Ada orang yang sengaja membuat tulisan susah dicerna, kata dia tujuannya untuk mencerdaskan pembaca, supaya pembaca mikir, tidak mendapatkan isi bacaan dengan instan. Maka sengaja tulisan itu susunannya disusah-susahkan, jenis kata-katanya diasing-asingkan.
Saya tidak tahu mereka belajar dari siapa. Saya benar-benar tidak tahu adakah para penulis jaman dulu yang mengajarkan.
Setahu saya, para penulis hebat jaman dulu yang tulisannya masih dibaca berabad-abad hingga sekarang, jurtsu berusaha menguraikan hal rumit menjadi mudah dicerna. Apa yang acak mereka tertibkan, apa yang samar mereka jelaskan, apa yang menurut mereka asing di mata umum, mereka berusaha mengenalkannya supaya orang memahami dengan mudah.
Rene Descartes, seorang filsuf dan matematikawan Prancis, baru saja saya beli bukunya dan baca, ternyata cara dia menulis, menguraikan, dia berusaha menguraikannya dengan kata-kata sederhana yang mudah dipahami pembaca.
Saya membaca buku dia, dan dia berusaha menyampaikan pemikirannya dengan bahasa yang mudah dimengerti pembaca. Sekalipun yang disusunnnya merupakan tulisan ilmiah, tapi dia tak segan menuliskan kata saya sebagai cara memasukkan pengalaman pribadinya.
Dia seorang rendah hati, dan saya kira begitulah sebagian besar ilmuwan yang ilmunya bermanfaat. Mungkin saja mereka saling berbeda pendapat dengan ilmuwan lainnya, akan tetapi mereka berbeda pendapat bukan dengan melakukan perdebatan, akan tetapi dengan berkarya. Saat membawa ilmuwan lain berbeda pendapat dengannya, maka yang dia lakukan adalah menulis buku baru berdasarkan pandangannya sendiri.
Saya sendiri ingin menulis supaya orang mendapatkan kemudahan memahami apa yang ingin dipahaminya, mendapatkan pelajaran dari pelajaran yang sudah saya dapatkan.
Cara dia menulis menunjukkan kerendahhatian. Dalam tulisannya dia nyatakan, dia menulis bukan sebagai orang yang sangat tahu tentang kebenaran, bukan sebagai orang yang lebih tahu dari pembaca. Bukan, dia hanya ingin membagikan pengalaman pribadi, dan ingin pembaca melihat tulisannya, katakanlah seperti dongeng yang di dalamnya ada hal-hal yang patut dijadikan teladan dan hal-hal yang tidak patut dijadikan teladan.
Rendah hati sekali dia. Dia nyatakan,,
Mereka punya nama besar, tapi dalam menulis mereka tidak suka membesar-besarkan dirinya. Mereka berilmu tingggi tapi ketinggian ilmu itu tidak menjadikan mereka senang meninggi-ninggikan dirinya. Mereka adalah orang-orang yang percaya, membesarkan diri bagian dari perbuatan manusia yang tidak pantas dan memalukan.
Supaya orang mudah memahami tulisannya, Descartes menyajikan pemikirannya dalam bentuk cerita. Menceritakan pengalaman dirinya, karena itu dalam buku ini dia banyak menyebut saya. Penyajian dalam bentuk pengalaman ini menjadikan pembaca enak mengikuti alur tulisan dari halaman-ke halaman. Ikut penasaran bersama penulis yang sedang menceritakan kepenasarannya, ikut bingung saat penulis sedang menceritakan kebingungannya, dan ikut mendapatkan pencerahan saat penulis akhirnya menyebutkan dirinya tercerahkan.
Sesederhana mungkin, itu yang saya temukan saat membaca buku-buku para penulis yang karya-karyanya dikenal dunia.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Ketika orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam tulisan, saya berlomba menjadi yang terburuk. Ketika orang berlomba berusaha memperli...
-
Kita tidak bisa menyebut sebuah nama ketika pikiran lupa Ilmu datang ke dalam pikiran kita oleh Allah, dan Dia bisa menghilangkannya kapan...
No comments:
Post a Comment