Wednesday, April 26, 2017

KAKEK SAYA

Banyak orang menyesalkan saya, kenapa pas kakek meninggal saya tidak ada, tidak takziah, dan tidak ikut shalat jenazah.

Iya memang saya pun merasa itu keterlaluan dan sudah lupa waktu itu saya sedang berada di mana.

Padahal kakek saya adalah seorang yang sangat sayang. Mengasuh saya telaten sejak kecil, karena pulang sekolah dan mengaji lebih dekat ke rumahnya daripada rumah saya sendiri. Dia sangat rajin menyuruh ke masjid, memotivasi supaya mengaji, dan apa pun permainan sehari-hari dia berusaha mengabulkan sekalipun berat.

Sekarang berkelebatan kembali segala kebaikannya itu. Misal suatu hari saya memintanya membuatkan sumur-sumuran di belakang rumah. Susah payah dia mengabulkan dan setelah dalam, dia serahkan ke saya, dan saat itu saya teringat dengan jebakan yang biasa saya lihat film televisi, dengan cara menutupnya dengan daun, biar nanti kalau ada ayam lewat di sana terjebak dan jatuh. Kemudian saya main hal lain sampai lupa lewat ke atas sumur-sumuran itu, sebelah kaki terperosok ke dalam, karena kaget saya menangis. Memalukan dan konyol sekali itu, saya sendiri yang membuat jebakan, saya sendiri yang terperosok di sana.

Dia pun pernah membuat pedang-pedangan, dia membuatkan saya telfon telfonan dengan tumbuhan merambat.

Dia mengajak saya jalan-jalan ke Kota Bandung untuk melihat kebun binatang yang mana itu pertama kali dan satu-satunya main saya ke kebun binatang dan belum pernah lagi sampai sekarang.

Dia pecahkan lampu patromak kesayangannya karena sesuatu pada bagian dalam patromak itu untuk main semacam petasan. Dia memecahkannya dengan marah karena saya memintanya dengan memaksa dan terus menangis padahal itu lampu patromak satu-satunya yang suka dia gunakan jika listrik mati.

Dia keluarkan uang simpanannya padahal masih sangat memerlukan, untuk membelikan saya mobil-mobilan.

Dia keluarkan uang simpanannya untuk membelikan saya bola plastik yang kemudian saya bawa main bersama teman sekomplek sampai pecah.

Dia sisakan uang seratu dua ratus rupiah di palang kamar karena setiap kali berangkat sekolah saya suka singgah ke rumahnya minta bekal jajan.

Dia rela duduk terkantuk-kantuk mendengarkan pidato membosankan saja di rumah setiap sore, setiap malam, kadang bakda shubuh, supaya saya bisa berpidato seperti para ustadz.

Jika di tempatnya kerja ada makanan dia bawa ke rumah karena ingat ada cucunya yang selalu datang ke rumah mencari makanan. Jika di mesjid ada pengajian dan disugugi kue, tidak dia makan tapi masukkan ke saku jasnya dan bawa ke rumah karena ingat sama saya.


No comments:

Post a Comment

Mau Betulin Hape