Hari ini si gondrong menikah.
Dia pelukis.
Pertama kali melihat
Gondrongnya membuat saya segan
Mengira dia seorang eksklusif, hanya mau bicara dengan orang-orang tertentu
Karyanya banyak dan bagus-bagus
Jika dia melukis, melakukannya dengan sangat khusyuk, dan hasilnya sangat indah
Saking indah, pernah seseorang mencuri buat desain sablon gambar kaosnya.
Nama pena Wasikendedes
Buat pelukis rasanya kurang tepat menyebut nama pena
Karena biasa menggunakan kuas
Berarti nama kuas
Saya menyebutnya Si Gondrong dalam tulisan ini
Beberapa hari menjelang nikah, cukuran, dan orang-orang pangling
Dari rambutnya yang galing dan gondrong
Kini rapi klimis bersinar
Terlumuri minyak
Masih ingat awal saya di sini
Jarang bicara dengannya
Hanya sering mendengar dia menceritakan isi buku yang dia baca
Dan saya tertarik,
Bacaannya unik-unik
Sebagian bernuansa sufistik, sebagian lagi seni
Sebagian lagi fiqih,
Sebagian lagi buku-buku pemikiran dan ideologi
Tidak terlalu banyak berinteraksi
Sampai suatu pagi dia menyapa saya, menanyakan pendapat saya tentang kerja di sini
Sangat nyaman dan membahagiakan, jawab saya.
Baru sekarang saya temukan tempat kerja semembahagiakan ini
Kemudian dia pun berkata,
"Saya pun begitu. Kerja di sini betah, dan sudah terbilang lama. Dari perusahaan lain sebentar-sebentar keluar, sebentar-sebentar keluar, tidak betah."
"Kenapa?"
"Sering konflik. Tapi di sini tidak, sudah lama saya di sini."
Saya lupa waktu itu dia menyebut sudah kerja berapa tahun.
Akhir-akhir ini, beberapa hari menjelang nikah dia curhat lagi, "Sangat jarang perusahaan dengan pemimpin seperti di perusahaan ini."
"Memangnya waktu kerja di perusahaan lain bagaimana?"
"Gak betah Mas, saya langsung aja pamit. 'Permisi Pak, saya keluar.' udah, pergi."
"Hahaha. Kok bisa?"
"Gaji gak dinaikin."
"Apa yang membuat Mas merasa pantas naik gaji?"
"Beban kerja bertambah. Gue minta tambah gaji. Eh malah dikatain ini itu. Ya sudah, gue pergi aja."
"Haha."
"Pernah juga punya teman kerja. Gue kan suka gambar. Dia ngomong, "Apaan lo, ngegambar kayak gitu buang-buang waktu. Ya sudah gue cabut!"
"Lho, dia kan bukan pemilik perusahaan?"
"Iya cuma temen. Tapi teman kan suka memberi pengaruh. Gue gak mau... "
"Oh haha, ya ya ya."
Asal dia Surabaya, tempat kerjanya di lantai dua, sebidang meja nan luas biar dia leluasa menggambar,
Biasanya dia kerja di sana, sendirian, menggarap gambar, ditemani musik cadas
Atau shalawat
Atau ceramah-ceramah budaya Cak Nun
Dan lemari putih nan bisu, dengan buku-buku tersusun tinggi di atasnya
Jika tidur, biasanya dia naik
Ke lantai tiga
Jika mau ngopi, cangkir porselen bersendok porselen itu dia pegang
Dan bawa ke lantai empat,
Dak gedung
Tak jarang pula saya melihatnya menggelar sejadah di sana
Duduk sila dan berdzikir dengan tasbih di tangan
Tapi sekarang
Dia sudah tak ada, tak lagi tidur di sini sejak malam tadi
Entah di mana, mempersiapkan pernikahannya
Di lantai dua, saya menengok kursinya kosong, mejanya kosong, musiknya sepi
Hanya AC yang masih meniupkan hawa dinginnya kemudian saya matikan
Dia sudah tak di sini
Hari ini Si Gondrong menikah
Selamat Gondrong, perahumu telah siap
Tinggal naik
Hendak berlayar ke pulau mana, mungkin kamu sudah tahu
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Ketika orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam tulisan, saya berlomba menjadi yang terburuk. Ketika orang berlomba berusaha memperli...
-
Kita tidak bisa menyebut sebuah nama ketika pikiran lupa Ilmu datang ke dalam pikiran kita oleh Allah, dan Dia bisa menghilangkannya kapan...
No comments:
Post a Comment