Di dapur kucing berkokok. Minta makan. Dari belakang rumah, terdengar ayam mengeong. Mungkin lapar. Disambut cericit anjing bernyanyi, dan burung-burung menggonggong di ranting. Dari sudut atap rumah, nyaring terdengar suara, "Sayur!! Sayurnya Bu!!". Tidak lama seorang pria bertopi lewat di halaman mendorong roda sambil teriak, "Tokke!! Tokkee!!
Harusnya pagi ini kangkung mau membeli ibu, tapi lewat. Matanya tidak mendengar teriakan. Telinganya sibuk mencari peralatan jahit yang lupa dia simpan. Ketemu, maka Bapak bolong punya sarung, dia jahit dengan garpu dan sendok. Beres itu kembali ke dapur, mengangkat tumis tempe dari meja makan kemudian menyajikannya ke atas kompor, lengkap dengan peralatan makan seperti jarum dan benang.
Remang mulai pagi. Jalan membuka pintu, keluar rumah menengok ibu. Mencari tukang sayur. Baru sadar, "Wah, sudah lewat."
"Udin, sebelum sarapan, berangkat sekolah dulu ya! Ibu ke ke sayur dulu mau membeli pasar."
"Baik Bu!"
Siang terang. Ibu berdiri di perempatan ojek, menunggu jalan lewat. Dan lewatlah Mang Udin membawa kerbaunya, si ibu naik,
"Ke Pasar Kemiri Mang!"
Kebo pun melaju menuju pasar, tapi baru beberapa meter, seorang petani bertopi pandan menyeberang jalan sambil menggiring dua ekor motornya. Untung tukang ojek gesit ngerem kebonya, dan teriak jengkel, "Hai, kalau hati-hati harus nyeberang jalan!"
Petani topi pandan tidak peduli, dia terus turun ke sawah bersama motornya untuk mulai membajak.
"Saja-saja ada orang tu ada!" dengus tukang ojek,
* * *
"Teruskan!" ucap dosen.
"Sudah Pak!"
"Kok pendek?"
"Kan tugas Bapak."
"Saya menugaskan kamu buat cerpen!"
"Ya ini kan cerpen Pak. Cerita pendek"
"Teruskan! Ceritanya harus selesai."
"Kalau mau terusannya, Bapak tunggu Republika Minggu."
"Mau kamu kirim?"
"Enggak!"
"Kenapa nyuruh tunggu Republika Minggu?"
"Memangnya salah?"
"Kurang ajar"
"Memang aku kurang ajar Pak. Makanya kuliah, biar cukup ajar."
"Ya sudah, silakan duduk!"
"Terima kasih Pak!"
"Eh jangan di lantai, sana, ke mejamu."
"Baik Pak!"
"Baiklah mahasiswaku sekalian, setelah kita dengar karya salah seorang rekan kita, sek.... Eh, Jono kamu apa-apaan sih?"
"Ya Pak!"
"Duduknya di kursi, jangan di meja. Kenapa sih, kelakukanmu begitu?"
"Disuruh Bapak!"
"Duduk di kursi! Ya baiklah anak-anak, setelah kita dengar karya salah satu teman kalian. Sekarang kita diskusi. Bapak mau tanya."
"Tidak punya Pak!"
"Diam kamu Jono! Bapak mau tanya kenapa kalian milih jurusan ini?"
"Aku Pak!"
"Kamu lagi, kamu lagi, ya tapi gak papa! Jadi alasanmu apa Jono?"
"Aku suka bersastra, bagiku sastra itu seperti orang tidur."
"Kenapa orang tidur?"
"Menggairahkan!"
"Menggairahkan bagaimana? "
"Mengairahkan nyamuk buat datang ngisep darahnya."
"Ok terserah kamu. Jadi kenapa bersastra itu menggairahkan?"
"Karena bersastra berarti mendobrak. Mendobrak dinding kelamaan menuju kebaruan. Dari kebiasaan menuju keluarbiasaan. Dari mainstrem menuju anti mainstream. Bersastra berarti melakukan pembangkangan. Menciptakan pelanggaran. Melanggar alur yang biasa orang pakai, merobohkan susunan yang biasa orang gunakan. Melakukan penjungkirbalikkan, seperti pernah dikatakan Budi Darma, dunia sastra adalah dunia jungkir balik."
"Cukup, cukup, Jono! Beri kesempatan yang lain bica... "
"Sastra adalah penciptaan terus-menerus. Pencarian terus menerus, juga seperti pernah Budi Darma katakan, pengarang adalah proses mencari dan karya sastra adalah rangkaian proses mencari itu"
"Joni!!"
"Maaf, saya Jono Pak! Bagi pencinta sastra, mengekor itu tindakan memalukan. Itulah makanya mencopas, mengutip kalimat tanpa menyertakan sumber, dianggap cela. Ketika beberapa waktu lalu seorang cerpenis Kompas melakukannya... "
"Jono! Cukup!!"
"Ketika beberapa waktu lalu seorang cerpenis Kompas melakukannya, dan ketahuan mengutip kalimat buat cerpennya tanpa menyebutkan sumber, dia digonjang-ganjing habis-habisan. Karena, itu bertentangan dengan prinsip-prinsip bersastra. Bersastra itu menciptakan kebaruan, menyusun kombinasi baru, merangkai senyawa baru, lain dari yang lain, yang beda dari karya yang sudah ada."
"Kalau tadi pendapatku tentang bersastra, sekarang, mungkin Bapak ingin tahu pendapatku tentang kepenulisan."
"Tidak! No! Saya bosan! Berhentilah"
"Bagiku menulis adalah menuliskan apa yang asyik kutulisan. Apa yang aku susah menuliskannya kenapa harus paksa kutuliskan. Kayak nyusun skripsi aja. Bahkan skripsi bisa jadi karya luar biasa yang bakal nyasik jadi bacaan jika mahasiswa nyasik menuliskannya. Seorang dosen jurusan Syariah di kampus ini cerita, waktu jadi mahasiswa, dia sangat cinta, maka tiba waktunya menyusun skripsi mengenai agama, dia susun dengan keriangan, kelezatan, kenyasikan, maka hasilnya, skripsi itu sangat tebal tapi sangat renyah buat dibaca!"
"Sudah Jono! Sekali lagi kamu ngomong kursi ini saya lempar!"
"Menurutku, harusnya penulis itu khusyuk saja menghasilkan karya. Terus meningkatkannya, terus belajar, membaca, latihan, seperti seorang ilmuwan, terus melakukan eksperimen dalam berkarya mewujudkan kebaruan, menciptakan keunikan, berusaha tanpa henti mencoba menyajikan bacaan lebih bagus dari sebelumnya buat orang-orang, dan tidak perlu menghabiskan waktu ngobrol dengan orang-orang tidak menyenangkan."
"Maksudmu apa Jono."
"Ya seperti di social media, banyak orang yang katanya ingin menjadi penulis malah banyak menghabiskan waktu melakukan perdebatan dengan orang yang tidak menyenangkan. Menurutku, itu sebuah kebodohan."
"Lihat kursi ini saya angkat! Siap melayang ke jidatmu!"
"Kecuali kalau kita pengangguran bingung, bicara dengan orang menyebalkan hanya buang waktu percuma. Tidak perlu kita hiraukan, tidak perlu kita pedulikan. Biarkan dia bicara sendirian, berbusa-busa."
"Brak!!!!"
"Duh sakit Pak!" .... "Wah, berdarah nih Pak!"
"Rasain!"
"Kenapa tidak perlu melayani obrolan orang yang tidak menyenangkan? Sebab sebagai penulis, masih banyak yang bisa kita lakukan. Membaca buku-buku bagus dan bermanfaat, menulis kerangka cerita, menyusunnya menjadi cerita, memperindah dengan mengeditnya menjadi kalimat-kalimat memikat, memasukkan gaya bahasa, peribahasa, diksi-diksi tak biasa, sebagai penulis masih banya hal bisa kita lakukan."
"Jadi kesimpulannya apa Jon?"
"Kesimpulannya, aku bosen denger omongan sastra adalah sastra adalah. Muak. Kebanyakan orang ngomong sastra adalah sastra adalah omong kosong belaka. Kenyataannya, karya mereka sendiri nol besar."
"Lah tadi kan kamu sendiri yang ngomong? Kamu memang sudah gila!!"
"Iya, sama dengan Bapak!"
"Ayo yang lain, kemukakan pendapat!"
"Tuh kan Bapak juga gila!"
"Kamu yang gila!"
"Bapak juga."
"Kamu!"
"Bapak juga! Di kelas ini mahasiswa cuma aku Pak. Semester ini gak ada mahasiswa lain yang minat."
"Oh iya ya! Saya baru sadar!"
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Ketika orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam tulisan, saya berlomba menjadi yang terburuk. Ketika orang berlomba berusaha memperli...
-
Kita tidak bisa menyebut sebuah nama ketika pikiran lupa Ilmu datang ke dalam pikiran kita oleh Allah, dan Dia bisa menghilangkannya kapan...
No comments:
Post a Comment