Friday, July 29, 2016

SANG JURAGAN TEH

Saya sangat penasaran dengan buku berjudul "Sang Juragan Teh", terbayang isi buku itu menceritakan suasana di perkebunan pada jaman Belanda. Sepanjang cerita, yang terbayang pasti keindahan alam, hijau terhampar, dengan para pemetik bercaping bambu, berbaris, dengan jari-jari yang terus melempar-lemparkan pucuk teh ke bakul di belakang. Sebuah pemandangan indah, seperti sering terlihat dalam perjalanan lewat puncak, atau di tepian tol Cipularang.

Setiap kali datang ke toko, mata tak luput dari melirik buku itu dan terkadang memegangnya. Membolak-balik, membaca nama penulis, meneliti cover depan, membaca tulisan di belakang, lalu melihat harga. Selesai. Simpan. Dan tak pernah puas, sampai saat ini saya terus penasaran. Penataan sampulnya yang menggoda, kartun nuansa hijau dengan seorang pria gagah bertopi sedang naik kuda.

Setelah googling... baru saya tahu sedikit isinya.

Rudolf Edward Kerkhoven, nama tokoh dalam cerita ini ternyata pernah ada, membuka lahan perkebunan teh di Gambung, daerah selatan Kota Bandung. Edward datang ke nusantara lalu jatuh cinta kepada suasana alam, kemudian mencoba membuka perkebunan. Tidak mudah, karena lahan dipenuhi pepohonan kopi tak terurus, sisa-sisa politik Tanam Paksa yang pernah diberlakukan oleh pemerintah Belanda.

Berkat tekad dan kerja keras, tanaman Teh Edward menuai sukses, karena saat itu pasar Eropa sedang sangat menggandrungi tanaman bahan minuman ini. Semakin jatuh cinta saja kepada kehidupan pertanian, dan ini, sangat berkebalikan dengan istrinya, yang lebih suka gemerlap kota dan dansa-dansa. Hasrat terpendam sang istri pada akhirnya berbuah kejadian fatal.

Ternyata ini buku lama. Mula-mula terbit tahun 1992. Cukup tebal juga, jadi sepertinya, sang penutur cukup detail memberikan gambaran kehidupan Edward. Meskipun menguraikan fakta sejarah, penuturan buku ini terasa ringan karena menggunakan bahasa novel. Jadi lebih tepat buku ini disebut novel sejarah non-fiksi.

Semakin besar ketertarikan saya kepada buku ini saat membaca di Wattpad, ternyata buku ini ditulis dengan bahasa indah.

Tulisan di Watppad itu membahas tentang cara membuat tulisan yang enak dibaca, yaitu dengan membuat irama. Dan contoh yang diberikan antara lain tulisan Hella S. Haasse.

"Lha ini kan penulis buku Sang Juragan Teh" teriak saya dalam hati.

Wah makin penasaran saja, sudah sampulnya menyejukkan, gambarnya enak dipandang, menggambarkan suasana kehidupan di sebuah perkebunan teh yang indah, ditambah lagi ternyata penulis, Hella S. Haasse seorang penulis yang mengutamakan keindahan penuturan dalam membawakan ceritanya. Jika begitu bagusnya ini buku, maka membelinya tentu bukan sebuah kerugian.

No comments:

Post a Comment

Mau Betulin Hape