Temanku mengambilkan potongan jari tengah yang lepas itu, memberikan padaku. Dengan sedih aku menerimanya.
Kalau sudah lepas begini apa yang bisa kulakukan? Kucoba tempelkan lagi ke tempatnya, berusaha menyesuaikan posisi dengan sangat tepat seperti semula, tapi si jari kembali dan kembali lepas.
Itu jari tangan kiri, maka yang bantu menempelkan adalah tangan kanan. Berusaha menahan supaya tetap menempel di sana, dan karena aku tidak bisa diam, si jari tengah terus meleset, berubah posisi terus.
Cemas, khawatir, kalau keburu kering, habis sudah. Takkan lagi bisa dikembalikan. Lalu aku benar-benar buntuntung, dan jariku tinggal empat. Aku menyesal, mengapa harus coba-coba main golf kalau ternyata hasilnya begini.
Kucoba menggerakkan jari tengah itu, dan ya ampun, ternyata sudah tidak bisa digerakkan. Mungkin sarafnya putus. Jelas-jelas sarafnya sudah putus. Jari itu jadi mati.
Namun tetap bertahan. Siapa tahu ada keajaiban dan saraf-saraf itu kembali tersambung. Dan ternyata beberapa saat kemudian, saya coba menggerakkan jari itu. Bisa, bergerak lagi. Gembira, namun hanya kegembiraan singkat. Saat kembali menyadari jari ini takkan kembali senormal tadi, dan akan sangat rentan sekali lepas, hati kembali menyesal. Bisakah waktu dimundurkan, agar permainan golf itu tak perlu kucoba.
Anda yang detik ini diberi keselamatan, aku iri. Bersyukurlah kawan, jari tengah Anda tidak diberikan cobaan lepas dari tempatnya. Bayangkan jika jari itu benar-benar lepas, pasti akan Anda rasakan kecemasan seperti apa yang sedang kualami sekarang.Lihatlah aku lalu bersyukurlah, dan berjanjilah pada diri sendiri untuk lebih berhati-hati lagi dalam mengerjakan apa pun, karena kalau sudah kejadian begini, sangat susah untuk mengembalikannya menjadi normal. Jagalah diri Anda, jaga pula anak Anda karena mereka belum begitu besar sifat kehati-hatiannya supaya anggota badannya tetap terjaga.
Untukku yang sedang mengalami ujian seperti ini sekarang, cukuplah aku yang mengalaminya, jangan sampai terjadi pula pada Anda. Kesedihanku, musibahku, cukuplah buatku.
Anda yang tidak suka kepadaku, mungkin mentertawakan, tapi Anda yang simpati kepadaku, mungkin kasihan. Tapi tidak peduli apakah Anda kasihan atau mentertawakan, kenyataan jariku telah lepas takkan bisa lagi senormal biasanya, dan entahlah apakah benar-benar dapat diselamatkan atau akan hilang.
Apa Anda pernah mendengar orang yang lepas anggota badannya kemudian saat anggota badan itu kembali ditempelkan bisa tersambung lagi? Aku sendiri belum pernah, dan inilah yang benar-benar membuatku cemas.
Cemas, aku cemas luar biasa.
Tapi kecemasan itu seketika berubah jadi kegembiraan saat mata ini terbuka dini hari, dan ternyata itu bukan kenyataan. Ya Allah, terima kasih ternyata ini bukan kenyataan. Kuperhatikan jari tengahku masih ada, masih menempel seperti sediakala pada tempatnya, alangkah nikmatnya, alangkah beruntungnya aku. Belum pernah aku sebahagia ini merasakan masih hadirnya si jari tengah di tempatnya.
Ya Allah terima kasih atas mimpi itu. Semoga, ini jadi renungan untuk anggota badanku yang lainnya.
No comments:
Post a Comment