Friday, February 12, 2016

BUKU LEBIH NIKMAT DARI GORENGAN

Makanan ternikmat adalah pengetahuan. Mengkonsumsinya membuat saya puas dan setelahnya tidak kekenyangan. Tidak menimbulkan penyakit sebagaimana jika saya makan banyak. Mungkin saja di antara Anda ada yang berkata, mengkonsumsi terlalu banyak ilmu juga tidak baik buat kesehatan jiwa. Saya bertanya, memangnya Anda pernah mengkonsumsi ilmu itu terlalu banyak? Bukankah selama ini ilmu yang Anda konsumsi terlalu sedikit?

Pagi hari biasanya sarapan gorengan. Turun ke pinggir jalan, dan karena kepagian, gorengan itu belum matang, tempe masih mentah, ubi masih mentah, dan singkong, baru satu kali menggoreng, belum digoreng keduakalinya. Begitulah cara menggoreng singkong yang nikmat, digoreng dulu sekali, angkat, rendam dengan air campur garam dan bumbu masak sampai singkong itu mekar, kemudian, goreng lagi buat yang kedua kalinya. Singkong empuk pun kini berkulit renyah. Sangat nikmat.

Karena belum matang, saya menunggu dan itu cukup lama. Tapi tidak menjenuhkan karena, seperti biasa, buku selalu di tangan. Waktu saya tabrak dengan membaca, dan tidak tahu kenapa, membaca sebelum makan itu lebih lancar daripada setelah makan. Dalam kondisi perut kosong, otak lebih mudah mencerna apa yang dibaca dan meresapkannya. Kali ini saya membaca buku karya Abdullah Bin Alawil Hadad, ulama tashawuf kenamaan abad ke-12 Hijrah. Membaca bukunya sangat nikmat.

Betul kata Mufti Mesir, Syaikh Hasanain Muhammad Makhluf, "Sayyid Abdullah al-Haddad dikenal sebagai Syaikh Al-Islam... tulisannya mengharukan dan menyentuh hati. Ceramahnya menarik untuk didengarkan, dan hujjahnya sering mematikan."

Membaca buku ini adalah meresapi nasihat beliau kepada berbagain kalangan, antara lain kepada pencari, pencinta, dan penyandang ilmu pengetahuan. Beliau mengutip sabda Nabi Saw yang bunyinya, "Manusia yang terdekat dengan kenabian adalah orang-orang yang berilmu dan berjihad. Orang-orang yang berilmu memberi petunjuk kepada manusia atas hal-hal yang dibawa oleh para rasul. Sedangkan orang-orang yang berjihad, mereka berjihad dengan pedang mereka atas hal-hal yang dibawa oleh para rasul."

Mengutip juga perkatan Ali Karamallahu Wajhah, " Wahai Kumail, ilmu lebih baik daripada harta. Sebab ilmu menjagamu, sedangkan harta harus kamu jaga. Ilmu mengurusmu, sedangkan harta harus kamu urus. Harta menjadi kurang saat dinafkahkan, sedangkan ilmu bertambah." Dan seterusnya dalam uraian panjang beliau menuturkan nasihat-nasihat, hikmah-hikmah, perkataan Rasulullah yang mulia, perkataan para ulama dan kutipan-kutipan potongan hidup mereka. 

Sambil menulis ini, saya berbicara kepada teman, Wasikendedes yang juga pencinta buku-buku agama karya para ulama, "Kenapa ya, karya para ulama terdahulu itu membacanya selalu betah. Kata-katanya meresap?"

"Ya memang. Seperti Ibnu Athaillah."

"Atau Imam Ghazali." tambah saya. 

Mungkin karena mereka menuliskan pengetahuannya dengan ikhlash, murni hanya menghadap ridha Allah. Efeknya, ilmu mereka, berkah memanjang terus dinikmati orang berabad-abad setelah mereka meninggal. Seperti Abdullah bin Alawil Hadad yang pagi ini karyanya menasihati saya, "Peringatan bagi 8 Kelompok Manusia." Membacanya lebih nikmat dari makan gorengan, memberi saya kesadaran, jika pagi bisa dihabiskan dengan menikmati bacaan yang membuat saya tercerahkan, kenapa harus turun ke luar jajan gorengan?

KENALKAN, SAYA PENJILAT

Bukan baru-baru ini saya disebut penjilat, cari muka. Sudah lama, sudah sejak setahun yang lalu, dan itu tak mengapa. Hehe, beneran. Karena kesenangan saya bukan cuma cari muka, tapi juga cari maki-maki. Soalnya suka lucu, suka datang orang maki-maki postingan saya, mengatakan sampahlah, asal bunyi lah, menyesatkan lah, eh tapi dia terus komentar di postingan saya. Kan aneh. Menyebut postingan sampah, tapi terus memberikan komentar. Ya jadinya terangkat. Itu sih sama saja mendukung. Itulah sebabnya saya gembira. Jadi sekali lagi, jangankan disebut cari muka, dapat maki-maki saja tak mengapa.

Menurut saya, menjadi penjilat masih lebih terhormat daripada menjadi penjilat ludah sendiri yang sudah meleleh di lantai. Misalnya orang yang mencela-cela sebuah grup kepenulisan, tapi masih saja dia gentayangan di sana karena penasaran.

Eh jangan kira saya sedang marah ya.

Enggak!

Sungguh. Bahkan sebutan penjilat di kantor saya sempat dijadikan candaan. Pas sedang kerja, guru saya masuk kantor, dia langsung berseru, "Hai Penjilat!" dan orang-orang kantor tertawa. Saya juga. Kenapa harus susah dengan sebutan seburuk apapun dari orang jika saya bisa menjadikannya sebagai bahan tertawaan. Salah satu halaman buku Humortivasi menyebut, tertawa membawa pengaruh positif bagi pikiran. 

Sebenarnya tidak bermaksud menjilat, saya hanya suka memberikan penghargaan kepada kebaikan seseorang, sekalipun itu hanya ucapan. Saya hanya ingin orang lebih fokus kepada kebaikan yang didapat daripada kebaikan yang belum didapat. Itu karena saya sendiri merasakan, betapa jengkelnya setelah berusaha memberi banyak, tapi yang diberi malah meminta sesuatu yang bagi saya cukup berat.

Kepada orang yang saya hormat, lebih suka menyebutkan kebaikan-kebaikannya, bahkan keburukannya seringkali saya maknai sebagai kebaikan yang dia kemas dengan cara berbeda.

Saya sangat hormat kepada orang yang berbuat baik kepada saya, tapi saya lebih hormat lagi kepada orang yang berusaha berbuat baik kepada banyak orang. 

Saat menulis ini, Wiro memutar lagu dangdut. Harus jujur nadanya sangat enak. Semangat seperti terbangunkan, kursi saya geser cepat, tapi mendengar itu Wiro bertanya, "Mengganggu ya?"

"Oh tidak. Ini lagu enak, saya baru dengar. Judulnya apa?"

Tidak perlu Anda tahu judulnya apa, yang penting tahu bahwa saya, saat memulai tulisan ini, menggarap tengah, dan mengakhirinya, hati ini dalam keadaan senang.

Jadi dengan bahagia, saya ingin mengenalkan diri kepada Anda, "Halo, kenalkan. Saya seorang penjilat!"

Thursday, February 11, 2016

BUKU YANG SANGAT BERAT SAYA SEBUTKAN JUDULNYA

Amat disayangkan buku ini diberi judul vulgar. Saking vulgarnya sampai-sampai saya berat mengatakannya kepada Anda. Berat menyebutkan pada tulisan ini di paragraf awal. Entahlah di paragraf berikutnya. Mungkin di paragraf dua, atau kalau tidak, mungkin di paragraf tiga, atau empat, atau mungkin di paragraf terakhir. Berat, benar-benar berat. Khawatir jika saya tuliskan, nanti muncul komentar "Hai, di sini ada anak di bawah umur."

Saya rasakan sendiri kemarin membaca buku itu di angkot, dilihat orang jadi malu. Saya berusaha menutupi jilid, khawatir orang mengira saya membaca buku kurang pantas. Di kampung, sambil mengasuh anak, saya bawa buku itu kemudian seorang tetangga melihat, "Itu novel?" tanyanya. Langsung saya tutup.

Waktu istri berrencana membawa buku ini ke PAUD, buat dia baca sambil menunggui anaknya belajar, dia berkata, "Mungkin harus dibungkus dulu."


"Kenapa?"

"Biar judulnya tertutup."

Judul buku ini memang cukup syur.

Padahal isinya sangat bagus. Bukan, sama sekali bukan buku yang membicarakan syahwat. Tapi menyajikan motivasi dan renungan.

Jujur, karena judulnya cukup menggoda syahwat, semula saya mengira hanya menguraikan pembicaraan orang dewasa. Pas saya buka ternyata tidak. Buku ini sebuah kumpulan tulisan. 

Dengan bahasa lancar dan tidak membosankan, penulis mengajak pembaca mengambil renungan dari berbagai hal. Fenomena sejarah, penggalan kisah hidup orang-orang terkenal, pengalaman pribadi dirinya, apa saja tema yang ditulisnya sangat gurih buat dibaca.

Oh teman, maaf jika tulisan saya membosankan. Setiap kali menceritakan buku pasti isinya itu-itu saja: Bahasanya lancar dan enak dibaca. Tidak membosankan, penuh wawasan, dan sebagainya. Tapi saya mengatakan itu serius. Saya katakan itu karena sudah membaca, dan bisa membacanya dengan nikmat. Saya bukan pembaca cerdas yang bisa mencerna setiap bacaan dengan mudah. Hanya buku tertentu yang benar-benar membuat saya, saat membacanya benar-benar merasa nikmat. Dan buku ini antara lain.

Duh, saya masih berat menuliskan judulnya.

Hoeda Manis, begitu penulis buku ini menamai dirinya. Sepertinya nama samaran, karena menurut pengakuannya, dia telah menarik diri dari publisitas secara terbuka sejak tahun 2006. Sekararang lebih suka mengkonsentrasikan dirinya ke tulisan. Siapa pun mengundang dirinya buat tampil jadi pembicara untuk materi apa saja, dia hanya bisa minta maaf: tidak bisa. Saya tidak tahu siapa dia sebenarnya. Dari bagusnya tulisan, seperti bukan pemula. Bahasa tulis sangat lancar. Materi yang dia sajikan berisi, tidak murahan.

Misalnya saat Hoeda dengan sangat unik penulis menceritakan Mozart. Siapa pun pencinta musik klasik tahu siapa Mozart, tapi hanya sedikit orang tahu kisah pribadinya bahwa dia pernah mempunyai pacar. Mereka saling jatuh cinta, sampai kemudian seorang pria lain menaksir pacar mozart, "Dan tololnya, si wanita memilih meninggalkan mozart untuk menikah dengan laki-laki itu." tulis Hoeda. "Karena diputus secara sepihak, Mozart pun patah hati, dan ia butuh waktu bertahun-tahun menyembuhkan lukanya. Selama bertahun-tahun pula, ia tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita lain. "Sampai bertahun-tahun kemudian, ketika Mozart telah menjadi sosok terkenal dan dunia mengakuinya sebagai musisi genius, para wartawan melacak keberadaan wanita yang menjadi mantan pacar Mozart, dan menanyakan, "Mengapa Anda dulu meninggalkan Mozart untuk menikah dengan laki-laki lain?" Dengan jujur, wanita mantan pacar Mozart itu menjawab, "Dahulu, saya tidak pernah tahu kalau ia sejenius itu. Saya hanya tahu bahwa ia pendek." Jadi rupanya, wanita itu memutuskan Mozart secara sepihak dan meninggalkannya untuk menikah dengan laki-laki lain hanya karena melihat bahwa Mozart memiliki postur tubuh yang pendek."

Dari kisah itu kemudian Hoeda Manis membawa pembaca tenggelam menyelami sebuah renungan, bagaimana seharusnya menjalin hubungan. Menjalin hubungan dengan seseorang, jika itu ingin melakukan itu dengan tulus sudah seharusnya bersiap sedia menerima kekurangan. "Manusia dikaruniai kelebihan, tetapi juga dilengkapi kekurangan, karena itulah ciri manusia." 

Renungan-renungannya sederhana, tapi sangat meresap. Tulisan lain misalnya saat membicarakan Bung Hatta. Wakil presiden pertama Republik Indonesia ini sebenarnya bisa saja minta bantuan pengusaha buat membeli sepatu yang diingingkannya, tapi sampai beliau meninggal dunia, sepatu yang sangat diinginkan itu tidak kesampaian. Dari kamar beliau, "Setelah wafat, keluarganya membereskan barang-barang Bung Hatta, dan mereka menemukan guntingan iklan sepatu itu di antara tumpukan bukunya."

Tulisan lain juga sangat menggugah. Saat menceritakan Isack Newton yang kurang pergaulan, tidak bisa berteman baik dengan orang, temperamental dan mudah tersinggung. Pada bagian ini penulis membaca pembaca pada renungan betapa tidak mungkinnnya menuntut orang lain sempurna, sebab tidak seorang pun manusia sempurna. Dan masih banyak tulisan lainnya sampai 65 bab menjadi sebuah buku setebal 389 halaman.

Kalau saja bisa ngobrol dengan penulisnya, ingin saya sampaikan, untuk cetakan berikutnya, sebaiknya judul diganti dengan yang lebih ramah. "Tak perlu khawatir buku Anda takkan sukses di pasar. Kepandaian menulis Anda yang mempuni tak perlu disangsikan. Telah banyak pembaca jatuh cinta termasuk saya. Jangan pake yang itu lagi ya! Sebagai penjual buku, saya jadi risih mempromosikan buku Anda sambil menyebut judulnya. Padahal, betapa ini berbagi ke teman pembaca lain jika bukumu ini bagus."

Sunday, February 7, 2016

PENULIS BUKU ANEH

Pernah kepada sebuah tulisan karya orang lain saya menyebut asal bunyi, sembarangan dan menyesatkan. Seakan tulisan saya sendiri bagus, hebat dan penuh dengan petunjuk dan kebenaran. Kepada tulisan itu saya katakan mentah tidak berdasarkan penelitian akurat, seakan tulisan saya sendiri kaya akan fakta dan sangat akurat.

Saya katakan itu dengan penuh jumawa, dengan kalimat-kalimat penuh kesombongan dan nada merendahkan seakan diri saya sendiri penuh dengan kemuliaan. Saya menghina tulisan itu dan ingin supaya si penulis benar-benar merasa terhina. Karena memang begitulah kebahagiaan saya, yaitu saat sanggup merendahkan karya orang lalu merasakan kepuasan, kemudian saat mendapatkan sanjungan dan pujian buat karya diri saya sendiri lalu merasakan kebanggaan.

Seperti saat saya membuat tulisan di kompasiana. Padahal saya sendiri yang menulis di kompasiana, tapi kepada teman-teman facebook saya umumkan bahwa tulisan saya sudah masuk kompas. Sebab saya kira, sebagian teman saya itu tidak mengenal kompasiana, dan menyangka kompasiana itu tidak ada bedanya dengan kompas. Pada sebuah postingan saya simpan tautan link kompasiana itu, kemudian saya panggil teman-teman supaya membaca dan menyanjung. Itu semua saya lakukan untuk memenuhi rasa dahaga saya akan pujian dan kehormatan.

Dan sesuai harapan, orang-orang pun berdatangan memberikan pujian, mengatakan tulisan saya bagus. Sedangkan saya, membaca berbagai komentar manis mereka hanya bisa tersenyum, mengangguk-angguk, sambil berkata dalam hati, "Sudah selayaknya sanjungan itu mereka ucapkan, karena, tulisan saya memang hebat."

Tanpa saya ketahui ternyata, dari sekian banyak orang yang melihat, satu di antaranya adalah orang yang pernah saya injak-injak tulisannya. Saat link kompasiana yang saya bagikan dia klik dan baca, hatinya menggerutu habis-habisan, "Gue kira tulisannya sebaik apa. Bah!!! Norak, banyak mengulang kata, banyak serangan. Baru membaca paragraf awal sudah membosankan."

Saya kira gerutuannya cukup sampai di sana. Ternyata tidak. Masih panjang, "Dia kira orang lain itu sebodoh apa. Kompasiana itu berbeda dengan kompas. Kompasiana itu situs umum yang bahkan anak bolon baru belajar menulis huruf H pun bisa posting di sana. Siapa saja bisa nulis di Kompasiana. Tulisan bisa mejeng di sana itu bukan keistimewaan, jadi sebenarnya tidak pantas dijadikan kebanggaan. Dasar gak tahu malu!!"

Sebel, marah, dan saya tidak suka kepada orang itu. Berani-beraninya dia menggerutu sekalipun di dalam hatinya. Akan tetapi saya kebingungan bagaimana harus melawan dan bertindak, sebab hati yang menggerutu itu bukanlah hati orang lain, akan tetapi hati saya yang penuh dengan keanehan. Aneh karena, untuk diri sendiri selalu melakukan pembelaan berusaha dengan kata-kata mengesankan diri ini hebat, sedangkan kepada orang lain inginnya itu mentertawakan dan merendahkan dengan segala pengetahuan yang saya punya.

Saturday, February 6, 2016

BUKU NOVEL REMBULAN UNGU

Disulamnya sapu tangan itu dengan penuh penghayatan
Melukis gambar rembulan
Rembulan merah muda,
Dan dua ekor merpati terbang di kedua sisinya.
Untuk dia persembahkan suatu saat kepada pemuda yang pertama menggetarkan hatinya.

Panjalu, nama pemuda itu
Adalah prajurit kerajaan Mataram, datang ke rumah sang gadis, membawa surat untuk ayahnya
Tinggal beberapa hari
Dan merasakan getar yang sama.
Tentu saja karena gadis ini perawan kencur yang sangat cantik jelita
Bawaan rupa dari ayahnya yang keturunan China.
Tanpa Panjalu ketahui, sesungguhnya isi surat yang dia antarkan itu meminta, supaya si ayah merelakan gadis ini diambil Mataram untuk dijadikan selir kerajaan.

Setelah beberapa hari Panjalu tinggal
Datanglah prajurit lain sebagai utusan kerajaan, untuk membawa sang gadis

Maka dibawalah
Dan panjalu ikut serta, karena dia memang prajurit Kerajaan Mataram juga
Itulah yang membuat sang gadis mau, sebab merasa aman
Disertai pria yang dicintainya

Akan tetapi sampai di Mataram, dan tahu ternyata dirinya akan dijadikan selir raja
Dengan linangan air mata memohon Panjalu membela
Sebenarnya tak terelakkan
Hati pemuda ini pun hancur berantakan
Tapi demi keselamatan semuanya, keselamatan dirinya, keselamatan gadis yang dicintainya, dia memilih diam.

Dibawalah gadis ini menghadap raja
Sunan Amangkurat, dan langsung terpikat, kemudian memerintahkan supaya menempatkan sang gadis pada sebuah rumah bernama wirarejan, untuk dilatih menari, melantunkan tembang, berdandan, memakai pakaian pantas, dan mempelajari sopan santun istana.

Saat dalam pemingitan itulah Putra Mahkota Raja bernama Adipati Anom datang, melihatnya dan tertarik juga, lalu dengan bantuan kakeknya, Pangeran Pekik, Adipati Anom berhasil mengambil si gadis dan dia jadikan istrinya.

Saat Amangkurat tahu, betapa marahnya dia
Marah kepada orang-orang yang membiarkan calon selirnya dinikahi putranya sendiri
Marah kepada pangeran pekik dan istrinya, lalu menghukum mati keduanya dengan sadis di alun-alun. Marah kepada Wirareja dan membakar rumah beserta isi dan orang-orang di dalamnya sampai binasa.

Marah kepada sang putra mahkota yang memeluk kakinya minta maaf
Amangkurat mengacungkan keris, dan sang putra merasakan itulah detik-detik terakhir hidupnya.

"Tenanglah anakku, keris ini kucabut bukan untuk membunuhmu. Kamu hanyalah orang yang diperalat. Pangeran Pekik adalah kakekmu, mertuaku yang ingin menggulingkanku, dan caranya adalah membuatmu jatuh cinta kepada selirku supaya nanti namaku menjadi hancur karena berebutan wanita dengan anaknya sendiri. Karena itu, nanti akan kuadakan pesta besar dengan keramaian besar, untuk membuktikan kesetiaanmu, kau pegang keris ini, dan tusuklah wanita itu sampai binasa di hadapanku, hanya dengan cara itulah aku bisa memberikanmu maaf."

Pesta besar itu pun diadakan.
Dari kerangkeng gadis itu dikeluarkan, namun sang pangeran ragu
Gemetaran dia pegang keris itu,
Diam
Ragu, bingung memilih mana
"Ayo lakukan, jika kamu seorang yang setia kepada ayahmu."
Masih juga diam, bingung, ragu, takut,
Si gadis lari mendekat, menusukkan diri pada keris itu hingga terkapar, bersimbah darah

Panjalu terbelalak melihat gadis yang dicintainya dengan tulus kini rubuh tergeletak, disanggahnya dengan satu kaki dan tangan. Menjerit lirih meminta maaf tak bisa melindungi, menjerit hatinya kenapa jadi begini.

Mata si gadis masih terbuka, tangan masih sanggup bergerak. Dari pinggang dicabutnya sapu tangan, dia berikan kepada Panjalu, sapu tangan bersulam gambar rembulan merah muda yang sangat indah itu kini tertetesi darah, dan warnanya berubah menjadi ungu.

(Diringkas dari novel Rembulan Ungu karya Bondan Nusantara)

Friday, February 5, 2016

BUKU HUMORTIVASI

Sebuah panggilan dari Padang, bukan panggilan kerja, ini panggilan telfon, menanyakan, apa benar dalam buku humortivasi ada bagian yang menerangkan manfaat humor untuk meredakan stres? Ditanya begitu, tentu saja saya bisa dengan sangat mudah menjawab, ada, karena saya termasuk orang yang berulang kali membaca buku karya Pak Isa itu sejak sebelum terbit.

Dia butuh itu buat keperluan skripsi. Kemudian minta bukti berupa foto halaman yang mencantumkan bagian yang menerangkan manfaat humor itu, tapi saya keberatan. Khawatir ini sebuah kekeliruan, harus minta izin dulu kepada Pak Isa. Buku itu saya bawa, namun saat hendak masuk ruangan kerja, tampak Pak Isa sedang sibuk mengedit tulisan. Saya jadi bingung antara masuk dan tidak. Masuk khawatir mengganggu, tapi kalau memfoto begitu saja tanpa minta ijin khawatir juga ini sebuah kesalahan, karena memfoto halaman di toko buku pun dilarang.

Akhirnya Pak Isa keluar.

"Pak, ini ada orang mau nyusun skripsi tentang humor, dan dia ingin mengambil datanya dari buku Humortivasi. Dia minta foto bagian halaman yang mencantumkannya."

"Oh ya, gak papa. Iya memang di bahas di sana."

"Baik Pak!"

Bukan cuma cerita lucu, Humortivasi mengupas manfaat humor bagi kesehatan. 

"Memicu otak mengeluarkan hormon endorphin dan melatonin yang membantu sistem saraf menjadi ruleks dan tenang. Tertawa bisa meminimalisir pikiran negatif penyebab depresi, mengurangi rasa kesepian, membuat seseorang berpikir lebih positif terhadap diri sendiri, mengubah mood yang buruk, dan menyehatkan batin." tulis Pak Isa

Itu sebagian manfaat yang disampaikan, dan masih ada enam bagian lain manfaat humor bagi kesehatan.

Karena harus mengirimkan foto, komunikasi dilanjutkan lewat whatsapp.

"Bang apakah jenis buku ini bisa dijadikan bahan skripsi atau sekedar buku biasa?"

"Bisa Mbak, ini buku resmi, ada ISBN nya."

"Coba fotoin cover, pengarang dan penerbitnya Mbak. Temanku meminta."

Saya kirimkan fotonya.

"Bagaimana cara ordernya Bang? Berapa ongkir ke Padang? Apakah buku itu tersedia di Gramedia?"

"Ongkir Rp. 28.000, supaya tidak tanggung, mbak bisa pesan bersama 2 buku Pak Isa lainnya, harga paket Rp.99.000 ditambah ongkir jadi Rp. 127.000."

Saya tawarkan karena itu paket sangat murah, potongannya sangat besar jika dibandingkan membeli satuan. Kasihan, orangnya jauh di Padang, membeli satu atau  3 buku, ongkos kirim sama saja. Sebagai penjual, saya mau pembeli juga mendapatkan keuntungan.

Thursday, February 4, 2016

BLOG GILA BUKU

Langsung dah saya menyeduh kopi merayakan kebahagiaan diterima oleh google adsense. Bahasa kerennya di approve gitu lho. Kopi di kolong meja saya bawa ke dekat rak piring, menyiapkan cangkir bersih, dan menyeduhnya. Kopi Torabika Cappuchino, saya taburkan moccanya, tapi tampak di dalam gelas, air tergenang, air bekas mencuci gelas, jadi saya tumpahkan, dan moccachino terbuang.

Tidak mengapa, masih ada kopinya.

Sedu dengan air dispenser dan bawa ke meja. Meminumnya terasa bersalah, teringat beberapa hari lalu perut mual, setelah minum kopi ini, dan waktu itu belum makan. Wah saya harus sarapan nih. Niat menulis pun tertunda, menuruni dulu tangga, membuka gembok pintu depan, keluar, berniat mendatangi tepian jalan di mana sebuah roda gorengan biasanya mangkal. Tidak tahu kenapa padahal saya tahu bahayanya gorengan, karena enak, pagi hari itu selalu saja tak tahan buat membeli gorengan. Dan ah itu roda yang beberapa hari kemarin hilang tak mangkal di sana, sekarang ada. Singkong goreng, itu kesukaan saya. Selain besar, singkong lebih harum, gurih dan alami dibanding bakwan dan cireng. Masih proses penggorengan. Saya tunggu sambil mengajak ngobrol si Bapak.

"Beberapa hari kemarin ke mana Pak?"

"Natus."

Natus adalah istilah kenduri seratus hari setelah seseorang meninggal dunia.

"Siapa yang meninggal?"

"Ibu"

"Oh" harusnya saya mengucapkan istirja tetapi tidak.

Singkong goreng diangkat ke penirisan minyak. Sebelum disimpan di tempat penyusunan pajangan gorengan saya ambil singkong itu dengan penjepit dan masukkan ke kantong kertas.

Bawa ke kantor, sambil kembali kerja, singkong itu saya makan.

Maaf banyak bicara, ini saking bahagianya.

Oh ya saya lupa. Tadi sepanjang perjalanan kembali ke kantor, banyak sekali inspirasi datang. Bahwa saya, sekarang harus menulis habis habisan. Menulis gila gilaan. Dan tulisan saya harus difokuskan ke dunia perbukuan. Menulis secepat cepatnya, menulis sebanyak-banyaknya. Hiperbolisnya, saya harus banyak menulis sebagaimana orang lain banyak bicara. Apa yang selama ini saya jadikan bahan pembicaraan yang dikeluarkan dengan lisan, sekarang harus saya tuliskan.

Dari pembicaraan lisan kepada pembicaraan tulisna. Apa pun yang ingin saya ungkapkan dengan lisan, lebih baik saya ungkapkan ke dalam tulisan. Gunanya, semakin saya diam, semakin orang lain tidak bising dengan kata-kata saya. Semakin saya banyak diam, semakin orang lain penasaran dengan apa isi hati saya, dan karena mereka penasaran dengan isi hati saya, maka mereka akan membaca tulisan saya. Hahaha, gede rasa banget ya. Memang siapa yang akan tertarik dengan saya? Memang siapa yang akan penasaran pada saya? Memangnya punya kelebihan apa?

Heheh, tidak punya kelebihan sih.

Ini mah bercanda saja, siapa tahu ada benarnya. Hehe.

Ini mah hanya cara saya saja untuk memperbanyak tulisan.

Oh ya, perbincangan blog akan lebih banyak saya fokuskan ke buku. Ini dikarenakan banyak seklai alasan.

Pertama, saya bekerja di dunia perbukuan. Hai kamu yang penasaran di manakah kerja saya sekarang, setelah sekian lama menghilang tidak bertemu dengan kalian, sekarang saya kerja di dunia perbukuan. Sejak dulu saya memang cinta buku, dan sangat cinta kepada buku, maka kini pun kerja di dunia penerbitan buku. Di sini, karena sebagian besar tugas saya adalah menjual, menjual buku, maka yang harus saya lakukan adalah menuliskan iklan dengan sebaik-baiknya supaya orang terpikat. Penerbit tempat saya kerja meluncurkan banyak sekali buku Asma Nadia, maka yang harus banyak saya tuliskan adalah buku Asma Nadia. Akan saya tuliskan review buku itu di blog.

Kedua, saya gila buku, saya membeli buku bukan karena ingin membaca buku itu, karena ternyata bagi saya betapa sempitnya waktu. Membeli buku hanya karena kegilaan saya terhadap buku. Lihat ke sini, ke kantor saya, sebuah lemari saya bajak dan saya penuhi dengan buku saya. Mengerikan, dan sebagian besar buku itu belum saya baca, bertumpuk saja di sana tidak bermanfaat. Maka tadi malam, pas datang teman bersama istrinya, saat dia mengatakan ingin meminjam buku, saya persilakan. Kemudian si suami membawa buku tebal berjudul "Sejarah Tuhan" dan istrinya membawa buku Ipho Santosa berjudul "13 Wasiat Terlarang". Begitulah buku saya tertumpuk banyak yang tidak terbaca, karenanya sebagian saya tawarkan ke orang orang buat dijual.

Dan eh meski buku saya sudah banyak, masih saja merasa kurang dengan mendaftarkan diri ke perpustakaan kota. Kota Depok ini terbilang kota besar, langit oleh gedung-gedung tinggi dicakar, karenanya cukup memalukan jika tidak punya perpustakaan. Untungnya punya, sebuah perpustakaan besar yang bahkan alat naiknya memakai lift, mewah deh pokoknya, kursi tempat duduknya juga menggunakan kursi putar, dan saat saya mendaftar ke sana kemarin, prosesnya sangat cepat, kartu bisa dibawa hari kemarin juga.

Ketiga, alasan kenapa hanya tentang buku yang akan saya tuliskan, karena saya punya ide unik tentang ini. Judul yang akan saya buat untuk setiap tulisan adalah judul yang bisa menarik perhatian. Misalnya gila buku, mabuk buku, buku-buku menyesatkan, kenapa buku ini dilarang, buku yang mengandung dosa, dan sebagainya, Hanya buat menarik orang mengklik dan membaca.

Ah pokonya saya akan menulis segila-gilanya, sebanyak-banyaknya, tentang dunia perbukuan. Mengingat googl sudah menyetujui situs saya untuk dia tempatka iklan.

Akan tetapi ah, saat blog kembali saya buka untuk ke sekian kalinya, iklan itu hilang, tidak muncul lagi di sana, dan yang ada hanya tempatnya saja, yang kosong. Dan saat saya cek ke akun adsense saya, ternyata, katanya, blog saya masih dalam proses peninjauan, jadi iklan yang ada sekarang hanya berupa lahan kosong saja. Nanti setelah google setuj iklan akan mereka cantumkan juga.

Uhuk uhuk.

Mau Betulin Hape