Wiro pulang ke Makassar hendak mengurus surat-surat yang diperlukan buat pernikahan, dan saat berangkat lagi ke Jakarta, bapak ikut serta untuk ikut menyaksikan pernikahannya, Agustus nanti. Tapi ini masih juli, maka di ANPH, bapak Wiro harus menunggu.
Dia seorang pria yang cukup tua tapi di kampung kerjanya masih super. Kadang jadi pemanggul batu dan seringnya menarik becak. Tangan besar kekar, dan aku maklum karena dulunya--seperti diceritakan Wiro-- dia mantan petinju.
Di ANPH ini, dia bersama Wiro tidur di lantai tiga, sedangkan saya di lantai dua.
Yang membuat saya penasaran, bagaimana pria itu mengatasi kejenuhannya menunggu. Sehari-hari kerja keras, berjalan sana-sini, tiba-tiba sekarang dia harus terperangkap di dalam kantor, maka saya tanyakan kepada Wiro:
"Bagaimana Bapakmu mengatasi kejenuhannya Wir?"
"Dia baca buku."
"Apa? Serius Wir?"
"Serius."
"Hahaha."
"Malah ketawa."
"Hebat, dia kan sudah tua, usia lima puluhan."
"Apaan, enam puluh!"
"Tuh, kan hebat! Dan dia membaca gak pake kacamata?"
"Enggak."
"Kelihatan emang?"
"Ya kelihatanlah. Dia baca buku apa tuh judulnya, emh, oh berjudul ORANG ISLAM BELAJAR ISLAM, menunduk terus dia di kamar, dan kata dia 'ini buku bagus juga ya."
Yang parah, bapak Wiro juga membaca buku "CINTA LAKI-LAKI BIASA"
Waduh bahaya, di sana kan Wiro menceritakan dia di masa muda. Saya penasaran, gimana tanggapan si Bapak.
"Kejam sekali tulisanmu Nak, begitu kata Bapakku!"
"Hahaha. Dia gak marah Wir?"
"Enggak, dia mengangguk-angguk, kata dia, 'tapi ada benar-benarnya juga sih.'"
Parah, dalam buku itu Wiro jujur menceritakan siapa sang bapak dan bagaimana sepak terjangnya sejak muda hingga sekarang.
Tuesday, July 26, 2016
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Ketika orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam tulisan, saya berlomba menjadi yang terburuk. Ketika orang berlomba berusaha memperli...
-
Kita tidak bisa menyebut sebuah nama ketika pikiran lupa Ilmu datang ke dalam pikiran kita oleh Allah, dan Dia bisa menghilangkannya kapan...
No comments:
Post a Comment