Hanya patung yang diam, harimau ini.
Kantor koramil menjelang siang. Pria gagah berseragam loreng di terasnya duduk santai, pada sebuah kursi panjang. Melihat kita berdua, dia melambaikan tangan, mengajak Bapak mendekat.
Pak tentara ini tetangga kita. Dia bertanya, "Sekarang kerja di mana?"
"Depok."
"Oh, Bogor."
Depok masih sering disebut Bogor oleh orang-orang kampung kita.
"Sekarang sedang liburan."
"Seminggu?" tanyanya.
"Hanya empat hari."
"Bagaimana kerja di sana?"
"Alhamdulillah, betah. Pernah saya diminta kembali kerja di kampung, tapi... "
"Maaf, bukannya saya memotong pembicaraan, tapi karena sudah bukti banyak orang kecewa, lebih baik tidak usah. Lebih baik teruskan saja kerja di sana."
"Iya Pak. Kenapa ya sekolah asrama di kampung kita itu bubar. Malah sekarang bangunannya mau dijual?"
"Itu karena dia hutang kepada Bu Mawar (bukan nama sebenarnya), kemudian saya membantu Bu Mawar untuk menagih, dan karena pengurus sekolah tidak bisa membayar, saya minta supaya dia membayar dengan apa saja, termasuk dengan bangunan sekolah."
Ah anakku, kamu belum mengerti apa yang kami bicarakan.
"Bagaimana reaksi pihak sekolah?"
"Tentu saja mereka marah, tapi karena ini hutang, mereka tidak bisa apa-apa. Saya dengan berani memaksa. Dan berhasil."
"Tidak terjadi apa-apa?"
"Saya diancam."
"Diancam bagaimana?"
"Mereka mengancam mau membunuh saya. Katanya, kalau mau bukti, lihatlah orang itu--dia menyebutkan sebuah nama--besok sore juga dia akan mati. Dan memang benar, esok harinya, orang yang dia sebutkan itu meninggal."
Begitulah kampung kita Anakku, masih gawat dengan ancaraman pembunuhan-pembunuhan. Secara halus, bukan kasar, dengan cara-cara yang Bapak tidak tahu seperti apa tekniknya.
"Siapa?" tanya Bapak penasaran.
"Ada, orang kampung kita." jawabnya tidak mau menyebutkan nama.
"Wah! Tapi kepada Bapak, tidak terjadi apa-apa?" dengan rona muka cemas.
"Tidak, alhamdulillah."
"Bagaimana Bapak melakukan penjagaan?"
"Saya menyerahkan diri saja kepada Allah. Saya pancang keyakinan, ini membela kebenaran. Ada orang lemah membutuhkan pertolongan dan saya berusaha menolongnya, kemudian saya berserah."
"Kok dia bisa sejahat itu ya?"
"Itulah sebabnya saya sarankan, kamu tidak perlu mendekat."
No comments:
Post a Comment