Friday, March 11, 2016

INGIN NIKMAT MEMBACA BUKU? KURANGI MAKAN

Saat tiada hal lain dalam pikiran selain apa yang sedang dibaca. Saat hal lain terlupakan dan hanya terfokus kepada apa yang sedang dibaca. Kepada jalan cerita, kepara rasa penasaran kelanjutannya, kepada rasa gemas dengan watak tokoh-tokohnya. Saat kita begitu terlibat dan seakan mendengar tuturan langsung sang penulis saat buku yang dibaca itu berupa non fiksi, terjemah kitab, atau buku ilmiah. Itulah saat-saat ternikmat, saat-saat terindah membaca.

Akan tetapi saat terindah semacam itu susah kita rasakan manakala kita mengumbar kesenangan makan. Di depan komputer semisal, sepi terasa onlina tanpa makanan. Pergi dulu ke warung terdekat membeli cemilan. Atau ke pinggir jalan membeli gorengan. Atau pagi hari ke sebuah perempatan lampu merah, tempat orang berjualan berbagai macam kue basah. Atau kalau kebetulan di kulkas ada makanan, makan apa saja yang ada di sana. Keripik, roti, coklat, kue, dan apa saja yang bisa dimakan.

Dan saat keinginan itu kita penuhi dan lambung berat dengan makanan, nikmat membaca pun menjadi hilang, badan lemas, membaca sambil tengkurap, lalu sambil tiduran, dan akhirnya, ngantuk datang, tidur, waktu pun hilang terbuang. Buku yang sedianya ingin segera kita tamatkan, jadi terhambat gara-gara memenuhi nafsu makan.

Padahal buku yang dibaca itu kurang bagus apanya. Anna Karenina, karya Leo Tolstoy, sastrawan kelas dunia. Buku yang telah telah ratusan kali diterbitkan, dipuji sempurna sebagai karya seni, dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia, buku yang saat membacanya orang menjadi sangat penasaran ingin segera menyelesaikan. Akan tetapi, karena orang membacanya sambil perut kenyang, badan terasa lelah, maka sambil tiduran. Anna Karenina yang sebetulnya bacaan mengasyikkan, jadi terasa lelah, karena sebelumnya dia  baru menghabiskan makanan.

Atau buku karya Enang Rokajat Asura, berjudul Abdul Jalal 1, buku yang dibeli karena suka dengan gaya tutur penulisnya, karena selalu berihak kepada kesederhanaan, kebaikan, dan keimanan, karena tulisan dia rata-rata bagus, mudah dicerna, indah dan menggunakan seni sastra, seharusnya bisa dibaca dengan lancar dan dengan cepat menamatkannya. Akan tetapi tidak, baru mulai membaca ngantuk sudah datang. Mengapa? Karena dia membaca buku itu setelah makan gorengan yang dia beli dari pinggir jalan, kemudian memakannya sambil membaca, dan setelah makanan habis, ngantuk datang menyerang.

Sebagaimana tanwin dan alif lam, dalam ilmu Bahasa Arab, keduanya tak bisa disatukan. Tak bisa menempeli sebuah kata pada saat bersamaan. Begitulah antara kenikmatan membaca dan kenyangnya kakan. Keduanya susah bersua. Harus memilih salah satu. Ingin menikmati bacaan harus bisa mengurangi nikmatnya makanan. Ingin menikmati makanan, harus rela kehilangan nikmatnya bacaan. Hal ini mengingatkan kita kepada hati orang-orang bertakwa. Mereka rasakan tak bisa menyatukan dua cinta antara dunia dan Allah. Sebuah nasyid berdendang, "Tuhan, leraikanlah dunia, yang mendiami dalam hatiku. Karena di situ tiada kumampu, mengukut dua cinta." Begitu juga nikmatnya bacaan, susah kita rasakan saat ingin kita sertakan dengan nikmatnya makan. Jadi jika ingin merasakan nikmatnya membaca, kurangilah makan.

No comments:

Post a Comment

Mau Betulin Hape