Wednesday, February 17, 2016

Tips Menulis Itu Sederhana

Tips menulis itu sederhana
Dan sangat mudah

Sudah lama saya tetapkan sebuah konsep menulis termudah
Menulis seenaknya karena
Apa yang enak kita tuliskan, akan enak pula saat dia jadi bacaan orang
Apa yang berbelit-belit saat kita tuliskan, dibaca orang pun akan memusingkan

Menulis bagus, sebenarnya persoalan kekayaan kosa kata
Siapa terkaya kosa kata
Maka dia punya berbagai hal buat mengungkapkan apapun yang ingin diungkapkannya

Karena itu
Jika ingin menulis bagus,
Perkaya saja kosa kata, dengan membaca banyak bacaan
Dengan membuka buka kamus bahasa, kamus persamaan kata.
Banyak membaca buku apa saja
Temukan buku yang menggairahkan Anda saat membacanya dan contohlah gaya menulisnya

Banyak membaca
Bacalah bacaan-bacaan berkualitas,
Yang dengan membacanya Anda jadi bergairah...

Bacalah dengan menyebut nama Allah
Yang Menciptakan
Yang Menciptakan manusia dari segumpal darah
Bacalah dan Rabb-mu yang Maha Mulia
Yang mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam
Yang mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya

Saturday, February 13, 2016

BUKU HARIAN DI KANTOR

Hari ini si gondrong menikah.
Dia pelukis.
Pertama kali melihat
Gondrongnya membuat saya segan
Mengira dia seorang eksklusif, hanya mau bicara dengan orang-orang tertentu

Karyanya banyak dan bagus-bagus
Jika dia melukis, melakukannya dengan sangat khusyuk, dan hasilnya sangat indah
Saking indah, pernah seseorang mencuri buat desain sablon gambar kaosnya.

Nama pena Wasikendedes
Buat pelukis rasanya kurang tepat menyebut nama pena
Karena biasa menggunakan kuas
Berarti nama kuas
Saya menyebutnya Si Gondrong dalam tulisan ini
Beberapa hari menjelang nikah, cukuran, dan orang-orang pangling
Dari rambutnya yang galing dan gondrong
Kini rapi klimis bersinar
Terlumuri minyak

Masih ingat awal saya di sini
Jarang bicara dengannya
Hanya sering mendengar dia menceritakan isi buku yang dia baca
Dan saya tertarik,
Bacaannya unik-unik
Sebagian bernuansa sufistik, sebagian lagi seni
Sebagian lagi fiqih,
Sebagian lagi buku-buku pemikiran dan ideologi

Tidak terlalu banyak berinteraksi
Sampai suatu pagi dia menyapa saya, menanyakan pendapat saya tentang kerja di sini
Sangat nyaman dan membahagiakan, jawab saya.
Baru sekarang saya temukan tempat kerja semembahagiakan ini

Kemudian dia pun berkata,
"Saya pun begitu. Kerja di sini betah, dan sudah terbilang lama. Dari perusahaan lain sebentar-sebentar keluar, sebentar-sebentar keluar, tidak betah."

"Kenapa?"

"Sering konflik. Tapi di sini tidak, sudah lama saya di sini."

Saya lupa waktu itu dia menyebut sudah kerja berapa tahun.

Akhir-akhir ini, beberapa hari menjelang nikah dia curhat lagi, "Sangat jarang perusahaan dengan pemimpin seperti di perusahaan ini."

"Memangnya waktu kerja di perusahaan lain bagaimana?"

"Gak betah Mas, saya langsung aja pamit. 'Permisi Pak, saya keluar.' udah, pergi."

"Hahaha. Kok bisa?"

"Gaji gak dinaikin."

"Apa yang membuat Mas merasa pantas naik gaji?"

"Beban kerja bertambah. Gue minta tambah gaji. Eh malah dikatain ini itu. Ya sudah, gue pergi aja."

"Haha."

"Pernah juga punya teman kerja. Gue kan suka gambar. Dia ngomong, "Apaan lo, ngegambar kayak gitu buang-buang waktu. Ya sudah gue cabut!"

"Lho, dia kan bukan pemilik perusahaan?"

"Iya cuma temen. Tapi teman kan suka memberi pengaruh. Gue gak mau... "

"Oh haha, ya ya ya."

Asal dia Surabaya, tempat kerjanya di lantai dua, sebidang meja nan luas biar dia leluasa menggambar,
Biasanya dia kerja di sana, sendirian, menggarap gambar, ditemani musik cadas
Atau shalawat
Atau ceramah-ceramah budaya Cak Nun
Dan lemari putih nan bisu, dengan buku-buku tersusun tinggi di atasnya

Jika tidur, biasanya dia naik
Ke lantai tiga
Jika mau ngopi, cangkir porselen bersendok porselen itu dia pegang
Dan bawa ke lantai empat,
Dak gedung
Tak jarang pula saya melihatnya menggelar sejadah di sana
Duduk sila dan berdzikir dengan tasbih di tangan

Tapi sekarang
Dia sudah tak ada, tak lagi tidur di sini sejak malam tadi
Entah di mana, mempersiapkan pernikahannya
Di lantai dua, saya menengok kursinya kosong, mejanya kosong, musiknya sepi
Hanya AC yang masih meniupkan hawa dinginnya kemudian saya matikan

Dia sudah tak di sini
Hari ini Si Gondrong menikah
Selamat Gondrong, perahumu telah siap
Tinggal naik
Hendak berlayar ke pulau mana, mungkin kamu sudah tahu

TULISAN DENGAN BAHASA SEDERHANA

Saya lebih suka tulisan dengan bahasa ringan tapi mendalam. Tulisan-tulisan Pak Agung misalnya, di buku "Gara-Gara Indonesia" dan "Tidak Semua Musibah itu Luka", dia menulis dengan bahasa ringan, biasa, bahasa yang terjangkau oleh banyak orang. Bukan tidak tahu istilah-istilah keren, populer dan ilmiah--Pak Agung tahu banyak--buktinya, bukan sekali dua kali saya menemukan istilah ilmiah lalu tanyakan pada Pak Agung, dan dia bisa menjawab.

Bukan sebab tidak tahu, dia tahu banyak, tapi lebih memilih berbagi tulisan dengan bahasa ringan, sederhana, dalam bentuk kisah, argumentasi ringan, dan ibarat-ibarat yang mudah dimengerti orang awam. Dia mengerti betul asas dakwah yang Nabi Sampaikah, "Berbicaralah kepada manusia sesuain dengan kadar kemampuan pikiran mereka."

Khotibunnas alaa qodri uquulihim.

Tengah menggarap tulisan ini, karena kebetulan satu ruangan kerja, saya wawancara dia sebentar, "Pak Agung, kenapa dalam menulis tidak mau menggunakan bahasa Ilmiah?"

"Dulu pernah menulis buku, terlalu banyak menggunakan bahasa ilmiah malah tidak ada yang baca."

"Dari sejak itu berhenti mengunakan bahasa ilmiah?"

"Iya. Tulisan saya pernah dimuat di Koran Tempo, membahas otonomi daerah, bahasanya biasa saja."

Beberapa kali saya mengangguk mendapatkan pengertian. Iya juga, kenapa

Seketika saya teringat kepada Amr Khalid, seorang dai mesir, dalam menyampaikan pemikiran, baik ceramah atau tulisan yang dia bagikan melalui buku-bukunya, dia lebih suka menggunakan bahasa sederhana yang mudah dimengerti banyak orang. Tidak seperti orator hebat dengan suara mengguntur meledak-ledak. Cara dia bicara biasa saja, akan tetapi isi materi yang dia sampaikan kaya akan kisah, hadits-hadits dan ayat. Catatan-catatan sunnah, ayat suci Al-Qur'an yang dia sampaikan meresap lalu orang tersentuh dan tidak jarang mata mereka berkaca-kaca. Itu terjadi karena--sekali lagi-- antara lain dia menyampaikan dengan bahasa sederhana. Maka dia menjadi dai favorit banyak anak muda. Para gadis memutuskan untuk mengenakan jilbab setelah mendengar ceramahnya.

Saya tulis ini tanpa maksud mengatakan buruk kepada tulisan yang disajikan dengan bahasa ilmiah. Sama sekali tidak. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk  novel legendaris karya Buya Hamka, pada bab "Jiwa Pengarang" beliau berbagi kesan tentang betapa susah menghakimikarya bagus itu seperti apa. Yang ditulis sesuai kaidah atau justru yang melanggar. Ada kalanya sebuah tulisan justru disukai karena kerumitannya. Dan saya sepakat.

Ini soal selera saya. Rata-rata jatuh suka pada tulisan yang tersaji dengan bahasa biasa dan sederhana.

Friday, February 12, 2016

NASKAH CERAMAH UNTUK SEORANG TEMAN

Seorang teman minta tolong dibuatkan pidato. Dia pengurus ODOZ, One Day One Juz, sebuah komunitas yang membangun komitmen sehari membaca satu juz Al-Qur'an. Akan dia adakan pertemuan dan di sana, sebagai pengurus dia akan diminta menjadi pembicara. Buat persiapan, dia minta bantuan saya.

Waduh keberatan. Saya katakan padanya, sekarang kepala dipenuhi banyak hal, disibukkan banyak hal, sepertinya tak bisa lagi menulis semenyentuh dulu. Dia jawab, tak mengapa kata katanya biasa saja, tidak usah menyentuh segala. Biasa saja.

Oh baik temanku.

Tapi maaf, jika ini saya buat seenaknya:

Perkenalkan saya .......(nama teman saya), berasal dari Ciamis, sebuah kota di benua Asia, tepatnya di Asia Tenggara, tepatnya di negara Indonesia, tepatnya di Jawa Barat, antara Kota Tasikmalaya dan Kota Banjar. Ciamis kebingungan mencari apa ikon yang tepat buat dijadikan lambang kota. Mau bunga mawar, kota kami belum seindah bunga mawar, mau bunga angrek belum secantik bunga anggrek, akhirnya dibuatlah taman raflesia untuk menggambarkan, sebuah bunga yang sebenarnya berbau kurang sedap tapi kami mengangkatnya menjadi pusat taman berhias air mancur, kerlap-kerlip lampu, dan berbagai tanaman hias di sekelilingnya untuk menggambarkan kami orang-orang bersemangat membangun kebaikan, bahkan bunga berbau kurang sedap pun, kami berusaha jadikan sesuatu yang sangat indah. Anda belum ke Ciamis kalau belum santai di Taman Raflesia.

Benarkah seperti itu tujuan pembangunan taman itu digagas? Ah ini hanya perkiraan saya, tapi darinya saya ingin mengambil renungan, begitulah kiranya kita membangun pertemanan, fokus kepada kebaikan teman daripada kekurangannya. Seperti dari bunga raflesia mengambil keindahannya buat penghias taman dan melupakan baunya, begitu pula kepada teman, lebih memusatkan kepada kebaikan mereka daripada kekurangannya. 

Seorang ulama pernah berkata, untuk menyambung sillaturrahmi dengan mudah, semestinya kita melakukan 4 hal: Melupakan keburukan orang dan memaafkannya, mengingat kebaikan orang dan berterima kasih padanya, melupakan kebaikan diri sendiri jangan terus mengingatnya, mengingat kesalahan diri sendiri dan berusaha meminta maaf.

Allah berfirman dalam surta Alfatihah ayat 3, "Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang." Jika Allah begitu murah, kenapa kita tidak menjadi pemurah dengan murah memaafkan. Jika Allah begitu penyayang, mengapa kita makhluk yang tak berdaya tidak menjadi penyayang dengan mudah memaafkan. Saling memaafkan, saling memberi semangat, saling memotivasi, saling mengingatkan dalam kebaikan, begitulah antara lain yang menjadi landasan sillaturrahmi kita.

BUKU LEBIH NIKMAT DARI GORENGAN

Makanan ternikmat adalah pengetahuan. Mengkonsumsinya membuat saya puas dan setelahnya tidak kekenyangan. Tidak menimbulkan penyakit sebagaimana jika saya makan banyak. Mungkin saja di antara Anda ada yang berkata, mengkonsumsi terlalu banyak ilmu juga tidak baik buat kesehatan jiwa. Saya bertanya, memangnya Anda pernah mengkonsumsi ilmu itu terlalu banyak? Bukankah selama ini ilmu yang Anda konsumsi terlalu sedikit?

Pagi hari biasanya sarapan gorengan. Turun ke pinggir jalan, dan karena kepagian, gorengan itu belum matang, tempe masih mentah, ubi masih mentah, dan singkong, baru satu kali menggoreng, belum digoreng keduakalinya. Begitulah cara menggoreng singkong yang nikmat, digoreng dulu sekali, angkat, rendam dengan air campur garam dan bumbu masak sampai singkong itu mekar, kemudian, goreng lagi buat yang kedua kalinya. Singkong empuk pun kini berkulit renyah. Sangat nikmat.

Karena belum matang, saya menunggu dan itu cukup lama. Tapi tidak menjenuhkan karena, seperti biasa, buku selalu di tangan. Waktu saya tabrak dengan membaca, dan tidak tahu kenapa, membaca sebelum makan itu lebih lancar daripada setelah makan. Dalam kondisi perut kosong, otak lebih mudah mencerna apa yang dibaca dan meresapkannya. Kali ini saya membaca buku karya Abdullah Bin Alawil Hadad, ulama tashawuf kenamaan abad ke-12 Hijrah. Membaca bukunya sangat nikmat.

Betul kata Mufti Mesir, Syaikh Hasanain Muhammad Makhluf, "Sayyid Abdullah al-Haddad dikenal sebagai Syaikh Al-Islam... tulisannya mengharukan dan menyentuh hati. Ceramahnya menarik untuk didengarkan, dan hujjahnya sering mematikan."

Membaca buku ini adalah meresapi nasihat beliau kepada berbagain kalangan, antara lain kepada pencari, pencinta, dan penyandang ilmu pengetahuan. Beliau mengutip sabda Nabi Saw yang bunyinya, "Manusia yang terdekat dengan kenabian adalah orang-orang yang berilmu dan berjihad. Orang-orang yang berilmu memberi petunjuk kepada manusia atas hal-hal yang dibawa oleh para rasul. Sedangkan orang-orang yang berjihad, mereka berjihad dengan pedang mereka atas hal-hal yang dibawa oleh para rasul."

Mengutip juga perkatan Ali Karamallahu Wajhah, " Wahai Kumail, ilmu lebih baik daripada harta. Sebab ilmu menjagamu, sedangkan harta harus kamu jaga. Ilmu mengurusmu, sedangkan harta harus kamu urus. Harta menjadi kurang saat dinafkahkan, sedangkan ilmu bertambah." Dan seterusnya dalam uraian panjang beliau menuturkan nasihat-nasihat, hikmah-hikmah, perkataan Rasulullah yang mulia, perkataan para ulama dan kutipan-kutipan potongan hidup mereka. 

Sambil menulis ini, saya berbicara kepada teman, Wasikendedes yang juga pencinta buku-buku agama karya para ulama, "Kenapa ya, karya para ulama terdahulu itu membacanya selalu betah. Kata-katanya meresap?"

"Ya memang. Seperti Ibnu Athaillah."

"Atau Imam Ghazali." tambah saya. 

Mungkin karena mereka menuliskan pengetahuannya dengan ikhlash, murni hanya menghadap ridha Allah. Efeknya, ilmu mereka, berkah memanjang terus dinikmati orang berabad-abad setelah mereka meninggal. Seperti Abdullah bin Alawil Hadad yang pagi ini karyanya menasihati saya, "Peringatan bagi 8 Kelompok Manusia." Membacanya lebih nikmat dari makan gorengan, memberi saya kesadaran, jika pagi bisa dihabiskan dengan menikmati bacaan yang membuat saya tercerahkan, kenapa harus turun ke luar jajan gorengan?

KENALKAN, SAYA PENJILAT

Bukan baru-baru ini saya disebut penjilat, cari muka. Sudah lama, sudah sejak setahun yang lalu, dan itu tak mengapa. Hehe, beneran. Karena kesenangan saya bukan cuma cari muka, tapi juga cari maki-maki. Soalnya suka lucu, suka datang orang maki-maki postingan saya, mengatakan sampahlah, asal bunyi lah, menyesatkan lah, eh tapi dia terus komentar di postingan saya. Kan aneh. Menyebut postingan sampah, tapi terus memberikan komentar. Ya jadinya terangkat. Itu sih sama saja mendukung. Itulah sebabnya saya gembira. Jadi sekali lagi, jangankan disebut cari muka, dapat maki-maki saja tak mengapa.

Menurut saya, menjadi penjilat masih lebih terhormat daripada menjadi penjilat ludah sendiri yang sudah meleleh di lantai. Misalnya orang yang mencela-cela sebuah grup kepenulisan, tapi masih saja dia gentayangan di sana karena penasaran.

Eh jangan kira saya sedang marah ya.

Enggak!

Sungguh. Bahkan sebutan penjilat di kantor saya sempat dijadikan candaan. Pas sedang kerja, guru saya masuk kantor, dia langsung berseru, "Hai Penjilat!" dan orang-orang kantor tertawa. Saya juga. Kenapa harus susah dengan sebutan seburuk apapun dari orang jika saya bisa menjadikannya sebagai bahan tertawaan. Salah satu halaman buku Humortivasi menyebut, tertawa membawa pengaruh positif bagi pikiran. 

Sebenarnya tidak bermaksud menjilat, saya hanya suka memberikan penghargaan kepada kebaikan seseorang, sekalipun itu hanya ucapan. Saya hanya ingin orang lebih fokus kepada kebaikan yang didapat daripada kebaikan yang belum didapat. Itu karena saya sendiri merasakan, betapa jengkelnya setelah berusaha memberi banyak, tapi yang diberi malah meminta sesuatu yang bagi saya cukup berat.

Kepada orang yang saya hormat, lebih suka menyebutkan kebaikan-kebaikannya, bahkan keburukannya seringkali saya maknai sebagai kebaikan yang dia kemas dengan cara berbeda.

Saya sangat hormat kepada orang yang berbuat baik kepada saya, tapi saya lebih hormat lagi kepada orang yang berusaha berbuat baik kepada banyak orang. 

Saat menulis ini, Wiro memutar lagu dangdut. Harus jujur nadanya sangat enak. Semangat seperti terbangunkan, kursi saya geser cepat, tapi mendengar itu Wiro bertanya, "Mengganggu ya?"

"Oh tidak. Ini lagu enak, saya baru dengar. Judulnya apa?"

Tidak perlu Anda tahu judulnya apa, yang penting tahu bahwa saya, saat memulai tulisan ini, menggarap tengah, dan mengakhirinya, hati ini dalam keadaan senang.

Jadi dengan bahagia, saya ingin mengenalkan diri kepada Anda, "Halo, kenalkan. Saya seorang penjilat!"

Thursday, February 11, 2016

BUKU YANG SANGAT BERAT SAYA SEBUTKAN JUDULNYA

Amat disayangkan buku ini diberi judul vulgar. Saking vulgarnya sampai-sampai saya berat mengatakannya kepada Anda. Berat menyebutkan pada tulisan ini di paragraf awal. Entahlah di paragraf berikutnya. Mungkin di paragraf dua, atau kalau tidak, mungkin di paragraf tiga, atau empat, atau mungkin di paragraf terakhir. Berat, benar-benar berat. Khawatir jika saya tuliskan, nanti muncul komentar "Hai, di sini ada anak di bawah umur."

Saya rasakan sendiri kemarin membaca buku itu di angkot, dilihat orang jadi malu. Saya berusaha menutupi jilid, khawatir orang mengira saya membaca buku kurang pantas. Di kampung, sambil mengasuh anak, saya bawa buku itu kemudian seorang tetangga melihat, "Itu novel?" tanyanya. Langsung saya tutup.

Waktu istri berrencana membawa buku ini ke PAUD, buat dia baca sambil menunggui anaknya belajar, dia berkata, "Mungkin harus dibungkus dulu."


"Kenapa?"

"Biar judulnya tertutup."

Judul buku ini memang cukup syur.

Padahal isinya sangat bagus. Bukan, sama sekali bukan buku yang membicarakan syahwat. Tapi menyajikan motivasi dan renungan.

Jujur, karena judulnya cukup menggoda syahwat, semula saya mengira hanya menguraikan pembicaraan orang dewasa. Pas saya buka ternyata tidak. Buku ini sebuah kumpulan tulisan. 

Dengan bahasa lancar dan tidak membosankan, penulis mengajak pembaca mengambil renungan dari berbagai hal. Fenomena sejarah, penggalan kisah hidup orang-orang terkenal, pengalaman pribadi dirinya, apa saja tema yang ditulisnya sangat gurih buat dibaca.

Oh teman, maaf jika tulisan saya membosankan. Setiap kali menceritakan buku pasti isinya itu-itu saja: Bahasanya lancar dan enak dibaca. Tidak membosankan, penuh wawasan, dan sebagainya. Tapi saya mengatakan itu serius. Saya katakan itu karena sudah membaca, dan bisa membacanya dengan nikmat. Saya bukan pembaca cerdas yang bisa mencerna setiap bacaan dengan mudah. Hanya buku tertentu yang benar-benar membuat saya, saat membacanya benar-benar merasa nikmat. Dan buku ini antara lain.

Duh, saya masih berat menuliskan judulnya.

Hoeda Manis, begitu penulis buku ini menamai dirinya. Sepertinya nama samaran, karena menurut pengakuannya, dia telah menarik diri dari publisitas secara terbuka sejak tahun 2006. Sekararang lebih suka mengkonsentrasikan dirinya ke tulisan. Siapa pun mengundang dirinya buat tampil jadi pembicara untuk materi apa saja, dia hanya bisa minta maaf: tidak bisa. Saya tidak tahu siapa dia sebenarnya. Dari bagusnya tulisan, seperti bukan pemula. Bahasa tulis sangat lancar. Materi yang dia sajikan berisi, tidak murahan.

Misalnya saat Hoeda dengan sangat unik penulis menceritakan Mozart. Siapa pun pencinta musik klasik tahu siapa Mozart, tapi hanya sedikit orang tahu kisah pribadinya bahwa dia pernah mempunyai pacar. Mereka saling jatuh cinta, sampai kemudian seorang pria lain menaksir pacar mozart, "Dan tololnya, si wanita memilih meninggalkan mozart untuk menikah dengan laki-laki itu." tulis Hoeda. "Karena diputus secara sepihak, Mozart pun patah hati, dan ia butuh waktu bertahun-tahun menyembuhkan lukanya. Selama bertahun-tahun pula, ia tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita lain. "Sampai bertahun-tahun kemudian, ketika Mozart telah menjadi sosok terkenal dan dunia mengakuinya sebagai musisi genius, para wartawan melacak keberadaan wanita yang menjadi mantan pacar Mozart, dan menanyakan, "Mengapa Anda dulu meninggalkan Mozart untuk menikah dengan laki-laki lain?" Dengan jujur, wanita mantan pacar Mozart itu menjawab, "Dahulu, saya tidak pernah tahu kalau ia sejenius itu. Saya hanya tahu bahwa ia pendek." Jadi rupanya, wanita itu memutuskan Mozart secara sepihak dan meninggalkannya untuk menikah dengan laki-laki lain hanya karena melihat bahwa Mozart memiliki postur tubuh yang pendek."

Dari kisah itu kemudian Hoeda Manis membawa pembaca tenggelam menyelami sebuah renungan, bagaimana seharusnya menjalin hubungan. Menjalin hubungan dengan seseorang, jika itu ingin melakukan itu dengan tulus sudah seharusnya bersiap sedia menerima kekurangan. "Manusia dikaruniai kelebihan, tetapi juga dilengkapi kekurangan, karena itulah ciri manusia." 

Renungan-renungannya sederhana, tapi sangat meresap. Tulisan lain misalnya saat membicarakan Bung Hatta. Wakil presiden pertama Republik Indonesia ini sebenarnya bisa saja minta bantuan pengusaha buat membeli sepatu yang diingingkannya, tapi sampai beliau meninggal dunia, sepatu yang sangat diinginkan itu tidak kesampaian. Dari kamar beliau, "Setelah wafat, keluarganya membereskan barang-barang Bung Hatta, dan mereka menemukan guntingan iklan sepatu itu di antara tumpukan bukunya."

Tulisan lain juga sangat menggugah. Saat menceritakan Isack Newton yang kurang pergaulan, tidak bisa berteman baik dengan orang, temperamental dan mudah tersinggung. Pada bagian ini penulis membaca pembaca pada renungan betapa tidak mungkinnnya menuntut orang lain sempurna, sebab tidak seorang pun manusia sempurna. Dan masih banyak tulisan lainnya sampai 65 bab menjadi sebuah buku setebal 389 halaman.

Kalau saja bisa ngobrol dengan penulisnya, ingin saya sampaikan, untuk cetakan berikutnya, sebaiknya judul diganti dengan yang lebih ramah. "Tak perlu khawatir buku Anda takkan sukses di pasar. Kepandaian menulis Anda yang mempuni tak perlu disangsikan. Telah banyak pembaca jatuh cinta termasuk saya. Jangan pake yang itu lagi ya! Sebagai penjual buku, saya jadi risih mempromosikan buku Anda sambil menyebut judulnya. Padahal, betapa ini berbagi ke teman pembaca lain jika bukumu ini bagus."

Mau Betulin Hape