Rumah saya warisan dari nenek istri saya. Diperbaiki sekedarnya, dan tidak tembok-tembok dindingnya. Maka sekarang, banyak dari tembok-tembok itu terkelupas. Begitu pula tembok benteng depan rumah, yang menjaga tanah supaya tidak longsor menimpa rumah tetangga di sebelah bawah, temboknya sudah hancur parah, membuat istri saya selalu ketakutan, kalau tembok itu kemudian roboh pasti menimpa rumah tetangga, sedang uang buat memperbaiki tidak ada.
Beberapa kali dia berkata, lebih baik dia pergi ke kota. Banyak tawaran menjadi bebysitter, menjadi pengasuh atau pengurus manula di panti jompo, lumayan darinya bisa mendapatkan uang, mungkin bisa dikumpulkan buat memperbaiki tembok depan rumah. Dan mendengar itu, saya suaminya, hanya bisa berdiam bengong kebingungan, karena saya sendiri, tidak punya penghasilan cukup buat merenovasi.
Dan akhirnya tembok itu benar-benar roboh, benar-benar menimpa rumah tatangga di bawahnya, mendorong dinding bambu sehingga melendung ke dalam. Apa yang istri saya cemaskan benar-benar kejadian, dan tetangga yang rumahnya tertimpa, mengomel-ngomel karena memang dinding bambu itu rapuh dan tua, setua dirinya. Mereka adalah sepasang orang tua dengan uban banyak, dan saya kasihan kepada mereka, tapi lebih kasihan lagi kepada istri saya yang banyak di rumah dan harus mendengar langsung omelan kurang menyenangkan dari mereka.
Tapi alhamdulillah, saat menerima berita itu lewat telfon. Allah telah menakdirkan saya kerja di perusahaan Bapak, jadi setidaknya punya harapan, bisa mengumpulkan uang buat membeli semen, pasir, bata, dan memberikan upah kerja untuk membangun kembali benteng runtuh itu. Maka setiap kali pulang, istri saya simpan kumpulkan uang yang saya bawa, dari bulan ke bulan, mencicil membeli bahan, seperti pasir, semen, bata, sampai istri saya merasa saatnya mendirikan tembok itu dengan menyuruh beberapa orang tetangga. Alhamdulillah sekarang tembok itu sudah berdiri Pak, sudah kokoh, memanjang, dari selatan ke utara, tak lagi ketakutan longsor dan menimpa rumah tetangga, dan tembok itu sekaligus dibuat tinggi menyerupai pagar, supaya saat main di halaman rumah, anak saya aman dari jatuh ke jurang, karena depan rumah saya itu memang seperti jurang.
Tapi kebutuhan belum selesai Pak. setelah benteng selesai, masih ada kebutuhan pokok rumah lainnya, yaitu kamar mandi, kami belum punya WC, dan selama ini mandi, cuci piring, wudlu, percaya tidak percaya, masih ikut kamar mandi milik mertua. Maka anak saya suka dibawa ke sana, dimandikan. Piring, gelas dan perabotan juga diangkut ke sana, dicuci di sana, dan begitu pula jika saya pulang, dini hari saya dan istri mandi di sana, hehe, pastilah bapak dan ibu mertua tahu apa yang membuat kami mandi sampai keramas.
Adapun di rumah, supaya tidak jauh jika tengah malam mau kencing, istri saya menyediakan ember khusus yang kalau ingin buang air, dia, saya, dan anak saya pipis di sana, sampai-sampai waktu istri saya mengantar anak ke sekolah, dan mendengar ibu guru bertanya kepada para murid PAUD dengan kerjas, "Kalau kita pipis harus di mana?" istri saya sangat ketakutan anak kami menjawab, "Di Ember." untung saja dia tidak menjawab begitu.
Kami belum punya kamar mandi, kami ingin membangun kamar mandi, karena ternyata ini kebutuhan vital, apalagi kini, ketua kampung kami mengalirkan air dari kaki gunung ke tengah perkampungan dan melalui pipa disebarkan ke rumah-rumah, maka sementara orang lain punya bak buat menampung air itu, rumah kami tidak, maka akhirnya pipa itu hanya tergeletak, ditutup pada bagian ujungnya. Jika saja punya bak, tentu itu sangat nyaman, tanpa harus mengangkut, tanpa harus nyedot, bak akan penuh sebab air akan terus mengalir siang dan malam.
Dan Pak, alhamdulillah, saat pulang saya kemarin, awal Desember 2015, membuka pintu rumah, di dapur, sudah terkumpul bahan-bahan seperti pipa, torn, keramik, dan entah apalagi, perlengkapan membangun kamar mandi. Istri saya sudah belanja, dan kemarin, setelah saya kembali pergi ke kerja, istri mengirimkan SMS dari rumah, "Pembangunan kamar mandi sudah dimulai, doakan supaya uangnya cukup ya." "Amiin." hanya itu jawaban saya.
Ini semua karunia Allah Pak, saya tidak bisa apa-apa, saya tidak punya apa-apa, dan saya mendapatkan uang dari Bapak, saya rasakan ini bukan karena saya bekerja, ini karena Allah membuat hati Bapak murah mengangkat saya untuk bersenang-senang di perusahaan ini, kemudian perbulan memberikan uang supaya uang itu manfaat dan sampai ke keluarga saya, untuk supaya digunakan buat keperluan di sana.
Saya ingin, saya berharap besar, dengan pengharapan yang menembus lapis-lapis jagat raya, mudah-mudahan kebaikan dari semua itu mengalir untuk Bapak untuk kebaikan hidup Bapak sekeluarga di dunia dan di akhirat.
Saya ingin, saya berharap besar, dengan pengharapan yang menembus lapis-lapis jagat raya, mudah-mudahan kebaikan dari semua itu mengalir untuk Bapak untuk kebaikan hidup Bapak sekeluarga di dunia dan di akhirat.
No comments:
Post a Comment