Thursday, December 17, 2015

Buku GEMBEL SETENGAH BADUT

Bukan perkara mudah bertemu dengan orang yang tepat, tapi saya dipertemukan. Beruntung sekali rasanya. Menjadi teman kerja, dan jika saja bukan dengan orang berkarakter seperti dia, dari dulu pertemanan ini sudah banyak masalah.

Adalah Wiro dengan karakter humoris, tenang, dan sangat berjiwa sosial. Keseharian banyak dibulli orang, tidak jauh beda dengan social media, dia sangat pandai menghadapinya dengan santai-santai saja. Sangat jauh berbeda dengan saya yang mudah bapperan, goyang, dia lebih mengutamakan kerja dan berkarya daripada mengambil hati kata-kata orang. Di antara semua karyawan, Wiro yang paling banyak melakukan penjualan.

Sangat social, begitulah karakter orangnya. Hasil pergaulan dengan berbagai jenis orang memberinya banyak pelajaran bagaimana cara bergaul seharusnya. Barangkali, itulah yang membuat siapapun kerja sama dengannnya merasa nyaman. Misalnya dalam kerja sama membuat buku dengan beberapa temannya di social media, sudah beberapa kali dia sukses melakukan. Sudah empat bukunya selesai cetak.

Kali ini,  Wiro dan kawan-kawan kembali menelurkan karya. 

Dibanding buku Wiro sebelumnya, Gembel Setengah Badut, bisa dikatakan jempolan, tampilan jilid lumayan enak dipandang, hitam putih. Menurut penulisnya sendiri itu terinspirasi dari sebuah buku fokus yang dibacanya. Memang jika direnungkan, kenapa harus terlalu banyak warna jika dengan sedikit warna saja sebuah cover itu bisa memikat?

Bukan hanya tampilan luar, layout isinya pun lumayan. Pemilihan jenis huruf terutama, jadi enak dipandang nikmat dibaca. Wiro berkata, bentuk huruf itu meniru bentuk huruf di novel Love Spark In Korea. Mendengar itu, serta-merta saya teriak, "Wah Plagiat!". Sebuah teriakan bodoh... tapi saya sedang bercanda, mentertawakan orang yang murah menuduh orang lain melakukan plagiat, jangan-jangan hanya karena kesamaan huruf pun bisa dia anggap plagiat.

Bagaimana dengan isinya?

Dalam buku setebal 292 halaman ini bertaburan cerita yang digarap bersama-sama, dengan fokus menceritakan sebuah perkampungan di mana penduduknya jomblo semua. Wiro sebagai ketua RT dengan keluguannya yang mudah ditipu dan diperas sampai bangkrut, Noey Holis sebagai Dukun dengan sifat bermacam seperti egois misalnya sakit tidak mau ke dokter, Azizul dengan perannya sebagai pedagang yang selalu menawarkan pisang goreng dengan modusnya, Liktasiya Nadhir sebagai dokter yang baik hati, dan Julian Toni sebagai konsultan jomblo dengan segalan fatwa dan analisa gembelnya, bercampuraduk dalam cerita ini beraksi, kadang lucu, kadang absurd, menjadi es campur kisah yang cukup menarik diikuti.

Oh ya, ada seorang ketinggalan, yaitu Fitri Rahayu, berperan sebagai tukang jamu, dengan kelihaian menjualnya ia bahkan sempat nyaris menjual Pak RT.

Selesai cetak dan sampai ke tangan Wiro tanggal 16 Desember 2015, buku ini langsung dibuka, dan langsung terjual. Hari berikutnya kembali terjual. Sebuah kejadian yang sangat jarang terjadi di dunia perbukuan, maksud saya di dunia perbukuan yang sudah Wiro buat.

Selamat menikmati!

1 comment:

Mau Betulin Hape