Akun penulis postingan itu lupa lagi, cuma sedikit ingat, maaf, namanya agak mirip jenis kacang begitu.
Saat membaca tulisan itu, saya ingin tidak berpihak kepada siapa-siapa. Tidak juga ingin memberikan komentar serius, apalagi mendebat, sekalipun saya sendiri seringkali berbagi cerita tentang keindahan rumah tangga.
Memang untuk berbagi sisi kelam dari kehidupan rumah tangga cukup berat, apalagi menceritakan aib rumah tangga pribadi, sebab ini berarti menyangkut kehormatan keluarga. Jadi saya pikir, akan sangat jarang orang menulis tentang kepahitan rumah tangga.
Hanya sehari kemudian saya teringat sebuah buku yang, sekalipun tengah malam dan lelah, tapi mata bisa segar membacanya. Buku itu membahas pernikahan, dan tak biasa. Saat buku lain membahas dari sisi keindahan, melain pahit getirnya dalam bentuk kisah.
Kata Pengantarnya yang berjudul "SEPUCUK EMAIL DARI VE", menyampaikan...
"Pernikahan memang seringkali terlihat dalam warna-warni pelangi. Mimpi-mimpi indah bisanya mengisi benak seorang gadis sebelum dia menikah. Pada kenyataannya mungkin hanya sedikit perempuan yang benar-benar beruntung merasakan hanya nuansa cerah selama menikah. Seorang teman mengernyitkan kening saat melihat buku CATATAN HATI SEORANG ISTRI. Tidak mengerti kenapa saya hanya menulis kisah-kisah getir tentang pernikahan. "Seperti nggak ada pernikahan yang bahagia saja Mbak!" lebih kurang begitu komentarnya."
Bila yang diinginkan itu kisah rumah tangga dari sisi pahit getirnya, buku ini memberikan. Ditulis berdasarkan email dari para istri yang dinasibkan kurang beruntung dalam rumah tangganya.
Antara lain surat dari Ve
"... Suami memang tidak pernah memukul, tapi mengucapkan kata-kata kasar dan kurang pantas memang cukup sering. Pernah suatu hari dia marah dan sangat tersinggung untuk sesuatu yang tidak saya ketahui alasannya. Hanya berulang-ulang dia katakan bahwa saya telah menginjak harga dirinya. Untuk alasan itu dia merasa berhak mengangkat kaki dan menaruhnya di kelapa saya ... jika seorang istri sudah berbeda pendapat dan sudah tidak sejalan, apa boleh meminta bercerai, Mbak? Karena terkadang suami saya sering mengejek dan membuat saya merasa tidak berarti. Dia mengatakan saya gendut, jelek, dan kata-kata lain yang membuat saya terluka, meski secara fisik saya baik-baik saja. Apa yang harus saya lakukan, Bunda? Dari hari ke hari saya merasa seperti tidak memiliki harga diri ... merasa begitu rendah, apa yang harus saya perbuat?"
Jawaban dari pertanyaan mengapa saya tetap segar membacanya sekalipun lelah dan sudah larut malam, adalah karena buku ini menyajikan ketegangan. Blak-blakan berkisah tentang suara hati beberapa istri yang selama ini sekedar bisik dari tetangga ke tetangga.
No comments:
Post a Comment