Tuesday, August 16, 2016

BI TATI

Potret ini kenangan terindah dalam hidupku. Tak pernah kubuang, terus kusimpan, bingkai dan simpan di atas meja. Istri dan dua putri kembarku yang kini SMA tahu siapa dia. Dengan sangat terbuka pernah kuceritakan.

Dulu, sewaktu SMP, berangkat sekolahku kerap kali melewati penggilingan padi. Seorang wanita usia empat puluhan sering kulihat di sana. Dari sela pintu rumah penggilingan, tampak dia mengelap keringat, karena sibuk menimbang padi, membantu suaminya.

Aku sangat tertarik dengannya. Saat mulai tumbuh dalam perasaan ini cinta kepada lawan jenis, kepada wanita itulah hatiku tertambat.

Maka malam itu, sepulang dari madrasah, aku singgah ke rumah pemilik penggilingan padi.

"Pak, aku jatuh cinta pada Bi Tati."

"Bi Tati mana?"

"Istri Bapak!"

"Oh jadi kamu jatuh cinta kepada istriku?"

Mang Ohim memanggil istrinya, "Tatiii!!!"

Yang dipanggil muncul dari kamar, "Ada apa Kang?"

"Duduk!"

"Ya, ada apa? Eh ada Randi, tumben main malam-malam begini?"

"Ini Randi katanya mencintaimu."

"Hah?"

"Iya Bi, aku sangat mencintai Bi Tati."

"Kamu ini masih kecil, aku sudah sangat tua."

"Tatii, kupikir ini memang sudah waktunya kita berpisah. Sudah waktunya aku mempunyai istri baru, jadi sepertinya bagus jika kamu kuceraikan saja. Nah, setelah habis masa idah, kamu bisa menikah dengan Randi."

"Ya Bi, setelah lulus SMP, aku tidak akan meneruskan sekolah, akan merawat perkebunan pepaya punya Bapak, dan mengurus tiga hektar sawahnya, dan ingin punya istri."

"Tapi Pak?"

"Sudahlah, ini jalan terbaik untuk kita, sebetulnya aku sudah meminang seorang anak SMA dari kampung sebelah, jadi besok aku akan segera mengurus surat-suratnya ke pengadilan."

"Ya Bi, aku sudah sangat mencintai Bibi, tak mengapa usia Bibi sudah empat puluh lebih, aku sangat cinta. Aku selalu berdebar-debar setiap kali melihat keringat bibi bertimbulan di pelipis bila kebetulan mengatar ibu menggiling padi."

Singkat cerita, sekolahku tamat, dan tentu saja saat itu sudah habis masa iddah Bi Tati dari suami yang menceraikannya. Aku pun menikahinya dengan mas kawin, uang dua juta rupiah, hasil menjual lima puluh pohon mahoni besar dari kebun peninggalan Bapak.

Setelah menikah, kami tinggal dalam satu rumah. Rumah baru dari bambu yang dibangun dengan gaya bungalau di bukit. Rumah warisan Bapakku yang telah meninggal kubirkan ditinggali ibu. Tentu saja sebagai suami istri kami tidur bersama, tapi kalian tidak perlu berpikir macam-macam, sebatas tidur saja dan berpelukan dan tidak lebih dari itu, setidaknya itu terjadi untuk tiga tahun pertama pernikahan, karena memang hanya tiga tahun rumah tangga kami. Bi Tati yang sangat kucinta merana hidup bersamaku, sawah sekian hektar kuminta dia sendiri yang mencangkulnya. Lama-lama jatuh sakit. Badannya yang dulu montok berubah kurus. Dan pada tahun ketiga itulah dia meninggal.

No comments:

Post a Comment

Mau Betulin Hape