Wiro ingin sekali pulang kampung, ingin segera mengabarkan kepada mamaknya bahwa pinangan dia diterima. Tapi masalahnya, Jawa-Sulawesi bukan jarak dekat. Membutuhkan penerbangan, dan ongkos pulang pergi tak cukup satu dua juta. Lewat laut mungkin bisa, tapi pasti itu butuh waktu lama.
Tapi pagi ini, Wiro telah duduk di beranda rumahnya di Toraja.
"Tentu saja Mamak merestuimu Nak." setelah mendengar Wiro menuturkan semuanya.
"Terima kasih Mak."
"Karena Mamak sangat memahami dan merasakan apa yang kamu rasakan."
"Memangnya Mamak tahu apa yang aku rasakan?"
"Naluri alamiah manusia, takkan sanggup dan tahan menyendiri sepanjang hidupnya. Kesepian bisa mengantarkannya kepada lamunan tak karuan, kegelisan tak jelas, dan ketakutan tanpa dasar. Dari situlah, kemudian dia berupaya mencari pasangan, ya seperti yang kemarin sudah kamu lakukan."
"Jauh sekali ya Mak."
"Itu tidak mengherankan. Bapak dan ibu manusia dulu melakukan hal yang sama, berjalan jauh buat saling mencari satu sama lain."
"Adam dan Hawa?"
"Ya. Karena baik pria maupun wanita sesungguhnya ingin berpasangan, ingin saling memberi dan menerima untuk mengusir kesepian dan kegelisahan."
Sebetulnya Wiro heran, dia menyaksikan hal yang tak biasanya. Kenapa ucapan Mamaknya menjadi begitu tertata dan sangat bijak, tapi seakan tak menghiraukan itu, Wiro hanya ingin semuanya mengalir, lancar, mendengar apa yang sangat ingin didengarnya, apa saja tentang pernikahan. Maka yang dilakukannya hanya curhat untuk mendapatkan nasihat lebih banyak.
"Sering Mak, aku duduk sendirian di atas gedung memandang langit berlama-lama entah untuk apa Mak, atau berbicara sendirian di depan kamera handphone menirukan film-film yang sedang tayang di bioskop Mak. Menirukan Zhong Wen saat berkata kepada Asmara, menirukan Prasetya saat menolong Meirose yang mau bunuh diri, menirukan ucapan Hyun Geun di film thriller Jilbab Traveler Love Spark In Korea."
"Bagaimana ucapan Hyun Geun itu Nak?"
Wiro menarik nafas mengambil ancang-ancang, "Jilbab Traveler itu panggilan jiwanya."
Mamak Wiro tertawa, "Kok gitu banget nadanya?"
"Ya itu aksen Korea Mak... "
"Pasti itu kamu lakukan untuk mengusir kesepian dan kegelisahan."
Wiro menarik nafas panjang dan menghembuskannya, "Begitulah Mak."
"Hmmh, menyedihkan sekali kamu Nak."
"Tapi sekarang sudah tidak."
"Syukurlah. Dan supaya nanti kamu bisa terus mensyukuri pernikahan, masa-masa kesepian dan kegelisahan itu jangan pernah kamu lupakan."
"Apakah itu yang dinamakan galau Mak?"
"Mungkin saja. Sebetulnya bukan cuma kamu sebagai anak bujang, perempuan pun merasakan hal yang sama. Pernah Mamak membaca sobekan majalah bungkus gorengan dari pasar. Di sana ada berita hasil penelitian orang Mesir, perempuan tanpa pernikahan lebih rawan mengalami gangguan kejiwaan dari perempuan menikah. Ya itu tadi, sebabnya karena kesepian, ketidaktenangan, dan rasa cemburu terhadap perempuan yang memiliki suami, serta kurangnya mendapatkan kehangatan secara emosi."
"Oh ya." jawab Wiro singkat, bukan sebab malas bicara, tapi dia ingin membiarkan Mamaknya berbicara lebih panjang.
"Meski perempuan, tapi Mamak berani berkata, lelaki normal pun akan merasakan hal yang sama, hidup tanpa perempuan itu sangat menyengsarakan."
"Ah, dulu aku tidak sengsara-sengsara amat."
"Tidak perlu mengelak, Wiro. Pada awal rumah tangga dulu, bapakmu pernah memberi mamak buku bimbingan rumah tangga, di sana Mamak membaca hadits yang artinya sampai sekarang masih teringat,"
"Apa itu?"
"Dunia ini adalah kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan adalah perempuan shalihah."
"Artinya?"
"Ya itulah artinya, kalimat arabnya Mamak kurang hafal."
"Maksudku, penjelasannya bagaimana."
"Menurut Mamak, hadits itu seakan menjelaskan, jika kehadiran wanita shalihah bisa menjadi kesenangan bagi seorang pria, maka berarti sebaliknya, ketidakhadirannya berpeluang menjadi kesengsaraan."
Wiro hanya mengangguk-angguk diam.
"Itulah sebabnya sementara orang berkata, seandainya seorang lelaki harus memilih satu di antara dua pilihan, ketenangan tanpa perempuan atau kesusahan bersama perempuan, maka dia lebih rela memilih merasakan kesusahan bersama perempuan."
"Mengapa ya bisa demikian?"
"Karena ketika itu dia tidak sendirian, tidak kesepian, dan tidak akan terlalu gelisah karena ada yang menemani."
Wiro mengembangkan senyuman, memandangi atap, membaringkan badan, memejamkan mata, merasakan kabahagiaan.
"Eh bangun! Bangun!"
"Aku bahagia sekali Mak."
"Bangun! Heh! Sudah jam sembilan!"
Wiro membuka mata.
"Bangun Wir! sudah masuk jam kerja."
Dia lihat, ternyata yang membangunkan Si Dana.
Monday, June 20, 2016
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Seseorang menulis jujur menyatakan kurang nyaman sama yang posting rumah tangga hanya menceritakan keindahannya saja, kemudian dia mengingin...
-
Baru kemarin beli buku ini, sakarang sudah tamat. Buku obral tapi bagus. Memberi hal baru. Tentang "Kekuatan Pikiran Spontan." ...
No comments:
Post a Comment