Kenapa saya mau kerja di sini?
Karena atasan saya, Mbak Asma Nadia dan Pak Isa bukan tipe orang yang suka bersenang-senang sendriian. Mereka tipe orang-orang yang mengutamakan kepentingan orang lain.
Mereka membangun perusahaan bukan buat membangun kemewahan buat dirinya sendiri, tapi karena ingin berbagi dengan sebanyak mungkin orang lain.
Anda menyebut saya penjilat dengan menulis ini, silakan saja, bebas, suka-suka Anda, tapi kalau Anda di posisi saya lalu melihat lebih jelas seperti yang saya lihat sekarang, Anda pun mungkin akan mengatakan hal yang sama.
Ketika Pak Isa menuntut karyawannya kerja keras, maka dia sendiri yang mencontohkan kami kerja keras. Sering saya melihatnya malam masih aktif kerja, menulis, memeriksa buku yang ingin diterbitkannya, membaca, menambah pengetahuan, dan paginya, kembali dia masuk kantor dan kerja.
Saya pernah bertanya kepadanya, "Berapa jam Pak tidur dalam sehari semalam?"
"Empat jam."
"Bukannya harus delapan jam?"
"Kata siapa?"
Saya mau bilang kata dokter, tapi itu terlalu basi, jadi saya biarkan Pak Isa melanjutkan bicaranya. "Jaman Rasul dulu tidurnya gak tahu kapan. Malam hari mereka ibadah, siang harinya berperang. Tidurnya hanya sebentar-sebentar saja."
Ketika saya ingat sejadah dan atsar beberapa orang sahabat, iya juga kalau dipikir-pikir, sebenarnya berapa jam mereka istirahat. Tidak jelas berapa.
Lalu dari mana aturan tidur delapan jam?
Para pekerja keras, yang banyak menginpirasi orang, rata-rata mereka sedikit tidur dan lebih banyak kerja.
Saya teringat Kim Woo-Chong, seorang Chairman perusahan Daewoo dari Korea, mengatakan, jika dia mendapatkan proyek membangun gedung, dia bersama karyawan mengerjakannya seperti orang gila, mereka bekerja 24 jam, siang dan malam. Seperti diperlihatkan di foto-foto dalam bukunya SETIAP JALAN BERTABUR EMAS, dia tidur hanya memanfaatkan waktu-waktu senggangnya dalam perjalanan, misalnya saat transit di Bandara, duduk, dia tertidur di kursi dalam keadaan duduk, dengan kepala terlenggak ke belakang.
Begitulah orang-orang sukses dan banyak memberi manfaat kepada sebanyak mungkin orang. Rata-rata mereka sama dengan kehidupan yang pernah nabi dan para sahabat contohkan.
Saya menulis ini jam 1 tengah malam, tapi bukan ingin mengatakan saya pekerja keras sehingga layak disamakan dengan Rasulullah dan para sahabat, tidak. Saya hanya ingin mengatakan, sebelum menulis ini saya sempat mendapatkan informasi dari Mbak Asma Nadia lewat whatsapp, bahwa malam ini dia akan berusaha menyelesaikan garapan novelnya, dan kemungkinan sampai shubuh nanti. Luar biasa.
Saya suka bertanya, kenapa sampai sekarang belum juga mempunyai karya hebat? Ternyata jawabannya sangat mudah. Karena saya belum kerja keras sekeras kerja yang orang-orang berhasil lakukan.
Itu hal lain yang membuat saya suka kerja di sini, saya banyak terinspirasi oleh orang-orang yang menjadi atasan saya.
Di samping apa yang saya katakan di awal tadi, mereka orang-orang yang kerja bukan buat kepentingan diri sendiri, tapi demi kepentingan orang banyak.
Pak Isa pernah berkata,, "Saya tidak mau di akhirat ditanya, "Kenapa kamu tidak berusaha menolong orang.""
Perkataan yang tidak akan pernah saya lupakan.
Dan dia memang benci segala tindakan yang hanya mementingkan kepentingan diri sendiri saja.
Suatu ketika saya bertanya kepadanya di mana alamat kantor percetakan?
Dari pertanyaan itu Pak Isa kemudian menebak bahwa saya akan mencetak buku yang ingin saya terbitkan. Pak Isa tidak suka, tapi bukan tidak suka karena saya mau menerbitkan buku, dia tidak suka dengan alasan, saya akan menerbitkan buku buat kepentingan diri sendiri saja. Dia mengancam, kalau itu saya lakukan, dia tidak segan-segan akan memecat saya.
Buat saya ini pelajaran penting yang harus saya contoh darinya. Dia sangat tidak suka dengan tindakan mementingkan kepentingan diri sendiri saja. Dia ingin segala hal, kebaikan yang kita punya ini dinikmati bersama.
Saya kira itu sudah menjadi pegangannya sejak mahasiswa. Saja masih kuliah, Pak Isa sudah kerja, dan setiap kali mendapatkan penghasilan, dia suka mengajak teman-temannya ke kafe, makan bersama dan mentraktir mereka. Saya bertanya, apa itu dia lakukan supaya menjadi orang kaya. Pak Isa menjawab, bukan, suka saja melihat orang lain happy.
SELALU MENJADIKAN RASULULLAH SEBAGAI RUJUKAN
Hal lain yang saya suka dari Pak Isa, seringkali beliau menjadikan Rasulullah sebagai rujukan.
"Masih banyak suami yang di rumahnya ingin diperlakukan sebagai raja."
Kali ini Pak Isa membahas para suami yang di rumahnya ingin diperlakukan sebagai raja dan menganggap istrinya sebagai hamba.
Cukup singkat saja dia berkata, tapi saya menangkap dan merenungkannya.
Iya juga ya, dan terkadang itu termasuk saya.
Terkadang ingin diperlakukan sebagai raja, yang kerjanya diam saja, malas-malasan, sementara banyak hal seperti makan, minum, dan segala pekerjaan rumah, istri yang menyelesaikan. Ingin dibukakan baju, ingin diantarkan minuman, ingin diambilkan makan.
Ini apa-apaan?
Suami itu bukan seorang raja. Dia seorang pemimpin rumah tangga. Dan seorang pemimpin itu hanya bertugas memimpin, memberi contoh. Jika dia ingin bawahannya kerja keras, dia sendiri harus kerja lebih keras. Jika dia ingin bawahan lebih rajin, dia sendiri harus jauh lebih rajin. Jangan pernah menuntut bawahan menjadi baik sebelum diri sendiri menjadi orang yang benar-benar baik.
Mengingat Pak Isa suka menjadikan Rasulullah sebagai teladan, lalu saya ingat Rasulullah dalam rumah tangganya, iya juga ya, dari kisah-kisah yang saya dengar, beliau bukan seorang suami yang menuntut istrinya memperlakukan dia sebagai raja. Beliau dikisahkan membantu istrinya menyelesaikan tugas-tugas rumah. Beliau menjahit bajunya sendiri yang robek, beliau menjahit sandalnya sendiri yang putus. Tidak ada sama sekali tuntutan supaya istri-istrinya memperlukan dia sebagai raja.
No comments:
Post a Comment