Sunday, August 14, 2016

DEKAT TETAPI JAUH

"Kang Dana punya waktu luang tidak?" inboksnya.

"Mau apa?"

"Aku mau curhat."

"Curhat apa?"

"Dekat tetapi jauh, jauh tetapi dekat."

"Maksudmu?"

"Dekat tetapi jauh. Bisakah Kang Dana menjawab kenapa sesuatu yang dekat tetapi terasa jauh."

"Maksudmu apa sih?"

"Satu kampung, bertemu begitu mudah, tetapi jauh sekali rasanya. Serasa terdinding beton yang sangat tebal."

Kubuka profil facebooknya dia tinggal di mana, tapi tidak dicantumkan. Kutanya aja, "Kamu tinggal di mana?"

Dia menyebutkan nama sebuah kecamatan.

"Oh,"

"Jadi kenapa Kang?"

"Kenapa apanya?"

"Duh! cape deh."

"Aku lupa, kenapa apanya?"

"Kenapa dekat tetapi jauh?"

"Menurutmu sendiri kenapa?"

"Lho kok bertanya balik, aku kan mau jawaban Kang Dana."

"Jawaban terbaik hanya bisa kamu dapatkan dari suara hatimu sendiri."

"Hatiku coba menjawabnya, tapi berat. Dan saat kurasakan beratnya menjawab pertanyaan ini, istighfar terucap, memohon diberikan kesadaran untuk tak perlu lagi mengingat dan memikirkannya."

"Terus?"

"Masih banyak kebahagiaan yang bisa kurasakan."

"Nah, itu jawaban bagus!"

"Jadi sangat tidak masuk akal jika hanya kupikirkan satu orang itu saja."

"Hebat!

"Tetap saja pikiran itu singgah, Kang."

"Huh!!"

"Iya Kang, aku susah melupakannya."

"Gimana sih kamu"

"Aku bingung Kang."

"Kalau begitu, sapa saja dia."

"Tidak bisa Kang."

"Kamu tahu kan nomor hapenya?"

"Ya ada."

"Jadi kenapa tidak kamu sapa? Apa yang menghalangimu?"

"Ketakutanku."

"Lalu?"

"Ketidakberanianku."

"Sama aja atu eta mah. Ketakutan dan ketidakberanian itu sama degan kucing dan meong."

"Egokah yang membuatku berat menyapanya?"

"Bisa jadi."

"Aku menunggu dia menyapa duluan."

"Hahaha."

"Kenapa ketawa Kang?"

"Lucu."

"Lucu kenapa? Apakah itu sebuah sikap memalukan?"

"Terserah kamu deh."

"Gini Kang, Sudah kurasakan dulu saatku menyapa beberapa kali, dia tak menyahut, rasanya sakit sekali Kang. Jika kembali kuulang sekarang dan dia tidak menjawab lagi, khawatir sakit lama itu akan terulang."

"Haha. Kamu laki-laki bukan sih?"

"Maksudnya?

"Coba tanya ibu kamu, dulu waktu dilahirkan, kamu dilahirkan sebagai laki-laki atau perempuan."

"Kok harus nanya ibu?"

"Habisnya aku nanya kamu, kamunya gak jawab. Mungkin kamu gak tahu. Ya kusuruh saja supaya nanya pada ibumu."

"Kang Dana bikin aku pusing deh."

"Sudah ya, saya lagi kerja, pikirkan saja sendiri."

"Sombong banget!"

"Terserah."

No comments:

Post a Comment

Mau Betulin Hape