Tuesday, April 25, 2017

MENULIS ITU BAGUSNYA JUJUR AJA

Saya menjadi kaku, menjadi susah mengungkapkan apa yang ingin diungkapkan, karena masih memikirkan penghormatan dan penghargaan.

Jika hati sudah bebas dari semua itu, tidak peduli orang lain mau menghargai atau tidak, maka kita akan lebih bebas berekspresi, bebas mengungkapkan diri apa adanya, bebas mengungkapkan isi hati tanpa terhalangi segala macam ketakutan.

Kita masih berurusan dengan pujian orang, rasa kagum dari orang dan masih peduli dengan hinaan dan ledekan mereka. Sehingga akibat merasa takut dengan semua itu, ekspresi diri jadi terhambat. 

Kita terlalu mudah tersinggung.

Kalau saya baca karya Raditya Dika, misalnya Koala Kumal, sudah tidak memikirkan itu. Dia menulis apa adanya, apa saja yang terpikir saat itu, dia tuliskan.

Dalam buku ini bahkan menceritakan proses pembuatan bukunya sendiri. Proses pembuatan judulnya diceritakan menjadi bab terakhir. 

Kalau penulis lain mungkin mikir-mikir, ini pantes nggak sih dimasukkan ke dalam buku? Kalau Radith seperti tidak memikirkan itu. Dia berkata apa adanya, menulis apa adanya.

Sesuai dengan prinsipnya berkarta selama ini, JUJUR, DENGAN JUJUR MAKA BISA JADI LUCU.

Raditya Dika menceritkan hidup dia seadanya, tidak perlu memikirkan hal-hal jauh yang tidak terjangkau akal. Ini sangat inspiratis, karena setiap orang mengalami kejadian keseharian.

Saya pun mau begitu ah, bercerita apa adanya, setiap hari setiap saat, tanpa henti dari pagi sampai sore.

Misalnya, saya akan menulis kejadian yang barusan saya alami.

"Dana!"
"Ya Pak"

"Mau soto nggak?" tanya Pak Aeron adiknya mbak Asma Nadia.

"Mau Pak," saya kalau ada orang menawari makanan jarang ditolak. Sebenarnya ini bahaya, kalau-kalau yang menawari orang jail. Tapi saya yakin Pak Eron tidak, maka saya terima dan saat itu terdengar dia bicara, "Sisain sedikit aja buat saya."

Pas saya buka, isinya nasi, suiran daging ayam, mie, sepotong telur, sekantong kuah. kerupuk, dan keripik kentang, dan masih utuh belum dimakan.

"Pak, ini kan masih utuh?"

"Iya buat kamu saja! Saya sudah kenyang. Tadin makan ketupat sayur." 

Tapi pas saya mau makan saya ragu, apa buat saya semuanya atau harus menyisakan sebagian buat dia. Kalau saya makan semuanya, nanti bagaimana kalau dia bertanya. Maka makanan itu saya simpan saja di rak piring, tidak saya makan, sampai tiba shalat dzuhur, tengah shalat teringat, aduh ini sudah tiba waktu Dzuhur, bagaimana kalau Pak Aeron sudah mau makan sedang nasinya malah saya simpan di rak, tapi bener nggak sih dia minta menyisakan sedikit nasinya.

Maka setelah shalat masuk ruang kerja, saya dekati dia buat memastikan, sambil membawa nasinya, "Pak buat Pak Aeron setengahnya?"

"Buat kamu aja semuanya!"

"Oh terima kasih Pak."

Dengan lahap dan bahagia saya makan, jadi hari ini tidak usah pergi jauh membeli nasi. Hemat uang, hemat waktu, hemat tenaga. 

===

Pas mau shalat Pak Aeron lewat di belakang saya, dan menyenggol kursi, "Eh!" kata saya.

"Dana!" panggilnya lagi.

"Ya Pak."

"Tadi makanan isinya apa saja?"

"Suir ayam, mie, nasi, telor, keripik kentang, keruk."

"Sambalnya ada nggak?"

"Oh ya ada."

"Enak nggak?" 

"Enak banget! Sudah saatnya Mbak Marin membuka restorant."

Eh Richie nyeletuk, "Biar dibawain lagi ya?"

Orang-orang tertawa, lebih tepatnya mentertawakan untuk menghina. Melihat ke belakang, Wasi juga nyengir.

"Eh saya kan mau mengucapkan terima kasih. Dan saya tidak bisa berterima kasih kecuali dengan kata-kata."

"Jadi kamu mengata-ngatain masakannya Marin?" tanya Mas Agung.

Wah serba salah nih orang-orang. Tapi saya tahu semua berkata dengan niat humor, jadi untuk menghargai mereka, saya tertawa. Hahahaha.

No comments:

Post a Comment

Mau Betulin Hape