DALAM NUANSA MERAH MUDA
Dalam ruang serba merah muda, di tengah nuansa romantis itulah bapak ibumu sekarang. Dua manusia jenis berlainan, duduk dalam kesunyian ruang, setelah anaknya pulas, apa kira-kira yang mereka lakukan?
Jangan sembarang bertanya, karena sebagian besar jawaban tabu. Kecuali jawaban bapak, mungkin sedikit layak kau baca.
Di seberang meja, ibumu mengangkat kaki, ke kursi, melipat dan memeluknya, menepis cubitan dingin. Sementara bapak di sini, pada kursi panjang duduk tak nyaman. Jemari meremas gemas, mengapa harus terpisah.
Padahal cukup dengan satu langkah, secuil hasrat purba makhluk melata akan terlepas. Namun tidak. Jarak tertahan. Kesungkanan wudlu batal, mencegah kami saling mendekat.
Padahal cukup dengan satu langkah, secuil hasrat purba makhluk melata akan terlepas. Namun tidak. Jarak tertahan. Kesungkanan wudlu batal, mencegah kami saling mendekat.
Dengan jarak beberapa jengkal cukuplah. Terlibat obrolan panjang, tapi satu hal paling mengesankan hanyalah, saat sekeping lafal terlontar, "Kamu cantik sekali?"
Tapi ibumu radio. Tidak peduli. Terus saja berkicau. Meneruskan bicara.
Dikiranya Bapak dusta. Padahal hujan dari awan, ucapan itu, tercurah dari hati sesungguhnya.
Mata melirik jam. Isya belum juga datang. Heran, kenapa begitu telat?
Kehabisan obrolan, kami terjebak diam.
Setelah tarikan nafas, mengalir satu renungan. Angan terbang ke belakang, ke tempat kami berawal. Sebagaimana Hawa bagi Adam, ibumu bukan dicari, melainkan diberikan. Lalu kehidupan mengikat kami, sebagaimana tali mengikat bayam. Nasib seterusnya berkutub ke mana kami berserah.
Bulan-bulan pergi, tahun-tahun minggat. Sejak akad, tak terasa delapan masa. Masuk tahun ke enam Nai, kamu datang. Dua hal berbeda melahirkan hal berbeda lain, sungguh ini keajaiban.
Kamu hadiah. Jika Bapak ibaratnya malam dan ibumu pegunungan, maka kamu adalah apa yang lahir disebabkan malam mendekap pegunungan: tidur nyenyak dan selimut hangat.
Kamu hadiah. Jika Bapak ibaratnya malam dan ibumu pegunungan, maka kamu adalah apa yang lahir disebabkan malam mendekap pegunungan: tidur nyenyak dan selimut hangat.
Kisah ini terlalu berlambat-lambat Nai, memang sengaja dibuat demikian. Ingin menuliskan semua, andai saja bisa. Sebab bagi Bapak, setiap inci takdir, bukan semata angin lalu, melainkan batu safir.
No comments:
Post a Comment