertin juga. Mengharapkan cinta dari seseorang orang, dia seakan tidak mengerti perasaan kita. Masih untung jika dia bersikap biasa, yang menyakitkan adalah saat sikap yang dia tunjukkan sebaliknya, bukan cinta, melainkan kebencian.
Sesering kita mendapatkan kekecewaan dari berharap kepada manusia, sesering itu pula kita mengulangnya. Sebuah video menunjukkan serombongan sapi yang lewat ke sebuah jalan yang di bawahnya mengalir sungai, kemudian kaki sapi terdepan terperosok ke bawah. Setelah susah payah bangun, sapi di belakangnya meloncat, berusaha supaya tidak terperosok ke dalam lubang. Sapi saja mengambil pelajaran dari kesialan sapi lain, kenapa kita tidak. Sudah jelas berharap kepada manusia itu hanya akan berbuah kekecewaan, tapi anehnya, selalu saja kekeliruan itu kita ulang.
Berharap itu hanya kepada Allah. Berharap kepada manusia akan kecewa. Ingin kedudukan mulia, berharaplah kedudukan mulia dari Allah.
"Dan dari sebagian malam maka tahajjudlah sebagai ibadah tambahan bagimu, mudah mudahan Rabb-mu mengangkatmu kepada kedudukan terpuji."
Seorang yang dimuliakan kedudukannya oleh Allah antara lain Syaikh Bayazid Busthami. Sampai kini, beliau dikenang keshalihannya. Menjadi teladan, ilmunya bermanfaat, kisahnya ditulis, dibaca dari generasi ke genarasi, menjadi buah tutur yang baik bagi orang-orang setelahnya.
Ketika waktu kecil ia membaca Al-Qur'an sampai kepada surat Al-Muzzammil ayat 1-2, "Wahai orang yang berselimut, bangunlah (untuk shalat) di waktu malam, kecuali sedikit daripadanya", dia bertanya kepada ayahnya,
"Wahai Ayah, siapakah yang diperintahkan Allah untuk mengerjakan Shalat Malam/Tahajjud seperti ini? Ayahku menjawab, yang mendapatkan perintah seperti ini adalah Nabi Muhammad Saw."
"Lalu kenapa Ayah tidak melakukan apa yang dilakukan Nabi Saw?"
Ayahnya menjawab, "Itu merupakan perintah yang karenanya Allah memuliakan Nabi Muhammad Saw."
Lalu ketika Bayazid membaca Surat Al-Muzzammil ayat 20, "Dan demikian pula segolongan dari orang-orang yang bersama kamu." maka ia bertanya, "Ayah, siapakah golongan tersebut?" ayahnya menjawab, "Mereka itu adalah para Sahabat Nabi Muhammad Saw." ia berkata, "Mengapa ayah tidak melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat Nabi Muhammad Saw?" ayahnya menjawab, "Mereka itu memang orang-orang yang telah dikuatkan oleh Allah Swt. untuk melakukan shalat malam." Bayazid berkata, "Wahai Ayah, tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak meneladani Nabi Muhammad Saw. dan para sahabatnya."
Akhirnya sang ayah senantiasa mengerjakan shalat malam/tahajjud.
Bayazid kecil berkata lagi, "Wahai Ayah, ajarkanlah shalat malam ini kepadaku." ayahnya menjawab, "Anakku, kamu masih kecil." ia berkata, "Jika nanti Allah telah menghimpun seluruh makhluk pada hari kiamat, lalu memerintahkan orang-orang yang mengerjakan shalat malam untuk masuk ke dalam surga, maka aku akan berkata, 'Ya Rabbi, aku sebenarnya ingin mengerjakan shalat malam, akan tetapi ayah mencegahku." sang ayah pun segera berkata, "Sekarang, kerjakanlah shalat malam!"
Dinukil dari kitab Dhou'usy Syams halaman 460.
Begitulah kisah bagaimana ulama shalih ini belajar melakukan shalat malam, hingga hidup beliau diangkat derajatnya oleh Allah kepada kedudukan mulia.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Ketika orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam tulisan, saya berlomba menjadi yang terburuk. Ketika orang berlomba berusaha memperli...
-
Kita tidak bisa menyebut sebuah nama ketika pikiran lupa Ilmu datang ke dalam pikiran kita oleh Allah, dan Dia bisa menghilangkannya kapan...
No comments:
Post a Comment