Orang senang dengan karya kita, terima kasih kita ucapkan kepadanya. Orang mengkritik karya kita lalu membantu memperbaikinya, well terima kasih juga kita ucapkan kepadanya. Tapi orang datang dengan kata-kata menyudutkan, lalu kita tidak senang dan ingin balik berdebat, ah ucapkan saja salam dalam hati dan tidak perlu menanggapinya. Waktu kita terlalu berharga. Waktu kita hanya tersedia buat berkarya.
Masih banyak hal berharga buat kita tuliskan daripada melayani perdebatan yang tidak tahu manfaatnya untuk apa. Kecuali jika dari perdebatan itu kita tahu manfaatnya, misalnya dari debat itu bisa kita jadikan bahan tulisan, itu sih lain cerita. Saat sadar perdebatan yang kita lakukan ingin dijadikan sebuah karya, otomatis akan berusaha berkata sebaik-baiknya, seilmiah-ilmiahnya, berupaya menyajikan fakta dan argumentasi paling masuk akal dan tentu saja itu bisa menjadi sebuah dialog menarik yang bagus buat dipublikasikan.
Tapi jika akhirnya perdebatan itu tidak jadi apa-apa, lalu buat apa? Cuma buang-buang waktu.
Masih banyak hal lebih berharga buat kita bicarakan dalam tulisan. Misal membicarakan buku yang baru saja kita baca. Menuliskan betapa menariknya buku itu, lalu mengapresiasi bagian-bagian pentingnya. Misalnya saya, sepanjang perjalanan pulang kampung, dalam bus membaca sebuah buku yang tidak berani saya sebutkan judulnya, begitu juga tidak berani saya sebutkan nama penulis karena si penulis ini karena menulis buku ini dia dianggap murtad, kafir, kemudian dianggap halal darahnya dan ditembak mati oleh masyarakat yang tidak suka.
Saya baca karyanya sampai tercengang-cengang. Beberapa kali hati saya berkata, "Ah yang benar? Masa sih? Kok bisa ya? Mhh.. tega benar! Gila, kok bisa begitu ya?" Buku itu betul-betul ditulis dengan penuh energi, penuh semangat, dilandasi dengan fakta-fakta sejarah akurat yang selama ini banyak disembunyikan. Penulis menulis buku ini dengan penuh kesungguhan dan perasaan. Sekalipun non fiksi yang disajikan dengan gaya argumentasi narasi, tapi penyajiannya sangat sastra, seperti menyajikan sebuah roman.
Buku yang benar-benar memikat!
Saking menariknya, di kursi bus saya sampai terjongkok-jongkok membaca.
Sayang saya tidak berani menyebutkan judul dan penulisnya. Karena kalau toh di sini saya sebutkan, apalagi sambil diterangkan panjang lebar isinya, Anda yang panatik dalam beragama pasti akan menyerang. Jadi cukuplah saya membagikan pelajarannya: SEBUAH BUKU YANG DITULIS DENGAN PENUH KESUNGGUHAN, BISA MENARIK ORANG LAIN MEMBACA DENGAN PENUH KESUNGGUHAN.
Dan buku semacam itu sangat banyak. Buku karya para ulama jaman dulu yang masih cetak ulang sampai sekarang itu menandakan sang buku telah ditulis dengan penuh kesungguhan. Ihya Ulumuddin contohnya, ditulis dengan penuh kesungguhan sambil bertapa di menara masjidil Aqsha oleh Al-Ghazali, penulisnya. Fathul Bari, kitab sangat tebal, ditulis dengan penuh kesungguhan dalam perjalanan oleh Ibnu Hajar. Begitu juga Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir, cobalah buka, dan saat mulai membaca buku itu--ini yang saya rasakan--siapa pun akan langsung larut dalam suasana indah sekaligus menegangkan mengikuti perihidup Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddid.
Masih banyak hal bermanfaat bisa kita lakukan. Lalu mengapa harus merugikan diri buang-buang waktu buat hal tidak bermanfaat?
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Ketika orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam tulisan, saya berlomba menjadi yang terburuk. Ketika orang berlomba berusaha memperli...
-
Kita tidak bisa menyebut sebuah nama ketika pikiran lupa Ilmu datang ke dalam pikiran kita oleh Allah, dan Dia bisa menghilangkannya kapan...
No comments:
Post a Comment