"Kang."
"Ya, mau apa lagi? mau buat saya ketawa ngakak lagi, sampai terlenggak ke belakang lagi? Mau bikin saya jatuh dari kursi lagi?"
"Mau nerusin curhat."
"Ya, tapi gak jangan sampai kamu bikin kelucuan lagi."
"Kemarin juga gak bermaksud melucu Kok. Kang Dana aja itu mah mengejek aku, mentertawakanku."
"Dan ada syarat lainnya."
"Apa?"
"Kamu gak perlu minta solusi, saya bukan ahli percintaan."
"Iya deh Kang."
"Jadi mau curhat apa?"
"Jadi baiknya aku bagaimana ya?"
"Lha belum juga semenit, sudah minta solusi. Kalau mau cerita ya cerita aja. Gak perlu nanya-nanya, saya bukan ahlinya. Lagian aku juga gak tahu bagaimana apanya?"
"Iya, aku kan suka sama dia."
"Dia siapa?"
"Yang beberapa hari kemarin aku cerita itu."
"Yang dekat tetap jauh?"
"Iya."
"Terus?"
"Ya bagusnya aku bagaimana ya Kang?"
"Heh!!!"
"Eit sabar Kang, aku gak bermaksud nanya. Aku lagi nanya sama diri sendiri, dan mau kujawab."
"Kamu ini aneh."
"Aneh kenapa Kang?"
"Aneh, kamu yang nanya, kamu yang jawab."
"Ya karena Kang Dana gak mau jawab."
"Siapa bilang gak mau jawab?"
"Kang Dana."
"Enggak bilang begitu, aku cuma melarang kamu bertanya."
"Lha melarang bertanya kan berarti tidak mau menjawab."
"Ah enggak. Saya mau menjawab tanpa kamu harus bertanya kepada saya."
"Kang Dana bikin aku pusing."
"Ok, ya sudah, kamu boleh ngapain aja, nanya silakan, jawab silakan, minta solusi silakan, bebas, asal jangan minta pulsa."
"Jadi harusnya aku bagaimana ya Kang?"
"Denger ya!"
"Gak bisa Kang."
"Kenapa?"
"Ini inboks facebook, bukan telfonan."
"Kalau begitu perhatikan ya!"
"Ya Kang."
"Ada tiga katagori wanita yang kamu suka. Pertama, lampu merah. Kedua, lampu kuning. Ketiga, lampu hijau."
"Ini lagi ngomongin lalu lintas ya Kang?"
"Whatever!"
"Hehe."
"Kamu harus tahu, wanita satu kampungmu yang sudah tidak mau respon lagi itu jenis yang mana. Jenis lampu merah, lampu kuning, atau lampu hijau."
"Wanita lampu merah itu apa sih Kang?"
"Yang sejak awal dia sudah menolak, tidak menunjukkan ketertarikan. Gak perlu pikir panjang, wanita semacam itu tinggalkan. Kamu berkorban apa pun untuknya, waktu, uang, tenaga, pikiran, bakalan sia-sia, sebab dia telah menunjukkan lampu merah. Cinta memang butuh pengorbanan, tapi pengorbanan itu jangan sampai sia-sia."
"Wanita lampu kuning?"
"Dia sepertinya mau kamu dekati, tapi cuma buat memanfaatkanmu doang. Dia mau cuma saat dia butuh. Pada saat kamu butuh, dia menghindar. Dan selama hubungan, hanya kamu yang tertarik dengannya, sedangkan dia tidak. Hubungan dengan wanita jenis ini cuma bakal jadi drama."
"Kayaknya, wanita satu kampungku jenis lampu kuning deh, ya nggak Kang?"
"Gak tahu!"
"Kalau misalnya jenis wanita lampu kuning?"
"Tinggalkan!"
"Bukankah cinta harus diperjuangkan."
"Harus! Tapi cinta yang harus kamu perjuangkan hanyalah cinta yang layak kamu perjuangkan, cinta yang dengannya kamu akan mendapatkan hubungan membahagiakan."
"Oh ya ya. Ketiga, lampu hijau, nah yang bagaimana ini Kang?"
"Yang kamu berbuat baik kepadanya, dia pun berbuat baik sama kamu. Kamu berkata manis kepadanya, dia pun berkata manis kepadamu. Kamu menghargai apa yang dilakukannya kepadamu, dia pun menghargai apa kamu lakukan kepadanya. Tanpa kamu berkorban, dia akan rela berkorban untukmu. Wanita semacam ini yang layak kamu hargai dan jadikan pasangan."
"Inikah cinta yang layak kuperjuangkan?"
"Ya, seperti Wiro kepada Wulan. Jauh dari Kota Depok ke Magelang, tidak tahu jalan karena baru ke sana, malam-malam, ke perkampungan, tapi dia rela berjuang untuk sampai ke sana. Dari Depok juga pulang begitu jauh ke Toraja mengurus surat-surat, cape, repot, gak apa-apa dia lakukan pengorbanan itu demi cinta karena cinta yang sedang dia perjuangkan memang layak, karena Wulan sudah memberikan lampu hijau kepadanya."
"Makasih ya Kang."
"Setelah ini gak perlu nanya-nanya lagi."
"Lha itu kan bisa menjawab."
"Saya bisa menjawab karena jawabannya kebetulan ada, yaitu kisah Wiro. Kalau nanya hal lain, saya gak tahu."
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Ketika orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam tulisan, saya berlomba menjadi yang terburuk. Ketika orang berlomba berusaha memperli...
-
Kita tidak bisa menyebut sebuah nama ketika pikiran lupa Ilmu datang ke dalam pikiran kita oleh Allah, dan Dia bisa menghilangkannya kapan...
No comments:
Post a Comment