Friday, May 13, 2016

Pak Belenong

Tak tahu bagaiman teorinya, tapi dalam cerita  yang ingin kututurkan, orang yang suka menyebut karya orang lain sampah, dirinya sendiri yang akhirnya menjadi sampah.

"Belenong" nama tokohnya, dan sebagai penghormatan, Tuan Belenong, begitulah aku membuat panggilan.

Tuan Belenong berambisi jadi orang hebat, maka berjalan ke mana-mana, yang dia lakukan adalah menyebut-nyebut dirinya hebat. Saat melihat karya orang kurang disuka, dengan sangat ringan menyebut karya itu sampah. Sikap yang timbul dari prinsip "percaya diri" yang diusungnya. Prinsip yang terus dia tanamkan, setelah dia membaca artikel-artikel tentang cara memikat wanita, bahwa jika ingin membuat wanita terpesona, yang dilakukan adalah percaya diri, narsis dan suka berbangga-bangga.

Tuan Belenong pun berusaha, dengan ucapan, via tulisan, membangga-banggakan dirinya, sambil terus melatih kebiasaan mensampah-sampahkan karya orang.

Bukannya berpikir mengubah kebiasaan, kebiasaan itu malah ingin dia patenkan, sebagai prinsip kebanggaan. Menurutnya, kebiasaan itu bagian dari pendidikan. Untuk melatih orang tegar dengan hinaan, maka yang harus dilakukan adalah menghina karya mereka.

Dan kebangaan itu semakin besar saat melihat, ternyata ucapannya ajaib. Kepada apapun dia menyebut sampah, apa yang dia sebut sampah itu dilihatnya berubah menjadi sampah. Kepada karya siapa pun dia menyebut sampah, di matanya karya orang lain itu salin rupa menjadi sampah.

"Ini kehebatan, kesaktian, kudapat tanpa susah payah. Orang ingin sakti harus bertapa, mati geni, puasa, aku mah gak usah. Huahahaha... "

Kini Tuan Belenong berdiri di pasar, melirik tukang tahu dan berkata, "Sampah-sampah itu sebaiknya jangan kamu jual. Buang saja ke sana ke sudut pasar." Ajaib, di mataya, tahu-tahu itu berubah menjadi sampah. Tapi Tuan Belenong heran, kenapa orang-orang tetap datang membelinya, bahkan lari manis habis. Geleng-geleng kepala, dia mendengus, "Bodoh! Sampah busuk begitu kamu beli."

Kepada tukang oncom, kepada tukang sayur, kepada tukang buah, kepada tukang bumbu, tukang roti, tukang barang-barang, semua orang sekelilingnya dia sebut sampah, sampai akhirnya, segala hal di sekelilingnya, termasuk kios-kios, termasuk toko-toko, termasuk orang-orang, di mata dia, semua berubah menjadi sampah.

Tuan Belenong puas, tertawa, menengadah ke atas mengaum sambil memukul-mukul dada yang dia busungkan.

Di tengah tumpukan sampah itulah, Pak Belenong kemudian mencoba membuat karya. Karya tulis berupa cerita. Dengan segenap teori rumit yang selalu dia khotbahkan dengan bahasa-bahasa yang saat membacanya orang butuh obat sakit kepala, karya itu dia susun sangat panjang, sehingga saat dibukukan, buku itu menjadi sangat tebal. Usai cetak, karya itu dia lempar dan, Pak Belenong mengerutkan jidat, mengeluh sendiri, karena sekelilingnya hanyalah tumpukan sampah, maka dia melempar karya ke tempat sampah.

"Tidak! Aku tidak terima! Aku tidak terima karyaku malah dilempar ke tempat sampah."

Padahal yang melempar ke tumpukan sampah itu bukan siapa-siapa, tapi dirinya.

Hebatnya dia tidak putus asa. Gagal membujat karya panjang, karya pendek coba dibuatnya. Hanya tulisan-tulisan selintas untuk mengkhotbahkan teori-teorinya. Teori itu kemudian dia baca, namun masih juga tak puas, karena pendengarnya hanyalah tumpukan sampah.

Begitulah hari-harinya, menulis di tengah tumpukan sampah, hidup di tengah tumpukan sampah, melempar karya, karya itu dia lempar ke tumpukan sampah. Tinggal di tengah tumpukan sampah, maka perlahan-lahan dia mempertanyakan dirinya: "Lalu apakah nama yang pantas disematkan kepada sesuatu yang sehari-harinya berada di tengah tumpukan sampah selain sampah?"

Duh! Ludah dia telan.

"Tidak! aku bukan sampah. Sekelilingkulah yang sampah! Prinsip itu harus terus kupegang. Kepada karya siapa pun, aku akan tetap menyebut sampah."

Maka saat seorang kakek lewat memanggul seikat layangan buat dia tawarkan ke gang-gang kota. Tuan Belenong langsung berkata, "Kakek, sampah-sampah itu mau dibawa ke mana?"

Si Kakek terperangah. Bbukan, bukan tersingung layangannya dihina. Si Kakek terperangah, karena tiba-tiba melihat telinga Tuan Belenong memanjang, berubah menjadi kantong keresek bekas. Di kedua sisi kepala Pak Belenong, keresek itu tertiup angin berkibar-kibar. Lusuh dan hitam. Kemudian hidung Pak Belenong pun sama, memanjang, lepet berubah bentu menjadi kondom bekas.

Kini yang lewat tukang gerabah. Kerajinan tanah itu dia bawa susah payah. Dengan sepeda terseok-seok, dan saat terdengar dirinya disapa, tukang gerabah menghentikan sepeda. Dia tengok, kaget luar biasa, sesosok manusia dengan wajah tak wajar. Telinga hitam besar berkibar-kibar benar-benar mirip kantong keresek bekas, dan hidung kondom lepet menjuntai ke bawah. Sebagai manusia yang terdidik untuk sopan, tukang gerabah tetap membungkuk memberi hormat.

"Tuan Belenong, itulah panggilanku," kata Tuan Belenong, padahal tidak ditanya.

"Oh ya Tuan Belenong, ada apa? Apakah Anda membutuhkan gerabah? Gentong mungkin buat tempat air Tuan?"

"Elu mau jual apaan? Yang elo bawa itu semuanya sampah."

Seperti si kakek tua, tukang gerabah ini pun terperanjat. Bukan sebab merasa terhina, bukan, tapi karena tiba-tiba dia melihat, kepala bertelinga keresek berhidung kondom bekas itu kini lebih parah. Mata timbul ke depan, memanjang, mengerucut dengan tumpul pada bagian ujungnya. Tukang gerabah lekat mengamati, mata itu rupanya berbentuk sepatu bekas. Bukan hanya itu, pipi juga, berubah menjadi kardus bekar, leher seperti patahan tiang listrik, tangan jadi kayu busuk, badan menjadi drum bolong-bolong dan lapuk, sedangkan kaki, tetap berbentuk kaki, namun rupa seperti dibentuk dari gulungan-gulungan kantong plastik. Nyaris seluruh badan Tuan Belenong, di mata tukang gerabah benar-benar menjadi sampah. Tapi itu cuma penglihatan tukang gerabah saja. Yang sebenarnya padahal, memang benar Tuan Belenong telah berubah menjadi sampah.

Khawatir itu sebuah penyakit menular, tukang gerabah segera pergi mengayuh sepeda.

Sepeninggal tukang gerabah, bumi diguyur hujan dan banjir. Tuan Belenong runtuh berantakan, berserakan, lalu air bah membawanya ke hanyut ke mana-mana, ke rumah-rumah, ke pasar-pasar, tersangkut di kaki bangku pasar, di jari-jari roda tukang mie ayam, di pagar-pagar berkarat, dan setiap kali bertemu orang, sampah sisa-sisa Tuan Belenong itu  lemah membisikkan kata-kata, "Aku orang hebat, karyaku hebat, sedang kalian dan semua hasil karya kalian hanyalah sampah."

No comments:

Post a Comment

Mau Betulin Hape