Jika Anda membutuhkan buku terbaru, hubungi saja saya. Saya hanya bisa membantu Anda mendapatkan buku terbaru yang Anda butuhkan. Misalnya berbagai novel tere liye dan Asma Nadia. Anda bisa mendapatkannya dengan melakukan pemesanan kepada saya.
Saya tinggal di kota yang menurut saya, sorganya para pencinta buku. Tere Liye malah menjadikan kota Depok ini sebagai latar novelnya Daun Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, untuk menceritakan sebuah kisah cinta yang diawali dari sebuat toko buku.
Di sini juga saya dekat dengan banyak bazar buku murah. Banyak sekali buku bagus dan murah terbitan gramedia. Iya gramedia kan secara nama sudah terkenal, dan pastinya penerbit ini berusaha memberikan buku bagus kepada pembaca. Mereka juga kan bisnis, mana mau mencetak dan menerbikan buku jika mereka pikir buku itu tidak akan laku. Mana mau mereka menerbitkan buku yang mereka pikir buku itu takkan menguntungkan. Pastinya mereka juga punya pertimbangan dong, dan karenanya mereka hanya mau menerbitkan buku bagus.
Itulah makanya, tentunya buku yang telah keluar itu, meski harga obral, pastilah buku hasil seleksi di penerbitan bahwa buku itu memang bagus. Banyak sekali buku-bukunya, dari berbagai jenis. Psikologi, novel anak, novel remaja, dewasa, wirausaha, pendidikan anak, tentang orang tua, tentang sekolah. Wah banyak sekali.
Jika Anda mau, Anda bisa cek facebook saya, di sana banyak saya sediakan gambar buku yang saya jual murah.
Eh kok malah membicarakan buku murah, padahal judulnya, saya ingin membicarakan buku terbaru. Ya saya juga menjual buku-buku terbaru. Tanyakan saja Anda mau judul buku apa. Insya Allah saya kirimkan setelah Anda transfer.
Percaya deh, ini bukan penipuan. Saya belum siap menjadi penipu. Takut ketahuan nanti repot ke sananya.
Berbagai buku tere liye, pidi baiq, andrea hirata, ada dah di sini. Atau karya siapa lagi ya penulis penulis terkenal itu, pokoknya banyak deh, silakan.... oh ya buku-buku keislaman juga banyak di saya. Misalnya terjemah Riyadus Shalihin, Terjemah Sirah Nabawi, Terjemah Tafsir Ibnu Katsir, Terjemah Tafsir Fi Dzilalil Quran.
Silakan, bagi yang mau pesan bisa langsung hubungi Watsapp saya 085723962260
Monday, February 22, 2016
Sunday, February 21, 2016
Jual Buku Murah Online
Saya menjual buku-buku murah online
Kebetulan di sini dekat dengan banyak toko buku yang menyajikan buku-buku murah
Dengan kisaran harga mulai dari 15.000 sampai 30.000
Ada buku Harry Potter yang harga aslinya lebih dari seratus ribu, saya hanya menjualnya Rp. 60.000
Ini nomor HP saya jika ingin menghubungi
081310052414
Ini nomor watsapp 085723962260
Atau BBM 2ba5f9bf
==========
Yang tersedia buku anak-anak.
Buku-bukun keislaman. Hadits-hadits.
Sirah Nabawi.
Fiqhussunnah.
Dan sebagainya.
Menggunakan sepeda, begitulah cara saya bepergian menuju berbagai toko buku di kota ini. Selain murah, juga olah raga. Bahkan terkadang jalan kaki.
Memang cukup memalukan.
Tapi, buat apa peduli malu, saya lebih suka peduli kesehatan
Keseharian di kantor duduk diam, tentu saja memerlukan olah raga.
Saya melakukannya dengan berjalan kaki
Atau bersepeda.
=====
Sebenarnya bisa saja jualan buku inin sambil duduk saja.
Diam
Sebab dengan online, saya bisa mengakses ke mana saja. Ke berbagai toko buku, untuk memesan secara online, mempromosikan lewat facebook, kemudian jika ada orang pesan saya pesan lagi ke toko online itu.
Kebetulan di sini dekat dengan banyak toko buku yang menyajikan buku-buku murah
Dengan kisaran harga mulai dari 15.000 sampai 30.000
Ada buku Harry Potter yang harga aslinya lebih dari seratus ribu, saya hanya menjualnya Rp. 60.000
Ini nomor HP saya jika ingin menghubungi
081310052414
Ini nomor watsapp 085723962260
Atau BBM 2ba5f9bf
==========
Yang tersedia buku anak-anak.
Buku-bukun keislaman. Hadits-hadits.
Sirah Nabawi.
Fiqhussunnah.
Dan sebagainya.
Menggunakan sepeda, begitulah cara saya bepergian menuju berbagai toko buku di kota ini. Selain murah, juga olah raga. Bahkan terkadang jalan kaki.
Memang cukup memalukan.
Tapi, buat apa peduli malu, saya lebih suka peduli kesehatan
Keseharian di kantor duduk diam, tentu saja memerlukan olah raga.
Saya melakukannya dengan berjalan kaki
Atau bersepeda.
=====
Sebenarnya bisa saja jualan buku inin sambil duduk saja.
Diam
Sebab dengan online, saya bisa mengakses ke mana saja. Ke berbagai toko buku, untuk memesan secara online, mempromosikan lewat facebook, kemudian jika ada orang pesan saya pesan lagi ke toko online itu.
Saturday, February 20, 2016
Buku Pangeran Kecil
Buku kecil, seperti buku anak-anak. Tapi mengapa begitu legendaris. Dibaca dari generasi ke generasi, sampai kini, dan masuk jajaran buku sastra.
Bahkan sebuah rumah produksi mengangkatnya ke layar lebar.
Little Princes
"Pangeran Kecil" ditulis sastrawan Perancis, Antoine de Saint Exupery dan menjadi mastepiecenya.
Dihiasi banyak gambar langsung oleh penulisnya, menjadikan novel kecil ini sangat mirip buku anak-anak.
Ternyata bukan.
Ini karya sastra. Bacaan orang dewasa. Kisah ini penuh perlambang. Untuk memahami berbagai watak dan perilaku manusia, dan rahasia-rahasia sukses membangun hubungan.
Semula tahu buku ini saat main ke rumah teman. Si teman berkata, buku Pangeran Kecil ini kurang dia mengerti apa maksudnya. Anak kecil, terbang dengan burung, menemui raja di plenet mana, terus menemui pemabuk, ada kereta, menimba air, apa ini maksudnya.
Saya ikut membuka. Dan benar, susah paham.
Sampai suatu ketika, saya membaca sebuah buku yang menyebutkan, sebenarnya novel "Pangeran Kecil" ini berisi renungan tentang kehidupan, tentang membangun hubungan.
Oh, benarkah?
Tiba-tiba saya jadi kangen kepada buku "Pangeran Kecil". Ingin membaca, merenungkan, dan mencoba membuka rahasia di dalamnya. Setelah bertahun-tahun, kembali ke rumah si teman, meminjam buku itu dan mulai membaca. Tekun di rumah. Berulang-ulang. Tanpa bosan. Tiap datang kesempatan, membuka. Dari halaman ke halaman, dari paragraf ke paragraf, dari kalimat ke kalimat.
Pangeran kecil dengan planetnya, adalah perlambang seorang remaja yang mulai membangun dunia. Dunianya sendiri. Di planet itu tumbuh mawar, dan mawar itu perlambang hadirnya seorang pasangan. Mawar itu terkadang sangat manja dan melelahkan. Harus dijaga, harus disiram, harus dilindungi dari terpaan angin dan ulat-ulat.
Nasihat pertama tak terlupakan dari buku itu adalah, "Jangan sekali-kali mendengarkan kata-kata mawar. Mereka penuh perbantahan. Hanyalah nikmati kehadirannya."
Seketika teringat kepada orang terdekat. Istri saya. Jika mendengarkan omongannya, terkadang kesal. Pening pikiran. Namun jangan fokus ke sana. Jangan fokus kepada kata-katanya. Mereka penuh perbantahan. Sering apa yang dikatakannnya bukanlah apa yang sebenarnya dia inginkan. Fokuslah kepada arti kehadirannya. Bahwa betapa berartinya kehadiran dia bagi hidup saya. Bahwa kehadiran dia bagi saya anugerah besar. Kebahagiaan tak ternilai. Bahwa dia ada bersama saya dan menjadi istri saya, orang yang bisa saya pegang dan rangkul dengan halal. Kepada itu seharusnya fokus pikiran, Dengan begitu maka hati ini bertambah sayang.
Jangan pernah berpikir meninggalkan. Seperti pangeran kecil yang meninggalkan si mawar di planetnya karena sangat manja dan merepotkan. Namun setelah jauh, tiba-tiba dia menyesal. Dia rindu kepada si mawar.
"Bunga mawar yang sudah kau jinakkan itu satu-satunya bunga bagimu di dunia ini. Karena itu dia sangat berharga." kata Si Rubah, teman baru dia yang membuat Pangeran Kecil begitu kangen kepada mawar yang dia tinggalkan.
Dari lembar ke lembar, dari paragraf ke paragraf, membaca berulang-ulang, novel ini terus saya renungkan. Mengorek makna di baliknya, dan luar biasa. Novel ini banyak memberi pelajaran bagaimana membangun hubungan. Bagaimana menjalani hidup sebagai orang dewasa. Betapa banyak orang dewasa semata usia. Betapa banyak orang dewasa berperilaku menyebalkan. Bagaimana seharusnya memandang kehidupan. Bagaimana memandang orang di sekitar kita.
"Hanya dengan hati orang bisa memandang dengan baik. Yang inti tidak terlihat oleh mata." nasihat Si Rubah.
Beberapa kali membaca, beberapa kali mengulang, beberapa kali merenungkan. Buku itu memengaruhi materi perbincangan saya dengan teman. Setiap kali menemukan teman yang mengalami masalah dalam hubungan dengan orang terdekatnya, setiap kali itu pula saya mengingatkan dia kepada pangeran kecil dan si mawar. Jangan sampai mengalami seperti pangeran kecil, merasakan penyesalan setelah berjauhan. "Jangan pernah dengarkan kata-kata mawar. Hanyalah nikmati kehadirannya di sisimu."
Lama di rumah, akhirnya buku itu saya pulangkan ke rumah teman, dan sejak itu tak pernah lagi membaca. Kangen, ingin punya bukunya. Tapi tak tahu harus membeli di mana. Sampai suatu ketika saya mendatangi sebuah bazar, tampak sebuah buku tertera di depannya judul. "The Little Princes."
Wah, ini dia.
Mumpung bazar murah. Langsung saya beli. Sebenarnya ingin beli banyak kalau-kalau ada orang lain pesan. Tapi khawatir yang tertarik hanya saya. Nanti beli banyak, buku ini hanya bertumpuk di rak. Ya sudah beli satu saja.
Wednesday, February 17, 2016
Tips Menulis Itu Sederhana
Tips menulis itu sederhana
Dan sangat mudah
Sudah lama saya tetapkan sebuah konsep menulis termudah
Menulis seenaknya karena
Apa yang enak kita tuliskan, akan enak pula saat dia jadi bacaan orang
Apa yang berbelit-belit saat kita tuliskan, dibaca orang pun akan memusingkan
Menulis bagus, sebenarnya persoalan kekayaan kosa kata
Siapa terkaya kosa kata
Maka dia punya berbagai hal buat mengungkapkan apapun yang ingin diungkapkannya
Karena itu
Jika ingin menulis bagus,
Perkaya saja kosa kata, dengan membaca banyak bacaan
Dengan membuka buka kamus bahasa, kamus persamaan kata.
Banyak membaca buku apa saja
Temukan buku yang menggairahkan Anda saat membacanya dan contohlah gaya menulisnya
Banyak membaca
Bacalah bacaan-bacaan berkualitas,
Yang dengan membacanya Anda jadi bergairah...
Bacalah dengan menyebut nama Allah
Yang Menciptakan
Yang Menciptakan manusia dari segumpal darah
Bacalah dan Rabb-mu yang Maha Mulia
Yang mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam
Yang mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya
Dan sangat mudah
Sudah lama saya tetapkan sebuah konsep menulis termudah
Menulis seenaknya karena
Apa yang enak kita tuliskan, akan enak pula saat dia jadi bacaan orang
Apa yang berbelit-belit saat kita tuliskan, dibaca orang pun akan memusingkan
Menulis bagus, sebenarnya persoalan kekayaan kosa kata
Siapa terkaya kosa kata
Maka dia punya berbagai hal buat mengungkapkan apapun yang ingin diungkapkannya
Karena itu
Jika ingin menulis bagus,
Perkaya saja kosa kata, dengan membaca banyak bacaan
Dengan membuka buka kamus bahasa, kamus persamaan kata.
Banyak membaca buku apa saja
Temukan buku yang menggairahkan Anda saat membacanya dan contohlah gaya menulisnya
Banyak membaca
Bacalah bacaan-bacaan berkualitas,
Yang dengan membacanya Anda jadi bergairah...
Bacalah dengan menyebut nama Allah
Yang Menciptakan
Yang Menciptakan manusia dari segumpal darah
Bacalah dan Rabb-mu yang Maha Mulia
Yang mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam
Yang mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya
Saturday, February 13, 2016
BUKU HARIAN DI KANTOR
Hari ini si gondrong menikah.
Dia pelukis.
Pertama kali melihat
Gondrongnya membuat saya segan
Mengira dia seorang eksklusif, hanya mau bicara dengan orang-orang tertentu
Karyanya banyak dan bagus-bagus
Jika dia melukis, melakukannya dengan sangat khusyuk, dan hasilnya sangat indah
Saking indah, pernah seseorang mencuri buat desain sablon gambar kaosnya.
Nama pena Wasikendedes
Buat pelukis rasanya kurang tepat menyebut nama pena
Karena biasa menggunakan kuas
Berarti nama kuas
Saya menyebutnya Si Gondrong dalam tulisan ini
Beberapa hari menjelang nikah, cukuran, dan orang-orang pangling
Dari rambutnya yang galing dan gondrong
Kini rapi klimis bersinar
Terlumuri minyak
Masih ingat awal saya di sini
Jarang bicara dengannya
Hanya sering mendengar dia menceritakan isi buku yang dia baca
Dan saya tertarik,
Bacaannya unik-unik
Sebagian bernuansa sufistik, sebagian lagi seni
Sebagian lagi fiqih,
Sebagian lagi buku-buku pemikiran dan ideologi
Tidak terlalu banyak berinteraksi
Sampai suatu pagi dia menyapa saya, menanyakan pendapat saya tentang kerja di sini
Sangat nyaman dan membahagiakan, jawab saya.
Baru sekarang saya temukan tempat kerja semembahagiakan ini
Kemudian dia pun berkata,
"Saya pun begitu. Kerja di sini betah, dan sudah terbilang lama. Dari perusahaan lain sebentar-sebentar keluar, sebentar-sebentar keluar, tidak betah."
"Kenapa?"
"Sering konflik. Tapi di sini tidak, sudah lama saya di sini."
Saya lupa waktu itu dia menyebut sudah kerja berapa tahun.
Akhir-akhir ini, beberapa hari menjelang nikah dia curhat lagi, "Sangat jarang perusahaan dengan pemimpin seperti di perusahaan ini."
"Memangnya waktu kerja di perusahaan lain bagaimana?"
"Gak betah Mas, saya langsung aja pamit. 'Permisi Pak, saya keluar.' udah, pergi."
"Hahaha. Kok bisa?"
"Gaji gak dinaikin."
"Apa yang membuat Mas merasa pantas naik gaji?"
"Beban kerja bertambah. Gue minta tambah gaji. Eh malah dikatain ini itu. Ya sudah, gue pergi aja."
"Haha."
"Pernah juga punya teman kerja. Gue kan suka gambar. Dia ngomong, "Apaan lo, ngegambar kayak gitu buang-buang waktu. Ya sudah gue cabut!"
"Lho, dia kan bukan pemilik perusahaan?"
"Iya cuma temen. Tapi teman kan suka memberi pengaruh. Gue gak mau... "
"Oh haha, ya ya ya."
Asal dia Surabaya, tempat kerjanya di lantai dua, sebidang meja nan luas biar dia leluasa menggambar,
Biasanya dia kerja di sana, sendirian, menggarap gambar, ditemani musik cadas
Atau shalawat
Atau ceramah-ceramah budaya Cak Nun
Dan lemari putih nan bisu, dengan buku-buku tersusun tinggi di atasnya
Jika tidur, biasanya dia naik
Ke lantai tiga
Jika mau ngopi, cangkir porselen bersendok porselen itu dia pegang
Dan bawa ke lantai empat,
Dak gedung
Tak jarang pula saya melihatnya menggelar sejadah di sana
Duduk sila dan berdzikir dengan tasbih di tangan
Tapi sekarang
Dia sudah tak ada, tak lagi tidur di sini sejak malam tadi
Entah di mana, mempersiapkan pernikahannya
Di lantai dua, saya menengok kursinya kosong, mejanya kosong, musiknya sepi
Hanya AC yang masih meniupkan hawa dinginnya kemudian saya matikan
Dia sudah tak di sini
Hari ini Si Gondrong menikah
Selamat Gondrong, perahumu telah siap
Tinggal naik
Hendak berlayar ke pulau mana, mungkin kamu sudah tahu
Dia pelukis.
Pertama kali melihat
Gondrongnya membuat saya segan
Mengira dia seorang eksklusif, hanya mau bicara dengan orang-orang tertentu
Karyanya banyak dan bagus-bagus
Jika dia melukis, melakukannya dengan sangat khusyuk, dan hasilnya sangat indah
Saking indah, pernah seseorang mencuri buat desain sablon gambar kaosnya.
Nama pena Wasikendedes
Buat pelukis rasanya kurang tepat menyebut nama pena
Karena biasa menggunakan kuas
Berarti nama kuas
Saya menyebutnya Si Gondrong dalam tulisan ini
Beberapa hari menjelang nikah, cukuran, dan orang-orang pangling
Dari rambutnya yang galing dan gondrong
Kini rapi klimis bersinar
Terlumuri minyak
Masih ingat awal saya di sini
Jarang bicara dengannya
Hanya sering mendengar dia menceritakan isi buku yang dia baca
Dan saya tertarik,
Bacaannya unik-unik
Sebagian bernuansa sufistik, sebagian lagi seni
Sebagian lagi fiqih,
Sebagian lagi buku-buku pemikiran dan ideologi
Tidak terlalu banyak berinteraksi
Sampai suatu pagi dia menyapa saya, menanyakan pendapat saya tentang kerja di sini
Sangat nyaman dan membahagiakan, jawab saya.
Baru sekarang saya temukan tempat kerja semembahagiakan ini
Kemudian dia pun berkata,
"Saya pun begitu. Kerja di sini betah, dan sudah terbilang lama. Dari perusahaan lain sebentar-sebentar keluar, sebentar-sebentar keluar, tidak betah."
"Kenapa?"
"Sering konflik. Tapi di sini tidak, sudah lama saya di sini."
Saya lupa waktu itu dia menyebut sudah kerja berapa tahun.
Akhir-akhir ini, beberapa hari menjelang nikah dia curhat lagi, "Sangat jarang perusahaan dengan pemimpin seperti di perusahaan ini."
"Memangnya waktu kerja di perusahaan lain bagaimana?"
"Gak betah Mas, saya langsung aja pamit. 'Permisi Pak, saya keluar.' udah, pergi."
"Hahaha. Kok bisa?"
"Gaji gak dinaikin."
"Apa yang membuat Mas merasa pantas naik gaji?"
"Beban kerja bertambah. Gue minta tambah gaji. Eh malah dikatain ini itu. Ya sudah, gue pergi aja."
"Haha."
"Pernah juga punya teman kerja. Gue kan suka gambar. Dia ngomong, "Apaan lo, ngegambar kayak gitu buang-buang waktu. Ya sudah gue cabut!"
"Lho, dia kan bukan pemilik perusahaan?"
"Iya cuma temen. Tapi teman kan suka memberi pengaruh. Gue gak mau... "
"Oh haha, ya ya ya."
Asal dia Surabaya, tempat kerjanya di lantai dua, sebidang meja nan luas biar dia leluasa menggambar,
Biasanya dia kerja di sana, sendirian, menggarap gambar, ditemani musik cadas
Atau shalawat
Atau ceramah-ceramah budaya Cak Nun
Dan lemari putih nan bisu, dengan buku-buku tersusun tinggi di atasnya
Jika tidur, biasanya dia naik
Ke lantai tiga
Jika mau ngopi, cangkir porselen bersendok porselen itu dia pegang
Dan bawa ke lantai empat,
Dak gedung
Tak jarang pula saya melihatnya menggelar sejadah di sana
Duduk sila dan berdzikir dengan tasbih di tangan
Tapi sekarang
Dia sudah tak ada, tak lagi tidur di sini sejak malam tadi
Entah di mana, mempersiapkan pernikahannya
Di lantai dua, saya menengok kursinya kosong, mejanya kosong, musiknya sepi
Hanya AC yang masih meniupkan hawa dinginnya kemudian saya matikan
Dia sudah tak di sini
Hari ini Si Gondrong menikah
Selamat Gondrong, perahumu telah siap
Tinggal naik
Hendak berlayar ke pulau mana, mungkin kamu sudah tahu
TULISAN DENGAN BAHASA SEDERHANA
Saya lebih suka tulisan dengan bahasa ringan tapi mendalam. Tulisan-tulisan Pak Agung misalnya, di buku "Gara-Gara Indonesia" dan "Tidak Semua Musibah itu Luka", dia menulis dengan bahasa ringan, biasa, bahasa yang terjangkau oleh banyak orang. Bukan tidak tahu istilah-istilah keren, populer dan ilmiah--Pak Agung tahu banyak--buktinya, bukan sekali dua kali saya menemukan istilah ilmiah lalu tanyakan pada Pak Agung, dan dia bisa menjawab.
Bukan sebab tidak tahu, dia tahu banyak, tapi lebih memilih berbagi tulisan dengan bahasa ringan, sederhana, dalam bentuk kisah, argumentasi ringan, dan ibarat-ibarat yang mudah dimengerti orang awam. Dia mengerti betul asas dakwah yang Nabi Sampaikah, "Berbicaralah kepada manusia sesuain dengan kadar kemampuan pikiran mereka."
Khotibunnas alaa qodri uquulihim.
Tengah menggarap tulisan ini, karena kebetulan satu ruangan kerja, saya wawancara dia sebentar, "Pak Agung, kenapa dalam menulis tidak mau menggunakan bahasa Ilmiah?"
"Dulu pernah menulis buku, terlalu banyak menggunakan bahasa ilmiah malah tidak ada yang baca."
"Dari sejak itu berhenti mengunakan bahasa ilmiah?"
"Iya. Tulisan saya pernah dimuat di Koran Tempo, membahas otonomi daerah, bahasanya biasa saja."
Beberapa kali saya mengangguk mendapatkan pengertian. Iya juga, kenapa
Seketika saya teringat kepada Amr Khalid, seorang dai mesir, dalam menyampaikan pemikiran, baik ceramah atau tulisan yang dia bagikan melalui buku-bukunya, dia lebih suka menggunakan bahasa sederhana yang mudah dimengerti banyak orang. Tidak seperti orator hebat dengan suara mengguntur meledak-ledak. Cara dia bicara biasa saja, akan tetapi isi materi yang dia sampaikan kaya akan kisah, hadits-hadits dan ayat. Catatan-catatan sunnah, ayat suci Al-Qur'an yang dia sampaikan meresap lalu orang tersentuh dan tidak jarang mata mereka berkaca-kaca. Itu terjadi karena--sekali lagi-- antara lain dia menyampaikan dengan bahasa sederhana. Maka dia menjadi dai favorit banyak anak muda. Para gadis memutuskan untuk mengenakan jilbab setelah mendengar ceramahnya.
Saya tulis ini tanpa maksud mengatakan buruk kepada tulisan yang disajikan dengan bahasa ilmiah. Sama sekali tidak. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk novel legendaris karya Buya Hamka, pada bab "Jiwa Pengarang" beliau berbagi kesan tentang betapa susah menghakimikarya bagus itu seperti apa. Yang ditulis sesuai kaidah atau justru yang melanggar. Ada kalanya sebuah tulisan justru disukai karena kerumitannya. Dan saya sepakat.
Ini soal selera saya. Rata-rata jatuh suka pada tulisan yang tersaji dengan bahasa biasa dan sederhana.
Bukan sebab tidak tahu, dia tahu banyak, tapi lebih memilih berbagi tulisan dengan bahasa ringan, sederhana, dalam bentuk kisah, argumentasi ringan, dan ibarat-ibarat yang mudah dimengerti orang awam. Dia mengerti betul asas dakwah yang Nabi Sampaikah, "Berbicaralah kepada manusia sesuain dengan kadar kemampuan pikiran mereka."
Khotibunnas alaa qodri uquulihim.
Tengah menggarap tulisan ini, karena kebetulan satu ruangan kerja, saya wawancara dia sebentar, "Pak Agung, kenapa dalam menulis tidak mau menggunakan bahasa Ilmiah?"
"Dulu pernah menulis buku, terlalu banyak menggunakan bahasa ilmiah malah tidak ada yang baca."
"Dari sejak itu berhenti mengunakan bahasa ilmiah?"
"Iya. Tulisan saya pernah dimuat di Koran Tempo, membahas otonomi daerah, bahasanya biasa saja."
Beberapa kali saya mengangguk mendapatkan pengertian. Iya juga, kenapa
Seketika saya teringat kepada Amr Khalid, seorang dai mesir, dalam menyampaikan pemikiran, baik ceramah atau tulisan yang dia bagikan melalui buku-bukunya, dia lebih suka menggunakan bahasa sederhana yang mudah dimengerti banyak orang. Tidak seperti orator hebat dengan suara mengguntur meledak-ledak. Cara dia bicara biasa saja, akan tetapi isi materi yang dia sampaikan kaya akan kisah, hadits-hadits dan ayat. Catatan-catatan sunnah, ayat suci Al-Qur'an yang dia sampaikan meresap lalu orang tersentuh dan tidak jarang mata mereka berkaca-kaca. Itu terjadi karena--sekali lagi-- antara lain dia menyampaikan dengan bahasa sederhana. Maka dia menjadi dai favorit banyak anak muda. Para gadis memutuskan untuk mengenakan jilbab setelah mendengar ceramahnya.
Saya tulis ini tanpa maksud mengatakan buruk kepada tulisan yang disajikan dengan bahasa ilmiah. Sama sekali tidak. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk novel legendaris karya Buya Hamka, pada bab "Jiwa Pengarang" beliau berbagi kesan tentang betapa susah menghakimikarya bagus itu seperti apa. Yang ditulis sesuai kaidah atau justru yang melanggar. Ada kalanya sebuah tulisan justru disukai karena kerumitannya. Dan saya sepakat.
Ini soal selera saya. Rata-rata jatuh suka pada tulisan yang tersaji dengan bahasa biasa dan sederhana.
Friday, February 12, 2016
NASKAH CERAMAH UNTUK SEORANG TEMAN
Seorang teman minta tolong dibuatkan pidato. Dia pengurus ODOZ, One Day One Juz, sebuah komunitas yang membangun komitmen sehari membaca satu juz Al-Qur'an. Akan dia adakan pertemuan dan di sana, sebagai pengurus dia akan diminta menjadi pembicara. Buat persiapan, dia minta bantuan saya.
Waduh keberatan. Saya katakan padanya, sekarang kepala dipenuhi banyak hal, disibukkan banyak hal, sepertinya tak bisa lagi menulis semenyentuh dulu. Dia jawab, tak mengapa kata katanya biasa saja, tidak usah menyentuh segala. Biasa saja.
Oh baik temanku.
Tapi maaf, jika ini saya buat seenaknya:
Benarkah seperti itu tujuan pembangunan taman itu digagas? Ah ini hanya perkiraan saya, tapi darinya saya ingin mengambil renungan, begitulah kiranya kita membangun pertemanan, fokus kepada kebaikan teman daripada kekurangannya. Seperti dari bunga raflesia mengambil keindahannya buat penghias taman dan melupakan baunya, begitu pula kepada teman, lebih memusatkan kepada kebaikan mereka daripada kekurangannya.
Seorang ulama pernah berkata, untuk menyambung sillaturrahmi dengan mudah, semestinya kita melakukan 4 hal: Melupakan keburukan orang dan memaafkannya, mengingat kebaikan orang dan berterima kasih padanya, melupakan kebaikan diri sendiri jangan terus mengingatnya, mengingat kesalahan diri sendiri dan berusaha meminta maaf.
Allah berfirman dalam surta Alfatihah ayat 3, "Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang." Jika Allah begitu murah, kenapa kita tidak menjadi pemurah dengan murah memaafkan. Jika Allah begitu penyayang, mengapa kita makhluk yang tak berdaya tidak menjadi penyayang dengan mudah memaafkan. Saling memaafkan, saling memberi semangat, saling memotivasi, saling mengingatkan dalam kebaikan, begitulah antara lain yang menjadi landasan sillaturrahmi kita.
Subscribe to:
Posts (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Saya lebih suka tulisan dengan bahasa ringan tapi mendalam. Tulisan-tulisan Pak Agung misalnya, di buku "Gara-Gara Indonesia" dan ...
-
Disulamnya sapu tangan itu dengan penuh penghayatan Melukis gambar rembulan Rembulan merah muda, Dan dua ekor merpati terbang di kedua sis...