Friday, March 31, 2017

MALAM INI SAYA TERANCAM

Sejak Fitrah Ilhami datang ke kantor, sudah beberapa kali saya menjelek-jelekkan dia dan istrinya dengan tulisan, dibaca banyak orang, sampai sang istri teriak di komentar, "Abang, balas Bang,"

Itu pasti mintanya sambil nangis Nobita, nangis sampai air mata muncrat-muncrat ke samping kiri kanan, dan sekarang saya terancam.

Karenanya sebisa mungkin saya tidak curhat supaya tidak ada bahan buat Fitrah menjelek-jelekkan.

Dan sebab kurang puas, malam ini hinaan itu ingin saya tambah.

Jadi pulang makan malam, kami lewat ke depan tukang buah. So banyak duit, saya tawarkan ke Fitrah, "Mau buah, silakan ... "

Siapa tahu dia mau semangka tiga buah, dihabiskan, kekenyangan, lalu tertidur pulas dan tidak sempat menuliskan kejelekan saya. Tapi,

"Enggak ah!" katanya.

Oh ya sudah, syukur-syukur, kata saya dalam hati.

Tapi kemudian, entah kenapa, setelah matanya melihat pisang, kakinya belok mendekat. Beneran, saya heran, ada hubungan apa antara dia dengan pisang. Kepala naik turun, membungkuk, mengangkat, membungkuk, mengangkat, sambil tangannya mencoba menggapai-gapai, akibatnya, pisang yang digantung itu menjadi terayun-ayun. Telinga saya berusaha menangkap, siapa tahu ada suara aneh ekpresi kegembiraannya menemukan pisang, tapi tidak berhasil. Gemuruh mobil dan motor di jalan terlalu keras.

"Beli empat Bu, eh beli dua! berapa?"

"Lima ribu."

Selagi dia membayar, saya tertarik pada tumpukan buah di meja terdepan. Buah itu beda, campur baur, dengan warna yang lebih kusam, saya tanya si ibu penjual, "Ya ini berapaan Bu?"

"Oh itu tidak dijual, itu barang sisa. Kalau mau silakan!"

Wow! Mendengar ternyata digratiskan, mental gembel saya keluar. Cepat membungkuk memilih-milih buah sisa itu karena terletak di meja yang lebih rendah. Jeruk mandarin dengan warna-warna memikat, tapi ketika tangan mengambil dan membaliknya, jeruk itu busuk. Mengambil yang lain lagi, sama juga busuk, begitu juga apel fuji, tidak satu pun bagus. Penasaran, tangan saya terus mengorek dan memilih-milih tapi tidak berhasil, dan karena saya lihat Fitrah mulai pergi meninggalkan kios buah ini, saya tinggalkan buah sisa itu tanpa mengambil satu pun.

"Eh tunggu Mas, tunggu, itu sepertinya di tempat sampah ada anggur masih bagus!" teriak saya.

"Ayo Kang pulang!!"

"Aaah, sayang banget itu!"

"Ayo Kang pulang. Kang Dana ini bikin malu aku aja Kang." keluh Fitrah sambil terus berjalan.

Saya belu mengerti,"Maksudnya?"

"Calon penulis kok begini, mengorek-ngorek buah busuk. Tadi aku cepat pergi karena malu Kang, jalan-jalan kok ditemani gembel."

"Oh begitu ya?"

"Tapi bagus Kang, nanti buah bahan cerita."

Waduh! Malam ini saya benar-benar terancam!

No comments:

Post a Comment

Mau Betulin Hape