Dari semua kisah di buku Cinta Laki-Laki Biasa, kisah paling menyentuh yang paling pertama saya temukan adalah cerpen "Bapak Akan Pulang."
Tulisan Richie Permana Ardiansyah.
Bukan, bukan karena dia teman, bukan pula karena dia nyuap saya supaya menyebut cerpennya bagus.
Tapi memang bagus.
Menyentuh.
Saya baca di mobil dalam perjalanan mudik yang panjang karena sering sekali macet... cukup menghibur.
Tema yang diambilnya, kasih sayang seorang anak dengan sang ayah.
Sudut pandangnya, lanjarannya.
Terfokus kepada sebuah kata mutiara, "Sebelum pertandingan berakhir, kita belum bisa menentukan pemenang."
Kata mutiara yang diambil dari tontonan favorit si anak dan si ayah, yaitu bola yang meruntuhkan tembok penghalang komunikasi di antara keduanya. Saat keduanya nonton, sepertinya kemenangan akan ada di pihak kesebelasan favorit mereka, karena hingga waktu nyaris habis, skor tetap menang, tapi rupanya, dugaan si anak keliru, pertandingan berakhir dengan kemenangan kesebelasan lawan.
"Sebelum peluit panjang ditiup, pemenang belum bisa ditentukan." ucapan si Bapak yang sangat membekas kepada benak anaknya.
Cerita berikutnya kemudian si ayah sakit, kangker, yang menyebabkannya harus rawat inap selama beberapa hari. Di rumah sakit, si ayah berpesan kepada si anak supaya menjaga ibu dan adik-adiknya. Si anak berkata, jangan bercanda Pak. "Kan kata Bapak sendiri, sebelum peluit panjang ditiup, kita belum bisa menentukan pemenang. Begitulah antara Bapak dengan kangker, bisa jadi Bapaklah yang akan menjadi pemenang. Bapak akan segera pulang."
Dan memang si bapak akhirnya pulang.
Hal menarik lain dari cerpen Richie menurut saya adalah, keakuratannnya dalam menyajikan data Sepak Bola. Pertandingan-pertandingan yang dia sebutkan itu beneran. Liga Champion. Coba saja googling sendiri di yahoo...
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Ketika orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam tulisan, saya berlomba menjadi yang terburuk. Ketika orang berlomba berusaha memperli...
-
Kita tidak bisa menyebut sebuah nama ketika pikiran lupa Ilmu datang ke dalam pikiran kita oleh Allah, dan Dia bisa menghilangkannya kapan...
No comments:
Post a Comment