Friday, August 5, 2016

DUA WEWE

Tak seorang pun tahu apa yang sedang dirahasiakan malam untuk hari esoknya. Ketika jeritan halilintar menyambangi seantero kota, telinga-telinga pecah berdarah dan orang-orang terjungkal. Tapi yang dirahasiakan malam ini bukan sebuah siksaan, melaikan akan datangnya seseorang ke ANPH.

Dering handphone membangunkan saya diri hari, dan sebuah suara memanggil. Seorang perempuan, kujawab baiklah, lalu dari lantai tiga, bergegas turun membuka toko, dan setengah berlari menuju jalan raya. Lehar kupanjang-panjangkan berusaha mendapatkan jangkauan pandangan lebih luas mencari seseorang. Di selatan di utara, tak seorang pun kulihat ada perempuan. Di manakah dia, tapi itu ada seorang ibu bersama anaknya dan aku berjalan ke sana. Dini hari begini, malam begini, dari Jawa Tengah pastilah dia datang ke Kota Depok bersama ibunya. Tidak mungkin sendirian.

Berdenting-denting lagi handphoneku,

"Ya di mana?"

"Di seberang."

Melempar pandang, oh itu rupanya.

Seorang anak kecil dan sebuah cover di sampingnya. Bukan, bukan seorang anak kecil, dan aku mendekatinya. Membantu membawakan covernya, menuju kantor. Malam pun mulai membukakan rahasia, dan bumbu masakan dari berbagai belahan negeri kini mulai berkumpul di satu wajan. Tidak perlu kamu kerutkan jidat maksud kalimatku ini apa. Maksudku, dari berbagai tempat jauh, kini kami dipertemukan dalam satu tempat. Aku seorang Sunda dari pesisian Jawa Barat, perempuan ini yang bernama Wulan dari Jawa Tengah, dan di atas ada Wasi jauh dari Jawa Timur sedang tidur ditemani seorang bujangan lapuk, jomblo akut, sang calon mayat dari Toraja, yaitu Wiro, dengan nama panjangnya Prawiro Supardi S.Sos, lulusan FISIF, Fakultas Ilmu Santet dan Ilmu Felet. Kusebut demikian karena salahnya sendiri mengapa dia minta disebut eyang. Panggilan Eyang buatnya hanya pantas jika dia seorang dukun.

Tapi bahwa dia seorang sarjana dan lulusan FISIF itu benar. Lulusan sebuha universitas terkenal di Makassar milik Pak Yusuf Kala. Biarpun bagaimana, Wiro ini seorang intelektual.

Lho kok malah menceritakan Wiro, padahal sedang menceritakan seorang perempuan yang baru saja datang: Wulan dari Magelang, dan kupikir mencaritakan Wiro di sini tidak ada gunanya.

Sungguh tidak ada gunanya. Tapi saya tidak berani bersumpah, hanya ingin berkata dengan sungguh-sungguh membicarakan Wiro di sini tidak berguna. Sangat tidak berguna.

Apa gunanya menceritakan dia, yang saat saya harus bangun menunggu kedatangan Wulan, dia malah enak mendengkur. Apa gunanya menceritakan Wiro, yang saat saya harus menjemput Wulan ke tepi jalan dan membawakan covernya, dia malah enak-enakan ngangah. Apa gunanya menceritakan Wiro, yang saat saya harus memikirkan bagaimana melewati malam yang dingin dengan obrolan, Wiro malah merengkol di bawah selimut hangat menganyam bulu mata.

Wiro, sepertinya sama sekali tidak peduli.



Masuk toko kupersilakan dia duduk. Wajah lelah menjadi masker bagi wajahnya. Wajah datar kulempar bersama sebuah pertanyaan,

"Sudah punya novel?" pertanyaan tidak pantas dan keluar bukan pada tempatnya. Seorang yang lelah malah ditanya-tanya masalah novel.

"Ada, tapi pernah dikirim ke penerbit mendapatkan penolakan."

"Mengirim ke penerbit mana?"

"Gagasmedia, sepertinya penerbit itu standarnya tinggi. Naskah yang masuk tidak sembaranga."

Dan seterusnya, dan seterusnya, sampai saat siang datang, Wulan bertanya,

"Di manakah tempat makan?"

Pertanyaan yang membuat saya kaget campur kasihan. Aduh, anak ini mungkin lapar, mau makan. Kuajak ke kantin belakang Hotel Santika.

Di mana Wiro?

Entah di mana, aku tak mau tahu, dia pun tak mau tahu. Aku tak peduli, dia pun tak mau peduli.

 (Bersambung)

No comments:

Post a Comment

Mau Betulin Hape