Pernah kepada sebuah tulisan karya orang lain saya menyebut asal bunyi, sembarangan dan menyesatkan. Seakan tulisan saya sendiri bagus, hebat dan penuh dengan petunjuk dan kebenaran. Kepada tulisan itu saya katakan mentah tidak berdasarkan penelitian akurat, seakan tulisan saya sendiri kaya akan fakta dan sangat akurat.
Saya katakan itu dengan penuh jumawa, dengan kalimat-kalimat penuh kesombongan dan nada merendahkan seakan diri saya sendiri penuh dengan kemuliaan. Saya menghina tulisan itu dan ingin supaya si penulis benar-benar merasa terhina. Karena memang begitulah kebahagiaan saya, yaitu saat sanggup merendahkan karya orang lalu merasakan kepuasan, kemudian saat mendapatkan sanjungan dan pujian buat karya diri saya sendiri lalu merasakan kebanggaan.
Seperti saat saya membuat tulisan di kompasiana. Padahal saya sendiri yang menulis di kompasiana, tapi kepada teman-teman facebook saya umumkan bahwa tulisan saya sudah masuk kompas. Sebab saya kira, sebagian teman saya itu tidak mengenal kompasiana, dan menyangka kompasiana itu tidak ada bedanya dengan kompas. Pada sebuah postingan saya simpan tautan link kompasiana itu, kemudian saya panggil teman-teman supaya membaca dan menyanjung. Itu semua saya lakukan untuk memenuhi rasa dahaga saya akan pujian dan kehormatan.
Dan sesuai harapan, orang-orang pun berdatangan memberikan pujian, mengatakan tulisan saya bagus. Sedangkan saya, membaca berbagai komentar manis mereka hanya bisa tersenyum, mengangguk-angguk, sambil berkata dalam hati, "Sudah selayaknya sanjungan itu mereka ucapkan, karena, tulisan saya memang hebat."
Tanpa saya ketahui ternyata, dari sekian banyak orang yang melihat, satu di antaranya adalah orang yang pernah saya injak-injak tulisannya. Saat link kompasiana yang saya bagikan dia klik dan baca, hatinya menggerutu habis-habisan, "Gue kira tulisannya sebaik apa. Bah!!! Norak, banyak mengulang kata, banyak serangan. Baru membaca paragraf awal sudah membosankan."
Saya kira gerutuannya cukup sampai di sana. Ternyata tidak. Masih panjang, "Dia kira orang lain itu sebodoh apa. Kompasiana itu berbeda dengan kompas. Kompasiana itu situs umum yang bahkan anak bolon baru belajar menulis huruf H pun bisa posting di sana. Siapa saja bisa nulis di Kompasiana. Tulisan bisa mejeng di sana itu bukan keistimewaan, jadi sebenarnya tidak pantas dijadikan kebanggaan. Dasar gak tahu malu!!"
Sebel, marah, dan saya tidak suka kepada orang itu. Berani-beraninya dia menggerutu sekalipun di dalam hatinya. Akan tetapi saya kebingungan bagaimana harus melawan dan bertindak, sebab hati yang menggerutu itu bukanlah hati orang lain, akan tetapi hati saya yang penuh dengan keanehan. Aneh karena, untuk diri sendiri selalu melakukan pembelaan berusaha dengan kata-kata mengesankan diri ini hebat, sedangkan kepada orang lain inginnya itu mentertawakan dan merendahkan dengan segala pengetahuan yang saya punya.
Eh kang dana kompasianer juga?
ReplyDeleteMaaf oot komennya hihihi...