Istriku bercerita, saat dia mengunjungi mertuanya, yaitu bapakku, mendapatkan pertanyaan, "Apakah sepulang kerja Si Aa suka memberikan rokok kepada Bapak barang sebungkus atau dua bungkus? Kujawab tidak, karena menurut Aa, memberi rokok kepada orang tua itu sama dengan memberikan racun."
Istri meneruskan, "Bapak langsung kaget dan berkata, 'ih jangan begitu, berilah orang tua rokok, sebagai tanda perhatian kita kepadanya."
Mendengar cerita itu, aku langsung berkata, "Tidak, aku sudah menetapkan diri untuk tidak mau memberikan rokok kepada orang tua. Aku telah hidup sebagai bukan perokok, memusuhi rokok, aku juga bersyukur menikah dengan wanita yang tidak suka rokok, aku hidup bersama para pembenci rokok, aku dididik untuk tidak menyukai rokok, aku kerja di perusahaan orang yang sangat membenci rokok, jadi mana mungkin aku memberi orang tuaku sendiri rokok?"
"Aku ingin orang tuaku panjang umur, jangan seperti tetangga kita, kepala sekolah itu, masih muda, harapan masih panjang, anak-anak masih sekolah, si bungsunya masih dalam kandungan, tapi dia harus menerima kenyataan pahit, pagi hari saat mengepel lantai di depan rumahnya terjungkal, tersungkur, dan langsung meninggal."
Tidak, aku ingin orang tuaku hidup dengan umur panjang dalam kesehatan.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Ketika orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam tulisan, saya berlomba menjadi yang terburuk. Ketika orang berlomba berusaha memperli...
-
Kita tidak bisa menyebut sebuah nama ketika pikiran lupa Ilmu datang ke dalam pikiran kita oleh Allah, dan Dia bisa menghilangkannya kapan...
No comments:
Post a Comment