Sunday, November 15, 2015

Bahan Buku Yang Akan Saya Susun

TAWA MATAHARIMU TERTUNDA

Bus merayap meninggalkan terminal, meninggalkan Depok dengan segala ramai. Dari dekap kehidupan kota, dibawanya badan ini cerai. Menuju kabut pegunungan, merdu kokok ayam, tetes bening air jatuh dari ujung dedaunan, rumah kedamaian, dan tawa mataharimu di muka pintu.

Panas kembali ke api, bening pulang ke air, hijau pulang ke daun. Akhirnya tiba juga saat pulang. Lepas dari benar salah Bapak akan bermadah, pulang ini matematika. Sebuah kepastian. Siapa berangkat, dia harus pulang. Lagu indah kita dengar, itu karena sang nada pulang. Dengan nada apa sebaris lirik berangkat, kepadanya pula dia harus pulang.

Masihkah rindumu api, seperti diriwayatkan ibumu?

Bapak sendiri, duduk ini berlumur kangen. Lihatlah tas motif loreng tentara ini, kembung besar, bahkan tak sanggup menampung wujud-wujud kangen itu? Sepasang sandal untukmu, buku cerita bergambar, benda yang kemarin kita dongengkan panjang: jas hujan, dan oleh-oleh Pak Isa dari Belanda: karet penepuk lalat dan gantungan kunci miniatur sepatu mungil, sampai berdesakan, sehingga, sekeresek apel merah pesananmu tak sanggup masuk. Terasing di luar, duduk pada jok kendaraan, tak henti-hentinya si apel mengeluh,

"Celaka! Celaka! Celaka!" rutuk sebutir.

"Kenapa?" tanya Bapak.

"Dipisahkan begini pasti ketinggalan. Pasti ketinggalan!"

"Pasti?"

"Ya, Kamu kan pelupa."

Jengkel susah ditahan, jadi maafkan Bapak Nai, satu apel paling cerewet terpaksa dimakan.


Betapa jauhnya jarak, hingga safar butuh seharian. Dicecap hati tak sabar, panjangnya makin berlipat. Beribu kilo meter bagaikan. Pada kaca mobil tanganmu membayang, merentang dengan wajah tengadah minta dipangku. Wajahmu nanar penuh harap. Kuraih. Rasanya badan ini telah erat merengkuhmu.

Ciamis sampai, pejalanan belum usai. Ke arah utara, aspal masih mengular. Turun naik, lika-liku, menjamah empat kecamatan. Hujan mengguyur lebat, atap bus bocor, air bercucuran ke dalam. Tangah meraih tas, naik dalam pelukan, menyelamatkan isinya. Tandas baju basah, badan kedinginan, tak mengapa asalkan tas aman. Buku bacaan bergambar, nasib buku bacaan bergambar, tentangnya cemas ini bertema.

Pada sebuah tikungan tajam bus menepi. Mulut pintunya memuntahkah Bapak. Kaki menjejak rumput, gerimis masih riuh. Berlari mencari mesjid untuk menjama' shalat. Dzuhur Ashar belum tunai.

Ini kaki gunung dan sisa jalan masih jauh. Ojek sedia buat mendaki, tapi memilih jalan kaki. Olah raga dan menikmati alam mungkin alasan, tapi alibi terpenting sesungguhnya hemat uang. Lumayan buatmu jajan Nai.

Sebenarnya ini melawan perasaan. Sebab senyatanya hasrat ini tak sabar ingin cepat sampai. Ingin lekas melihat kepala mungilmu muncul di tirai. Dahaga tatap jingkrak-jingkrakmu menyambut. Lapar memangku, haus memeluk, lalu melihat tanganmu mengorek-ngorek tas, membongkar oleh-oleh, sambil terus cerewet bertanya. Ditemani lelehan keringat, begitulah drama batin sepanjang langkah.

Tiba ke halaman suasana sepi. Sandal manismu termenung di tepi teras. Tirai cerah merona, diterangi lampu menyala. Petang tergelar di bumi, kumandang adzan maghrib senyap sejak tadi. Mengucap salam, wajah ibumu menyambut. Bergelora hasrat mendekapnya, sayangnya pikiran membatas. Maghrib begini pasti punya wudlu, tak tega membuatnya berhadats.

Masuk ruang tengah, menengok pintu kamar, kamu terbaring menyamping. Cipta bayang sepanjang jalan mendadak sirna. Hanya mampu sadrah, tawa matahari harus tertunda. Oleh-oleh dalam tas, teronggok ke sudut rumah. Tiada tangan mungil menjamah.


"Sejak sore dia menunggu hingga ngantuk. 'Nai mau tidur dulu, nanti kalau Bapak datang, bangunkan ya Mah!' ucapnya. 'Ya', jawabku." Ibumu berkisah.

Haru.

"Sebentar-sebentar suaranya terdengar, 'Mah, sudah datang?' 'Belum', sebentar kemudian 'Bapak datang?' 'Belum', keludian, 'Mah, datang?'... hingga akhirnya lelap."

Sambil tersenyum iba, tak lepas mata menatap. Piamamu putih motif bunga biru toska, mata terpejam pulas. Berjalan mendekat, menghampiri ke peraduan merapatkan wajah. Terdengar hembusan nafas. Teratur meniupkan wangi anak. Mengecupmu pelan dengan bibir menua, halus pipimu sutra.

----------------------
Catatan:

Kata "Panas kembali ke air, hijau kembali ke daun" saya serap dari cerpen Kunowijoyo berjudul, "ADA API DI ATAS ATAP"

No comments:

Post a Comment

Mau Betulin Hape